History

Sengketa Dua Tetangga

Konfrontasi Indonesia-Malaysia

Bermula dari keinginan Inggris yang hendak menggabungkan wilayah koloninya di Kalimantan (Sabah dan Sarawak) dengan koloni di Semenanjung Malaya pada 1961, Indonesia dan Malaysia harus terlibat peperangan.
Presiden Sukarno menentang rencana itu. Ia berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Namun Malaysia bergeming. Federasi Malaysia tetap dibangun, meski Brunei menolak bergabung di dalamnya.
Sikap ngotot Malaysia memancing kemarahan Presiden Sukarno. Dalam sebuah pidato yang monumental, ia menyatakan perang dengan Malaysia. Berikut cuplikan pidatonya:

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu djuga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang adjar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan, kita hadjar tjetjunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat djangan sampai tanah dan udara kita diindjak-indjak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku bakal berangkat ke medan djuang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang enggan diindjak-indjak harga dirinja

Peristiwa ini dikenal dengan istilah ”Konfrontasi Indonesia-Malaysia”. Dari peristiwa ini, sebuah slogan dicetuskan Presiden Sukarno dan dikenang seluruh rakyat Indonesia hingga hari ini, ”Ganyang Malaysia”.
Slogan itu kerap digunakan rakyat Indonesia ketika terjadi perselisihan dengan Malaysia, semisal dalam kasus penanganan tenaga kerja Indonesia, pelanggaran batas wilayah di kedua negara, hingga ke panggung olahraga.
Berikut garis waktu sejarah konfontrasi Indonesia-Malaysia:

8 Desember 1962
Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, merebut ladang minyak dan menyandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura.

16 Desember 1962
Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi.

20 Januari 1963
Menteri Luar Negeri Indonesia, Soebandrio mengumumkan sikap bermusuhan dengan Malaysia.

17 April 1963
Pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.

27 Juli 1963
Presiden Sukarno memproklamirkan Ganyang Malaysia.

16 September 1963
Federasi Malaysia resmi dibentuk. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.

17 September 1963
Demonstrasi anti-Indonesia merebak di Kuala Lumpur.

3 Mei 1964
Presiden Sukarno mengumumkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora), yang isinya: Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia; Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia.
Mei 1964
Pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya. Dibentuk Komando Siaga yang bertugas untuk mengkoordinir kegiatan perang terhadap Malaysia (Operasi Dwikora). Komando ini kemudian berubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga).

Agustus 1964
Enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut Diraja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service (SAS).
16 Agustus 1964
Pasukan dari Rejimen Askar Melayu Diraja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.

17 Agustus 1964
Pasukan terjun payung Indonesia mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya.

2 September 1964
Pasukan terjun payung Indonesia didaratkan di Labis, Johor.

29 Oktober 1964
52 tentara Indonesia mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan membunuh pasukan Resimen Askar Melayu Diraja dan Selandia Baru, dan menumpas juga Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.

20 Januari 1965
Indonesia menarik diri dari PBB setelah organisasi tersebut menerima Malaysia sebagai anggota.

Januari 1965
Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service.

28 Juni 1965
Militer Indonesia menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Diraja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.

1 Juli 1965
Militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5.000 orang menyerang pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Peristiwa ini dikenal dengan ”Pengepungan 68 Hari” oleh warga Malaysia.

Akhir 1965
Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S/PKI. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.

28 Mei 1966
Di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian. (***)

Reporter & Editor : Ratna Irtatik