Metropolis

Perceraian Meningkat saat Pandemi

Mayoritas Disebabkan Faktor Ekonomi, Disusul Media Sosial dan KDRT

Infografis: Ilham Aidhil
Sumber: Pengadilan Agama Batam

Setelah sempat ditutup, pelayanan pendaftaran permohonan perceraian di Kantor Pengadilan Agama Kelas I A Batam kembali ramai. Sejak hari pertama dibuka pasca penghentian pelayanan karena Covid-19, sudah ada 200 permohonan yang masuk.

Humas PA Kelas I Batam, Barmawi, mengatakan, pendaftaran kembali dibuka 8 Juni lalu. Di hari pertama pendafraran, jumlah perkara yang diterima mencapai 80-100 berkas. Angka ini jauh berkali lipat bila dibandingkan sebelumnya.

”Kalau sebelum pandemi Covid-19, satu hari kami terima paling 15-20 berkas pengajuan perceraian. Mungkin karena sempat tutup tiga bulan, dampaknya langsung membeludak,” kata dia yang dijumpai di kantornya, Rabu (24/6).

Ia menyebutkan, dalam ren-tang waktu kurang lebih dua minggu, jumlah perkara yang diterima tembus angka 200 permohonan. Ia belum bisa merinci, sebab rekapan baru dilakukan akhir bulan.

”Mayoritas memang perceraian. Namun, berapa gugat dan talak dan permohonan lainnya kami belum bisa rincikan,” sebutnya.

Barmawi mengungkapkan, faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama kasus perceraian di Batam. Hal ini bisa saja disebabkan dampak dari Covid-19 yang membuat ba-nyak orang kehilangan pekerjaan sehingga mengalami kesulitan ekonomi, dan memilih berpisah.

Sementara terkait membeludaknya pendaftaran, itu karena PA Kelas I A Batam di Sekupang menghentikan laya-nan sejak Maret lalu karena pandemi. Akibatnya, banyak pasangan yang menunda mendaftarkan perceraian hingga pelayanan kembali dibuka.

Barmawi menyebutkan, dari Januari hingga 24 Juni 2020 atau sekitar enam bulan, terdapat 929 perkara perceraian yang diterima. Dengan rincian, 683 cerai gugat, dan 246 cerai talak. Dilihat dari jenis perkara, persentasenya lebih banyak perempuan yang mengajukan permohonan cerai atau cerai gugat, ketimbang laki-laki yang mengajukan cerai atau cerai talak.

”Dari total permohonan tersebut, 664 perkara berhasil diputus selama hampir enam bulan tersebut,” sebutnya.

Data dari PA Kelas I A Batam, pada 2018 lalu, ada 1.929 perkara perceraian, yang terdiri dari cerai talak 574 perkara dan cerai gugat 1.355 perkara. Sementara pada 2019 lalu, ada 1.951 perkara cerai, dengan rincian cerai talak 485 perkara dan cerai gugat 1.466 perkara.

Menghadapi masa pandemi Covid-19, persidangan cerai juga wajib menjalankan protokol kesehatan. Hal ini terlihat mulai dari pintu masuk kantor pengadilan hingga ruang tunggu. Setiap harinya, kurang lebih ada 60 pasangan yang disidangkan. Sidang digelar di tiga ruangan sidang yang ada di kantor PA Kelas I A, Sekupang ini.

”Sepertinya tidak ada penga-ruh. Meskipun pandemi, angka perceraian masih sama saja, malah cenderung mening-kat, pasca pelayanan ditutup,” imbuhnya.

Untuk faktor usia, perceraian masih didominasi usia produktif, yakni antara 20-35 tahun. Faktor selain ekonomi yang menyebabkan perceraian masih sama, yakni pengaruh sosial media, salah satu pasangan tidak kembali ke rumah, hingga isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan lainnya.

”Kami tetap berupaya agar perceraian gagal. Hal ini kami lakukan melalui proses mediasi. Besar harapan agar mere-ka bisa mengurungkan niatnya untuk berpisah,” katanya. (***)

Reporter : YULITAVIA
Editor : RATNA IRTATIK