Home

OTG Positif Hanya Dirawat 10 Hari

WN Tiongkok Positif Covid-19 Bertambah

Salah satunya anak-anak yang sembuh dari PDP dan pasien yang sembuh dari cvid-19 yang sembuh boleh pulang dari RSUD Embung Fatimah, Batuaji, Sabtu (20/6). F. Dalil Harahap/Batam Pos

BATAM (BP) – Pemerintah mengambil keputusan untuk mempersingkat masa perawatan pasien positif dari kategori orang tanpa gejala (OTG). Pasien OTG diperbolehkan kembali ke rumah setelah mendapatkan perawatan selama 10 hari saja.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Didi Kusmarjadi membenarkan hal ini. Di Batam sendiri, lebih dari 60 persen pasien positif yang ada saat ini merupakan OTG. Berdasarkan penjelasan dari WHO, pasien OTG dalam 10 hari perawatan, sudah tidak menularkan virus yang ada pada tubuh mereka.

“Itu klaim dari WHO. Sementara ini, aturan tersebut masih dibahas di Kemenkes. Sepertinya akan diterapkan di Indonesia, namun masih menunggu pembahasan ini selesai,” kata Didi, Rabu (24/6).

Ia mejelaskan, pasien positif OTG yang mendapatkan perawatan selama ini menunjukkan kondisi yang baik dan stabil. Hal ini yang menjadikan waktu perawatan pasien di-persingkat.

Sementara untuk pasien positif dengan gejala, tetap menjalani perawatan selama tiga belas hari, dan wajib menjalani swab ulang yang menunjukkan hasil negatif. Setelah itu baru diperbolehkan pulang ke rumah. “Minimal mereka bebas gejala dulu. Setelahnya baru bisa dipulangkan,” ujarnya.

Didi menyebutkan, saat ini pasien non klaster terus bertambah. Terakhir, pasien positif berasal dari hasil swab mandiri yang dilakulan di klinik maupun rumah sakit swasta. Hasil dari kasus positif tersebut, petugas medis terus berupaya menemukan kontak primer pasien.

“Alhamdulillah, sudah tidak ada penambahan dari klaster yang selama ini ada. Tinggal yang Pasar Toss 3000 saja lagi, sebab minggu depan baru akan di-rapid test, bersamaan dengan penataan pasar,” ujar Kadis berlatarbelakang dokter spesialis kandungan ini.

Ia berharap, ketika rapid test dilakukan, tidak ada yang reaktif. Penambahan kasus menurutnya berasal dari nonklaster yang sudah ada saat ini. Penularan Covid-19 saat ini merupakan transmisi lokal. Sebab sudah tidak ada dari luar pasca ada larangan terbang beberapa waktu lalu.

“Justru yang ketahuan ini karena mereka ingin keluar Batam. Jadi, mereka tes mandiri dan hasilnya positif. Tim juga langsung turun mencari kontak primernya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, berdasarkan temuan kasus beberapa hari ini, klaster yang ada saat ini sudah tidak mengalami penambahan, termasuk Pasar Toss 3000 yang dikhawatirkan selama ini. Meskipun begitu, karena merupakan salah satu klaster yang cukup sulit, makanya untuk mencegah penularan pedagang akan di-rapid test semua.

“Petugas sudah kami siapkan. Tinggal jalan saja lagi. Untuk alat rapid test semua ada dan cukup,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Batam yang juga Wali Kota dan Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, membenarkan bahwa tidak ada penambahan kasus positif dari klaster lagi. Ia berharap ke depan benar-benar berhenti total.

Namun, kata dia, yang ada saat ini hanya pasien dari nonklaster. Termasuk satu tambahan tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok yang dinyatakan positif Covid-19, kemarin. Yaitu YG, berusia 37 tahun yang bekerja di kawasan Kabil dan tinggal di mes perusahaan yang terletak di wilayah Kabil, Telagapunggur, Nongsa.

“Dia kasus baru Covid-19 nomor 213 Kota Batam. Benar, yang bersangkutan TKA dari RRT di salah satu pabrik plastik di kawasan Industri Kabil yang merupakan teman satu negara dengan terkonfirmasi kasus nomor 204 dan bertempat tinggal satu mes, namun berbeda kamar di lokasi tersebut sejak awal Februari 2020,” ujarnya.

Rudi mengatakan, sejauh ini, kondisi YG stabil dan tidak merasakan adanya gangguan kesehatan yang berarti. “Untuk penanganan lebih lanjut kita rujuk ke RSKI Covid-19 Galang. Kita berharap tidak menjadi klaster baru,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Batam, Achmad Farkhani Tri Adranti, mengatakan, hingga saat ini dua petugas KKP masih dinyatakan positif Covid-19. Sebelumnya, delapan petugas KKP Kelas 1 Batam diketahui terinveksi virus corona, Rabu (17/6). “Alhamdulillah, keadaan umumnya baik, kondisi fisiknya sehat,” ujar Farkhani, kemarin siang.

Ia menjelaskan, selain delapan petugas, dua orang anggota keluarga juga dinyatakan positif. Kemudian seluruh petugas KKP beserta keluarga yang positif tersebut dirujuk ke RS Khusus Infeksi Pulau Galang dan RSBP Batam di Sekupang.

“Total dengan keluarga ada sepuluh orang kemarin (positif Covid-19). Ada di RSBP yang positif dengan anaknya. Kita masih tunggu sekali lagi pemeriksaan,” katanya.

Dengan terinfeksinya petugas tersebut, pihaknya kekurangan tenaga medis. Saat ini, KKP Kelas 1 Batam hanya memiliki 96 orang petugas. “Idealnya itu, KKP Kelas 1 petugasnya 175 orang. Jadi, kita antisipasi dengan tenaga honorer, dan membagi jam kerja yang lebih baik lagi,” ungkapnya.

Dia mengaku, pekerjaan petugas KKP sangat berisiko terjangkit penularan Covid-19. Sebab, para petugas tersebut menjadi garda paling depan di pintu masuk negara, khususnya Batam. Petugas ini kontak langsung dengan penumpang atau pendatang.

“Untuk potokol kesehatan di tempat kerja sudah sangat ketat kami terapkan. Bisa saja kalau ada kelalaian sedikit langsung terpapar,” tuturnya.

Protokol Kesehatan Batam Perlu Diperkuat
Di tempat terpisah, Liaison Officer (LO) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Kepri, TNI Purnawirawan Laksma Didin Zainal Abidin, mengatakan, Kota Batam menjadi salah satu atensi yang harus diperkuat penerapan protokol kesehatan. Karena penyebaran Covid-19 lebih luas dari daerah lainya di Kepri.

“Kita sudah memetakan, beberapa persoalan di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi di Provinsi Kepri. Titik yang menjadi salah satu atensi adalah entry point dan exit point yang ada di Batam,” ujar Didin, Rabu (24/6) di Tanjungpinang.

Menurutnya, berdasarkan protokol kesehatan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, bagi masyarakat yang akan mendatangi tempat keramaian, seperti pasar atau mal, selain menggunakan masker, juga wajib menggunakan pelindung wajah. Karena itu, sebagai bentuk peningkatan kewaspadaan terpapar dari Covid-19 di tempat publik.

“Secara kontinyu kami terus melaporkan kondisi terkini mengenai kasus Covid-19 di Provinsi Kepri ke BNPB. Baik itu mengenai jumlah positif, sembuh, maupun yang dalam proses lab,” jelasnnya.

Ditegaskannya, khusus Batam, pihaknya sudah mengajukan permohonan untuk dilakukan rapid test secara massal ke BNPB. Namun sampai saat ini masih belum ada keputusan dari BNPB pusat.

Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dilakukan, mengingat penyebaran Covid-19 di Kota Batam terus meningkat. Apalagi 54 persen penduduk Provinsi Kepri berada di Batam.

“Terlepas daripada itu, pemerintah daerah melalui Gugus Tugas Covid-19 sudah berupaya maksimal untuk melakukan pencegahan. Langkah ini harus didukung oleh masyarakat, yakni dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan anjuran Kemenkes,” ungkapnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana mengatakan, per 24 Juni 2020 terjadi penambahan satu kasus baru yang dikonfirmasi positif di Kota Batam. Dengan adanya tambahan tersebut, merevisi jumlah kasus Covid di Kota Batam menjadi 212 kasus (versi Gugas Batam 213, red). Sedangkan secara kumulatif di Provinsi Kepri sebanyak 285 kasus.

“Jumlah pasien Covid-19 yang dikarantina saat ini sebanyak 56 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat di Rumah Sakit sebanyak 16 orang,” ujar Tjetjep, di Tanjungpinang. (*)

Reporter : YULITAVIA
YOFI YUHENDRI
JAILANI
Editor : MOHAMMAD TAHANG