KANTOR Pelayanan Bea Cukai Batam. Foto: beacukai.go.id

BATAM (BP) – Kejaksaan Agung menahan tiga pejabat Kantor Bea Cukai Batam pada Rabu (24/6) malam terkait dugaan manipulasi data impor 566 kontainer produk tekstil dengan tujuan mengurangi bea masuk yang harus dibayar oleh importir.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Hari Setiyono, menyebutkan tiga orang yang ditahan tersebut adalah Kamaruddin Siregar, Kepala Seksi Pelayanan Pabean dan Cukai (PPC) II Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai Batam; Dedi Aldian, Kepala Seksi PPC III KPU Bea Cukai Batam; Haryono Adi Wibowo, Kepala Seksi Pabean dan Cukai I pada KPU Bea Cukai Batam.

Sebelum dijadikan tersangka, ketiganya menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Setelah melalui gelar perkara yang diikuti langsung Jaksa Agung ST. Burhanuddin, mereka ditetapkan sebagai tersangka bersama dua orang lainnya, yaitu Mukhammad Muklas, Kabid PFPC KPU Bea Cukai Batam dan Irianto, pemilik PT Fleming Indo Batam dan PT Peter Garmindo Prima selaku importir 566 kontainer produk tekstil.

Impor produk tekstil asal India sebanyak 566 kontainer itu berlangsung sejak 2018 hingga April 2020.

Para tersangka diduga mengubah invoice dengan nilai yang lebih kecil untuk mengurangi Bea Masuk yang harus dibayar oleh PT FIB dan PT PGP. Selain itu, mereka juga mengurangi volume serta jenis barang dengan tujuan mengurangi kewajiban Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMTPS) dengan cara menggunakan Surat Keterangan Asal (SKA) yang tidak benar.

Hal tersebut menjadi salah satu penyebab banyaknya produk kain impor di dalam negeri sehingga menjadi penyebab kerugian perekonomian negara.
(*)

Reporter: EGGI IDRIANSYAH
Editor: MUHAMMAD NUR