History

Polisi Jujur, Berani, dan Sederhana

Jenderal Hoegeng Imam Santosa

Hoegeng merupakan salah satu tokoh militer dan kepolisian Indonesia yang terkenal jujur, bersih, dan tegas selama memimpin kepolisian Republik Indonesia. Hoegeng juga salah satu penandatangan Petisi 50.

Di masa jabatannya sebagai orang nomor satu di kepolisian, seorang mantan Menteri Kehakiman dihukum satu tahun akibat terbukti bersalah menerima suap Rp 40.000. Pernah juga seorang mantan Menteri Luar Negeri didenda Rp 5.000 karena dianggap teledor membawa uang titipan sebesar 11.000 dolar AS ke luar negeri. ”Pemerintahan yang bersih harus dimulai dari atas. Seperti halnya orang mandi. Guyuran air mandi selalu dimulai dari kepala,” demikian Hoegeng pernah berucap.

Sewaktu menjabat sebagai Kepala Reskrim di Medan, Sumatera Utara, Hoegeng harus berperang melawan bos dan mafia perjudian dan penyelundupan. Hoegeng menolak pemberian barang-barang mewah yang dikirim mereka ke rumah dinas Hoegeng. Ia keluar dari rumah dinasnya, menginap di hotel sederhana hingga semua hadiah mewah itu dibawa keluar dari rumah dinasnya.

Di luar kedinasan, Hoegeng terkenal sebagai musisi musik Hawaian dengan kelompoknya, The Hawaiian Seniors. Selain ikut menyanyi juga memainkan ukulele. Sering terdengar di Radio Elshinta dengan banyolan khas bersama Mas Yos.

Berikut timeline Hoegeng Imam santosa yang dihimpun dari berbagai sumber:

14 Oktober 1921
Hoegeng Imam Santosa, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah. Ayahnya seorang Kepala Kejaksaan, Sukarjo Hatmaja.

1934
Hoegeng masuk pendidikan HIS pada usia enam tahun, kemudian melanjutkan ke MULO.

1937
Menempuh sekolah menengah di AMS Westers Klasiek.

1940
Belajar ilmu hukum di Rechts Hoge School Batavia.

1942
Sewaktu pendudukan Jepang, Hoegeng mengikuti latihan kemiliteran Nippon.

1943
Mengikuti latihan militer Koto Keisatsu Ka I-Kai.
1944
Diangkat menjadi Wakil Kepala Polisi Seksi II Jomblang, Semarang.

1945
Diangkat menjadi Kepala Polisi Jomblang, Semarang.

1945-1946
Diangkat menjadi Komandan Polisi Tentara Laut Jawa Tengah. Kemudian mengikuti pendidikan Polisi Akademi dan bekerja di bagian Purel, Jawatan Kepolisian Negara.

Karir Kepolisian
Banyak hal terjadi selama kepemimpinan Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih dinamis dan komunikatif.
Kedua, adalah soal perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres Nomor 52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabak).
Perubahan itu membawa sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol. Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta Organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

1950
Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, George, Amerika Serikat.

1952
Menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya.
1956
Menjabat Kepala Bagian Reserse Kriminal Kantor Polisi Sumatera Utara di Medan.

1959
Mengikuti Pendidikan Brimob.

1960
Menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara.

1960
Menjabat Kepala Jawatan Imigrasi.

1965
Diangkat sebagai Menteri Iuran Negara.

1966
n Menjabat Menteri Sekretaris Kabinet Inti.
n Hoegeng menjabat Deputi Operasi Panglima
Angkatan Kepolisian RI.
n Deputi Men/Pangak Urusan Operasi.

5 Mei 1968
Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara menggantikan Soetjipto Joedodihardjo.

1969
Kepala Kepolisian Negara berubah nama menjadi Kapolri.

2 Oktober 1971
Hoegeng diberhentikan dari jabatannya sebagai Kepala Kepolisian oleh Presiden Soeharto, meski jabatannya belum berakhir. Setelah itu, Hoegeng ditawari menjabat sebagai diplomat di Belgia. Namun, Hoegeng menolaknya. Ia menganggap dirinya bukanlah seorang politisi, melainkan polisi. Akhirnya Hoegeng memilih menjadi orang biasa. Hoegeng digantikan Drs Mohamad Hasan.

14 Juli 2004
Hoegeng kembali kepada Sang Pencipta dengan damai pada usia 82 tahun. Pesan terakhir kepada keluarganya adalah ingin dimakamkan di tempat pemakaman umum dan bukan di taman makam pahlawan. Maka, ia dikebumikan di TPU Giri Tama, Bogor.

Semoga nilai-nilai kejujuran dan keberanian seorang Hoegeng menjadi nilai positif dan inspirasi bagi kita semua. Satu pesan yang sering ia sampaikan, ”Sangat baik untuk menjadi orang penting, tapi jauh lebih penting menjadi orang baik.” (***)

Reporter & Editor : RATNA IRTATIK