Sport

Batas Gaji Pemain NBA Masih di Angka Rp 1,5 T

F. JAWAPOS.COM
Bintang Los Angeles Lakers LeBron James (kiri) dan bintang Los Angeles Clippers Kawhi Leonard beraksi pada pertandingan NBA musim reguler 2019-2020.

ORLANDO (BP) – Banyak pihak memprediksi bahwa salary cap NBA musim depan bakal terjun bebas akibat terpaan krisis kesehatan global yang mendera seluruh dunia. Namun, hal itu sepertinya tidak akan terjadi. Paling tidak itu menurut prediksi mantan Wakil Presiden Memphis Grizzlies John Hollinger.

Kepada The Athletic, Hollinger mengatakan bahwa salary cap NBA tidak akan terjun bebas karena sudah ada mekanisme keuangan yang mengatur hal itu. Dia menyebut, salah satu aturan yang berlaku di mekanisme tersebut adalah pendapatan pemain tidak berkaitan secara langsung dengan basketball related income (BRI) setiap tim.

“Aturan ini diberlakukan memang untuk melindungi pemain atau tim dari lonjakan maupun penurunan nilai gaji secara drastis,” jelas Hollinger dilansir NBC Sports.

Hollinger menambahkan, dirinya memprediksi salary cap untuk NBA musim 2020–2021 tetap berada di kisaran USD 109 juta (Rp 1,5 triliun). Musim ini NBA menerapkan salary cap USD 109,14 juta (Rp 1,553 triliun).

Jika prediksi Hollinger itu benar, para pemain NBA patut bersyukur. Penyebabnya, pada awal-awal musim NBA berhenti total akibat Covid-19, muncul desas-desus yang menyebut salary cap bakal turun hingga tak sampai menembus angka USD 100 juta (Rp 1,4 triliun).

Mekanisme keuangan yang dibocorkan Hollinger tersebut sebenarnya tak hanya menguntungkan pemain. Klub juga mendapat perlindungan karena tidak akan menghadapi lonjakan nilai gaji saat mereka mendapatkan kontrak tambahan dari sponsor.

Sebelum mekanisme keuangan itu aktif digunakan, Hollinger menyebut sempat ada kejadian lonjakan salary cap. Yakni, pada 2016. Saat itu NBA baru menandatangani kontrak anyar dengan jaringan televisi pemegang hak siar. Nilai kontraknya naik signifikan.

Hasilnya, salary cap pada tahun tersebut ikut melambung. Dari USD 70 juta (sekitar Rp 997,5 miliar) pada 2015 menjadi USD 94 juta (setara dengan Rp 1,34 triliun) pada tahun berikutnya.

“Dengan aturan mekanisme keuangan ini, semua perubahan kontrak diharapkan bisa berjalan mulus di NBA,” ucap Hollinger.

Berlanjutnya musim 2019–2020 di Orlando, Florida, mulai bulan depan turut menjamin bahwa salary cap tidak akan turun. Sebab, dengan menggeber musim reguler dan playoff, NBA terhindar dari kerugian yang mencapai USD 2 milar atau lebih dari Rp 28,5 triliun.

Jika itu terjadi, memang efeknya bisa merembet ke salary cap. Analisis para ahli saat itu, jika musim dibatalkan sampai ke playoff, akan ada penurunan salary cap hingga USD 10 juta atau sekitar Rp 142,5 miliar per tim. (*)

Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG