Home

Pariwisata Pulih di 2021

Ekonomi Kepri Bisa Tumbuh 1,5-1,9 Persen BI Kepri Beri Enam Rekomendasi

F. Iman Wachyudi/Batam Pos
Sejak dimulai tatanan kehidupan normal baru atau new normal, tempat-tempat rekreasi di Batam mulai ramai dikunjungi warga, seperti di kawasan wisata Golden Prawn, Bengkonglaut, Minggu (7/6) lalu. BI Perwakilan Kepri memprediksi, sektor pariwisata benar-benar akan pulih mulai Januari 2021.

Sepanjang Januari-Juni 2020, perekonomian Kepri diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 1,5 hingga 1,9 persen di tengah masa pandemi Covid-19. Berdasarkan penuturan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Musni Hardi, seluruh lini usaha utama di Kepri mengalami perlambatan, khususnya pariwisata, perdagangan, dan investasi.

“Kinerja industri pengolahan berpotensi tertahan oleh penurunan aktivitas industri di beberapa mitra dagang utama,” ujarnya melalui sambungan video telekonferensi, Rabu (24/6).

Sebagian besar produk indus-tri pengolahan berorientasi ekspor dengan bahan bakunya berasal dari Singapura dan Tiongkok. Saat ini Singapura masih lockdown. Tingkat pertumbuhan ekonomi Negeri Singa yang minus jelas akan berdampak pada Kepri.

“Singapura sendiri pada April 2020 kembali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 menjadi minus tujuh hingga minus empat persen dari sebelumnya empat persen hingga minus 1 persen pada Maret 2020,” terangnya.

Sedangkan di sektor pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan Nusantara (wisnus) masih akan terus berlanjut sepanjang tahun. “Februari turun 79 persen dan bertambah menjadi 99,51 persen pada April lalu. Tingkat okupansi hotel juga turun 38,23 persen. Begitu juga dengan tingkat kedatangan domestik yang turun 77 persen,” ungkapnya.

Persentase yang bertambah hanya lama menginap di hotel yang meningkat sebanyak 0,51 hari. Musni menyebut, sebabnya karena tamu long stay perusahaan asing dari Singapura dan Malaysia yang tidak bisa kembali karena negaranya lockdown. Ada juga tamu yang sengaja mengarantina dirinya di hotel karena curiga ia tertular Covid-19.

Musni juga menyebut, kebijakan-kebijakan baik dari Indonesia maupun dunia internasional yang berpengaruh, yakni kebijakan bebas visa kunjungan (BVK), dimana visa kunjungan saat kedatangan dan bebas visa diplomatik orang asing dari semua negara ditangguhkan sejak 20 Maret 2020.

“Lalu kewajiban 14 hari karantina di rumah yang berlaku di Singapura setelah mengunjungi sejumlah negara termasuk Indonesia. Sedangkan di Malaysia juga turut memperpanjang lockdown-nya seiring minimnya keinginan untuk berwisata karena adanya Covid-19,” ungkapnya.

Dari sisi investasi, realisasi investasi diperkirakan menurun seiring pelemahan ekonomi global sehingga banyak perusahaan yang menunda investasinya. Di triwulan terakhir 2019, investasi tumbuh 11,69 persen. Namun, di triwulan pertama 2020 anjlok di angka 4,84 persen. BI Kepri memperkirakan akan terus turun.

Konsumsi rumah tangga juga mengalami penurunan yang didorong menurunnya tingkat pendapatan masyarakarat lewat pemutusan hubungan kerja (PHK), pemotongan gaji, tunjangan hari raya (THR), dan lain-lain.

Musni menyebut, satu hal yang bisa mempertahankan perekonomian Kepri tidak tumbang adalah belanja pemerintah daerah yang justru meningkat dari 2,44 persen pada triwulan akhir 2019 menjadi 8,95 persen di triwulan pertama 2020.

Belanja pemerintah yang paling besar yakni belanja sembako yang digunakan untuk memberikan bantuan kepada warga yang mata pencahariannya terdampak Covid-19.
Khusus untuk pariwisata, penurunan jumlah wisman dari tiga negara kontributor utama, yakni Singapura, Malaysia, dan Tiongkok sebesar 100 persen.

BI Kepri menyebut, pariwisata akan benar-benar pulih pada Januari 2021. Hal itu sesuai kajian dari World Travel and Tourism Council yang menyebut pariwisata global akan pulih 10 hingga 19 bulan usai pandemi berakhir. Sedangkan IATA Economics menyebut, di triwulan tiga dan empat 2020, pariwisata Indonesia akan pulih.

Dari Kementerian Pariwisata menyebut 2021 akan pulih dengan kembali normalnya konektivitas penerbangan, perbaikan fasilitas destinasi wisata, penerapan protokol kesehatan, serta pemberdayaan UMKM. Dan dari ASITA Indonesia, pariwisata Indonesia akan pulih tiga hingga empat bulan sejak pandemi berakhir.

Pernyataan-pernyataan tersebut berlaku untuk kunjungan wisman. Sedangkan kunjungan domestik bisa lebih cepat apalagi jika lokasinya merupakan favorit wisnus.

BI Kepri memiliki sejumlah saran agar pariwista Kepri cepat pulih. Pertama, penerapan protokol kebersihan, kesehatan, dan keamanan untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan asing. Kedua, pemberian insentif fiskal untuk mendukung cash flow pelaku usaha pariwisata. Ketiga, peningkatan kualitas SDM pariwisata yang terdampak.

Keempat, mendorong promosi pariwisata dengan target wisatawan domestik serta membuat promosi pariwisata domestik. Kelima, menyusun paket bundling pariwisata. Dan keenam, memberlakukan health passport yang mewajibkan pengecekan Covid-18 sebelum berkunjung. (***)

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Editor : MOHAMMAD TAHANG