Metropolis

Debit Air Naik 37 Sentimeter

Stamet: Hujan Buatan Tak Meleset

F. Dalil Harahap/Batam Pos
Volume air di Dam Duriangkang di Seibeduk, belum mendekati batas pelimpah atau spillway. Foto diambil Senin (22/6).

SEIBEDUK (BP) – Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mengudara di atas langit Batam selama 13 hari melaksanakan kegiatan teknologi modifikasi cuaca (TMC) berupa hujan buatan. Selama tempo waktu tersebut, level elevasi atau debit air Waduk Duriangkang sudah naik sebanyak 37 sentimeter (cm). Hujan buatan masih terus akan berlangsung hingga 11 Juli mendatang.

”Secara total di Duriangkang naik 37 sentimeter, dimana evaluasi di hari terakhir naik 2,4 sentimeter,” kata Koordinator TIM TMC BPPT, Budi Harsoyo di posko BPPT, Bandara Hang Nadim, Batam, Rabu (24/6).

Dalam prosesnya, tim ini selalu bersiap menunggu datangnya awan potensial yang dapat disemai. Setelah menemukannya, maka BPPT pun terbang mengudara selama satu jam menaburkan flare (kembang api) untuk menyemai awan. Setelah satu hingga empat jam, maka hujan pun akan turun. Tim BPPT fokus menyemai awan yang berada di atas Waduk Duriangkang.

”Dalam sehari itu, bisa terbang sebanyak dua kali sejak pagi dan selesai pukul 17.00 WIB. Khusus untuk Batam, kami hanya bisa terbang di bawah dasar awan dengan ketinggian 1.500 hingga 2.000 kaki,” ungkapnya.

Dengan ketinggian seperti itu, maka flare yang didatangkan dari Amerika itu merupakan metode yang cocok untuk digunakan. Sedangkan dengan metode umum yakni menyemai awan dengan garam, maka tim BPPT harus terbang di atas ketinggian 3.000 kaki. ”Untuk Batam, di atas 3.000 kaki masih jadi otoritas Singapura. Jadi harus izin dulu ke sana,” imbuhnya.

Kelak, jika hujan buatan berakhir, maka Budi menyebut airnya bisa bertahan hingga masuk musim hujan tahun depan.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) Hang Nadim Batam, Addi Setiadi mengatakan, pelaksanaan TMC juga mempertimbangkan kondisi cuaca di Batam yang memang masuk dalam musim penghujan.

”Jadi, hujan ini merupakan fenomena regional virulen belokan angin dan konvergensi serta ditambah temperatur yang hangat. Itu yang efektif membuat hujan, bukan karena penyemaian TMC,” ungkapnya.

Hujan diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir Juni mendatang. ”Jadi, tiap terbentuknya awan hujan, masih memungkinkan terjadinya hujan lokal,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Hang Nadim, Suratman menyatakan, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilaksanakan tidak meleset. Karena, semuanya telah dihitung dan dikalkulasikan, sehingga awan pembawa hujan akan turun di tempat yang ditentukan.

”Kami (tim Stamet Hang Nadim) setiap hari selalu berkoodinasi dengan pihak BP Batam,” katanya, Rabu (24/6).

Suratman mengatakan, Stamet Hang Nadim selalu memberikan data mengenai arah angin, kecepatan angin, awan, dan ketinggian awan. Data-data tersebut diolah, sehingga dapat memperkirakan pergerakan awan dan memetakan potensi turunnya hujan di tempat yang telah ditentukan.

”Jadi begini, 30 menit atau 1 jam disemai dulu. Misalnya arah angin dari utara, maka hujan akan turun di kawasan Duriangkang,” ungkapnya.
Suratman juga menyebut, kemungkinan awan meleset dari target lokasi turunnya hujan itu sangat minim. Namun, katanya, untuk detailnya dapat menanyakan data tersebut ke BP Batam.

”Kalau ditanya soal hujan saat ini. Memang fenomena cuaca yang terjadi di Batam, seperti ini. Mei dan Juni, puncak hujan tertinggi selain Desember dan Januari,” ucapnya.
Walaupun hujan, namun intensitasnya tidak seperti beberapa waktu lalu. Hujan yang turun dengan intensitas sedang.

”Fenomena ini akibat adanya belokan angin, ditambah kelembaban udara di awan masih cukup tinggi. Kondisi di atas (awan) masih basah, lalu temperatur air laut masih hangat. Sehingga pembentukan awan jadi cukup cepat,” ujarnya. (*)

Reporter : Rifki S, FISKA J
Editor : RATNA IRTATIK