Lifestyle

Bukan Cenat Cenut Biasa

51 Persen Faktor Keturunan

Wanita lebih rentan terkena migrain karena faktor menstruasi.
f. 123rf.com

Migrain bukan sakit kepala biasa. Ia bisa menyebabkan penderitanya tersiksa sepanjang hari, bahkan hingga pingsan. Yang sudah kronis memerlukan penanganan tiga dokter spesialis sekaligus.

Perasaan tak nyaman menyergap Wiwik Wijayanti berhari-hari. Badannya terasa penat namun ia abaikan karena mengingat pekerjaan yang menumpuk harus cepat ia diselesaikan.
Dari pagi hingga sore, bahkan dalam enam hari kerja, Wiwik sering lembur. Kala itu sekitar tahun 2007.

Tengah malam ia tak juga bisa memejamkan mata meskipun badannya sudah letih. Migrain yang menyerangnya membuat kepalanya sakit, benda-benda di sekitarnya seolah berputar. Ketika sudah tak tahan lagi ia rebahkan badannya di atas tempat tidur dan tak berdaya. Tangan dan kakinya terasa lemas seperti tak bertulang. Selang beberapa menit kemudian ia sudah tak ingat apa-apa lagi.

Wiwik dilarikan ke rumah sakit. Selama empat hari ia dirawat secara intensif. Jarum suntik ditancapkan ke urat nadinya. ”Selama dirawat gak berani buka mata, kalau buka pusing,” kata Wiwik Wijayanti, 39, yang ditemui Batam Pos di rumahnya di Perumahan Oma Batam Centre Blok B1/12B, Batam, belum lama ini.

Kejadian serupa tak hanya sekali dialami koordinator staf di salah satu kantor notaris di bilangan Jodoh, Batam ini. Tahun berikutnya, ia pingsan lagi karena migrain. Kali ini lebih parah, karena saat pingsan bukan di atas tempat tidur, namun saat buang air di toilet.
”Saya baru sadar setelah air yang meluap membasahi badan saya,” ungkap ibu dari Kirana Adelia Salsabila, 19, dan Jasmin Suci Dwiyanti, 16, ini.
Ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan dirawat selama dua hari.

Kini, rasa sakit dari serangan migrain itu masih menghantuinya. ”Apalagi kalau mau datang bulan. Migrain itu pasti datang,” tuturnya.

Wiwik mengakui ia termasuk orang yang tidak teratur dalam makan dan olahraga. Ia juga mengaku tidak suka mengonsumsi sayuran. ”Saya juga tidak suka makan obat atau jamu. Kalau terpaksa harus minum obat saya waswas karena saya alergi obat juga,” Wiwik menjelaskan.

Istilah migrain sendiri berasal dari Yunani yakni hemikrania yang artinya rasa sakit di salah satu sisi kepala. Migrain sudah dikenal sejak zaman Mesir kuno.
Pengobatan untuk migrain pada awal 7000 SM cukup ekstrem, yakni tengkorak si pasien dilubangi, yang dikenal dengan istilah trepanasi. William Harvey, seorang dokter di Rumah Sakit St.Bartholomew, London, bahkan merekomendasikan trepanasi sebagai suatu pengobatan untuk migrain pada abad ke-17.

Menurut dokter spesialis bedah saraf Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, dr R Hadi Sirwandanu, SpBS, migrain adalah suatu gangguan sakit kepala baik moderat atau sedang sampai berat yang berhubungan dengan sistem saraf.

Sedangkan pencetus migrain, kata Hadi, berasal dari jaringan dasar otak di batang otak, dimana ada inti-inti saraf tepi. ”Ada beberapa saraf tepi, tapi pada umumnya migrain dikaitkan dengan saraf V (trigeminal) yang fungsinya mensarafi kulit wajah dan kulit kepala,” terangnya kepada Batam Pos, beberapa waktu lalu di ruang kerjanya.
Saraf V terbagi dua, yakni di wajah kiri dan wajah kanan. ”Nah, yang khas itu biasanya unilateral atau sebelah saja yang sakit. Namun tidak menutup kemungkinan dua-duanya sakit, tapi kemungkinannya sedikit sekali,” lanjutnya.

Saraf V, kata Hadi, merupakan sistem saraf otonom yang menye-barkan ke satu sisi wajah dan kulit kepala.
Yang dimaksud dengan sistem otonom di sini pembuluh darah yang mengalir ke kepala dan otak. ”Sifatnya berbeda dengan pembuluh darah yang lain, yakni punya kemampuan untuk menutup dan melebar secara otonom,” jelas Hadi.
Di saat melebar pembuluh darah akan menekan saraf V yang menimbulkan rasa nyeri di satu sisi wajah. Begitu pun saat menutup, juga akan menimbulkan rasa nye-ri pada satu sisi wajah. ”Karena O2 (oksigen) yang dikirim sedikit sehingga menimbulkan sakit kepala,” ucapnya.
Hadi menyatakan, perjalanan migrain mempunyai empat fase, yakni fase prodromal, aura, serangan (real headache), dan fase postdromal.

Fase prodromal juga dikenal dengan istilah migrain klasik. Gejalanya bisa satu hingga dua hari. ”Biasanya pasien mengeluhkan bad mood, serta sensitif terhadap suara dan cahaya. Ini hampir 60 persen diidap pasien dengan migrain,” kata Hadi.

Pada fase aura, terjadi gangguan pada penglihatan. Durasinya sekitar 60 menit. Pada fase serangan nyeri akan terasa dari daerah tengkuk sampai satu sisi wajah. Menurut International Headache Society, 30-40 persen penduduk bumi me-ngalaminya.
Dan di fase postdromal, pasien akan lemah. Tangan serta kakinya akan lemas. ”Seperti lumpuh tapi nggak lumpuh,” kata Hadi.

”Kalau sakit seseorang sudah berulang (empat fase), itu dinamakan migrain yang kronis. Obatnya juga nggak hanya obat analgesik dan bisa melibatkan tiga dokter spesialis lainnya, seperti neurologi, anastesi, dan penyakit dalam,” Hadi menerangkan. (***)

51 Persen Faktor Keturunan
Menurut spesialis bedah saraf RS Awal Bros Batam, dr R Hadi Sirwandanu, SpBS, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan migrain, di antaranya:

– Faktor alergi (obat, makan, debu, dan alergi lainnya).
– Stres yang kaitannya dengan hormonal, nadi, dan atensi darah.
– Kelelahan.
– Rokok/nikotin.
– Alkohol.
– Pre menstruasi.
– Makanan.
– Sakit gigi (saraf V juga berhubungan dengan gigi).
Bagaimana pengobatannya? ”Tergantung dari berat ringannya, kronis atau tidak kronisnya migrain serta gejala penyertanya,” jawab Hadi.
Yang dimaksud dengan penyertanya, kata Hadi, berupa muntah-muntah atau terjadi gangguan emosional.
”Namun jika sedemikian berat, akan diberi obat bius oleh dokter anastesi.”
Sakit kepala ada beberapa jenis, yakni:

1. Sakit kepala sinusitis, yaitu sakitnya terpusat di hidung yang menyebar ke wajah.

2. Cluster headache, yaitu nyeri kepala yang terpusat di daerah mata sebelah.

3. Tension headache, yaitu sakit yang terpusat di bagian dahi. Sakit kepala jenis ini biasa menyerang pada pasien yang stres.
4. Migrain, yakni sakit kepala satu sisi wajah.

Menurut Hadi, orang yang menderita migrain karena faktor keturunan persentasenya mencapai 51 persen. Sedangkan 49 persennya karena faktor lingkungan dan spontan.
Dan di antara persentase itu, perempuan lah yang paling rentan. ”Wanita lebih rentan karena faktor menstruasi,” terangnya.

Hadi menganjurkan orang yang menderita migrain segera berkonsultasi ke dokter. Pasalnya, dokter akan mencari riwayat penyakit si pasien, setelah itu didiagnosa, baru diberi obat yang tepat. ”Sakit kepala itu sama tapi penyebabnya bisa berbeda-beda,” ujarnya.
”Pencegahannya olahraga yang rutin, menjaga pola makan, dan istirahat yang cukup,” katanya. (*)

Reporter & Editor: Yusuf Hidayat