Home

Sudah Produksi Lebih 500 Unit, Dikirim hingga Spanyol dan Prancis

Yogi Hermawan dan Ratusan Karya Vespa Tank Miliknya

F. FAJAR RAHMAD/Jawa Pos Radar Kediri
Salah satu karya vespa tank dari Yogi Hermawan yang dikerjakan dari bengkel rumah miliknya.

Pendidikannya ‘hanya’ sampai SMP. Tapi berbekal kecintaan terhadap vespa, terciptalah banyak kreasi vespa tank yang indah. Semua dipelajarinya secara otodidak.

BEBERAPA kerangka motor vespa bekas tertata rapi di depan rumah berwarna putih. Terlihat memenuhi rumah yang berukuran 8×20 meter di Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri itu.

Itulah rumah Yogi Hermawan Saifullah. Pria yang biasa dipanggil Yogi itu mendapatkan barang bekas itu dari teman-temannya di luar kota. Semua dibongkar untuk dirakit kembali. Menjadi vespa unik yang berbentuk tank.

Pria 30 tahun ini mengawali produksi vespa tank miliknya sejak 2012. Saat itu, dia mendapat permintaan dari temannya. “Teman minta mengubah bentuk vespa yang belum pernah ada di Indonesia,” tutur Yogi.

Kemudian, Yogi mewujudkan konsep bentuk vespa temannya itu dengan langsung merakit di bengkel samping rumahnya. Dia lalu mencari mesin dan kerangka motor vespa dari teman komunitas. “Karena untuk merakit vespa tidak ada bahan yang baru. Jadi, saya mencari vespa bekas dan pasti mencari yang masih kualitas bagus Mas,” ucap Yogi yang baru saja mengirim barang ke Mojokerto.

Rata-rata vespa dibuat selama kurun waktu satu hingga dua bulan. Setelah jadi, ternyata banyak yang menyukai hasil karyanya. Permintaan pun berdatangan. Apalagi, setiap modifikasi vespa buatannya itu, dia selalu mempromosikan lewat media sosial. Sehingga, banyak yang tertarik.

Sejak 2012 hingga saat ini, Yogi telah memproduksi vespa tank lebih dari 500 unit. Peminatnya pun tidak hanya orang Kediri, bahkan orang luar kota dan pernah dari luar negeri.

Banyak latar belakang yang berminat dengan motor vespanya. Beberapa pelanggan yang belum paham vespa sempat mengeluh barang rakitan Yogi. Ada yang mesinnya belum cocok, juga karena kerangkanya yang kadang belum seperti keinginan pelanggan.

Para pelanggan ada yang protes jika mesinnya tidak sama dengan kualitas pabrik. “Ya jelas beda Mas, vespa tank saya kan rakitan sendiri dan barangnya juga bekas,” jelasnya dengan mengelus vespa tank yang baru dirakit.

Kendala lain ketika pandemi corona seperti ini, sering mengalami masalah pengiriman yang tertunda. Meski begitu, dia tetap mengusahakan produksi terus berjalan seperti biasa. Tapi di sisi lain, tiap tahun peminat vespa tank produksinya terus meningkat.

Puncaknya ketika 2014 hingga 2016, seiring menjamurnya komunitas vespa di Tanah Air.
Tak hanya itu, modifikasinya juga menarik minat warga Spanyol dan Prancis. Mereka tertarik ketika melihat unggahan video vespa tank di media sosial. Setelah itu, mereka kemudian memesan vespa karya Yogi itu. Tak tanggung-tanggung, mereka membeli delapan unit. Dua unit dikirim ke Prancis, dan enam unit ke Spanyol. “Gara-gara pesanan ini, saya juga sempat diwawancarai media luar negeri,” kenang pria yang masih single ini.

Melihat keterampilannya itu, tak banyak yang tahu kalau Yogi benar-benar belajar modifikasi vespa secara otodidak. Bahkan, dia hanya bersekolah hingga SMP. Bekalnya hanya satu. Mencintai vespa. Bahkan, motor berbodi lebar ini sudah menjadi kecintaan keluarga. Ayahnya sejak muda telah memiliki vespa, hingga Yogi didukung mendirikan bengkel sendiri.

Karena itu, Yogi lantas belajar servis dan modifikasi vespa. Semua ilmu didapatkannya dari mengikuti komunitas vespa. Vespa tank rakitannya semakin terkenal karena Yogi lebih dulu bergabung dengan komunitas vespa bernama Scooter Rosook Jahanam (RSJ).
Dia bergabung sejak 2007 mengenal jaringan pertemanan vespa. Hingga memutuskan pada 2009 dia mendirikan bengkel tempatnya berkarya.

Selain itu, seiring dikenalnya vespa tank miliknya. Banyak penggemar vespa dari luar kota yang meniru barang ciptaannya. Meski dilakukan tanpa izinnya, dia ikhlas. “Kan sama-sama penyuka motor vespa. Tidak apa-apa,” pungkasnya seraya tersenyum. (*/dea)

Reporter: FAJAR RAHMAD
Editor : MOHAMMAD TAHANG