Home

Industri Berangsur Normal

Pengusaha Berharap Insentif dan Perbaikan Kebijakan

F. Dokumentasi Batam Pos
Kawasan Industri Kabil difoto dari udara. Sejak tatanan new normal, aktivitas produksi perusahaan-perusahaan di Batam mulai berangsur normal dan kembali bangkit.

Aktivitas produksi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Batam berangsur-angsur normal. Ini menunjukkan sektor industri mulai bangkit. Salah satunya di Kawasan Industri Kabil yang mulai menunjukan pergerakan positif sejak diberlakukan new normal.

Namun, pergerakan tersebut belum memberikan dampak secara signifikan. Para pengusaha sangat berharap situasi pandemi Covid-19 di Batam segera berakhir. Pelaku usaha meyakini, jika kurva Covid-19 di Batam menurun, maka Batam bisa mulai membuka diri lebih luas pada dunia untuk peluang bisnis kembali.

Selama pandemi ini, industri tidak dapat berproduksi secara maksimal. Karena dibatasi dengan berbagai hal. Oleh sebab itu, pelaku industri berharap Covid-19 di Batam dapat diatasi dengan cepat dan tepat oleh pemerintah dan pihak terkait lainnya.

Humas Citramas Group, Reggy Djakarya, mengatakan, selama pandemi Covid-19, memang memberikan gangguan terhadap produksivitas perusahaan yang ada di Kawasan Industri Kabil.

“Ada tenant yang melaporkan pasokan bahan baku relatif lancar. Namun, ada juga beberapa perusahaan melaporkan bahan baku mengalami keterlambatan. Terutama bahan baku dari beberapa negara yang menerapkan aturan pembatasan atau lockdown,” katanya, Kamis (25/6).

Sedangkan untuk pengiriman barang, Reggy menyebutkan, para tenant atau perusahaan, ada yang mengungkapkan lancar tanpa kendala. Namun, ada juga beberapa perusahaan mengakui pengiriman belum lancar. “Ya itu, akibat kebijakan pembatasan di negara tujuan ekspor akibat pandemi Covod-19,” ungkapnya.

Kendala yang dihadapi para pelaku industri saat ini, kebanyakan karena menurunnya permintaan pasar. Baik untuk kebutuhan dalam negeri, maupun luar negeri. Lalu juga ditundanya beberapa proyek besar, baik pesanan dari dalam maupun luar negeri.

Sedangkan kendala di Sumber Daya Manusia (SDM), Reggy mengaku, para tenant di Kabil mengeluhkan TKA (Tenaga Kerja Asing) yang berkepentingan bekerja di Batam, masih belum dapat kembali. Akibatnya, ada beberapa proyek yang tertunda pelaksanaannya.

“Namun, bisa kami katakan, walaupun ada kendala dan hambatan, secara umum masih bisa berjalan atau berproduksi,” ujarnya.

Minta Biaya Logistik Dikurangi
Reggy juga menyampaikan, dari pengakuan para tenant di Kabil, hampir semuanya meminta insentif agar bisa terus bertahan di tengah situasi sulit saat ini. Untuk itu, mereka berharap ada insentif dari pemerintah.

Insentif yang dibutuhkan salah satunya penurunan bea masuk barang. Kemudian, relaksasi atau kemudahan pengeluaran barang dari area FTZ ke wilayah Indonesia lainnya.

Selain itu, sejumlah tenant juga meminta pemerintah memangkas biaya logistik kontainer yang saat ini dirasakan masih sangat mahal dan memberatkan pelaku industri yang umumnya produksinya berorientasi ekspor.

Khusus untuk Pemerintah Kota (Pemko) Batam, para pelaku industri meminta agar Pemko Batam tak menaikkan nilai jual objek pajak (NJOP) yang jadi dasar penetapan besaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk tahun 2020 dan 2021.

“Kami juga berharap secepat mungkin tenaga kerja asing (TKA) diberi kemudahan masuk agar aktivitas kerja yang membutuhkan kebijakan dan keterampilan mereka, segera bisa dilanjutkan,” tuturnya.

Tak hanya itu, Reggy juga mengungkapkan keluhan pengusaha, yakni masih adanya kebijakan-kebijakan yang memberatkan dan menganggu jalannya produksi. Salah satunya harga gas bumi yang mahal. Sehingga, mereka meminta pemerintah dapat meninjau ulang harga gas untuk industri. “Sekarang kan masih di harga USD 8.87/MMBTU,” sebut Reggy.

Masalah kelistrikan juga menjadi sorotan para tenant di Kabil. Reggy mengungkapkan, permohonan penyambungan untuk tenant baru, PLN menerapkan harga premium. Sehingga Batam menjadi kurang kompetitif di bandingkan dengan beberapa negara lainnya di Asia Tenggara.

Harga premium ini juga tidak dibarengi dengan kualitas layanan yang premium. Acap kali, pasokan kelistrikan untuk Industri blackout tiba-tiba. “Sehingga tidak reliable pasokan listrik ke industri. Kami berharap ada perbaikan layanan dan perbaikan harga untuk sektor industri agar industri di Batam bisa kompetitif,” harapnya.

Soal penerimaan tenaga kerja, Reggy mengakui tetap ada, namun tidak seramai tahun lalu, saat sebelum ada pandemi Covid-19. “Tenant-tenant kami di Kawasan Industri Kabil sudah mulai melakukan proses rekrutmen tenaga kerja. Namun, dalam skala kecil. Belum banyak,” ungkapnya.

Selama pandemi, seluruh perusahaan yang ada di Kawasan Industri Kabil menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Reggy mengungkapkan, setiap karyawan dan tamu hendak memasuki kantor, selalu dicek suhu tubuhnya. “Setelah jam istirahat pun tetap dicek suhunya,” jelasnya.

Karyawan dan tamu, juga wajib menggunakan masker. Apabila ada karyawan yang mengalami batuk, pilek, demam, dan susah napas, pihak perusahaan sudah menyediakan ruang isolasi bagi yang dicurigai terjangkit Covid-19.

“Kami juga mendorong pekerja untuk mampu deteksi diri sendiri (self-monitoring) dan melaporkan apabila mengalami batuk, pilek, demam, dan susah nafas, selama bekerja,” ujarnya.

Lalu bagi pekerja yang baru kembali dari daerah terjangkit Covid-19, diwajibkan melakukan karantina mandiri di rumah dan pemantauan mandiri selama 14 hari.

Tak hanya itu, di setiap titik disedikan hand sanitizer, sabun cuci tangan, dan sarana untuk cuci tangan menggunakan air mengalir. “Serta memberikan suplemen dan vitamin kepada karyawan,” terangnya.

Bagi pekerja yang usianya di atas 50 tahun, hanya boleh bekerja di sif pagi. Pengaturan jarak antarpekerja minimal 1 meter pada setiap aktivitas kerja juga dilakukan. Selain itu, setiap perusahaan juga menganjurkan karyawan tidak melakukan kontak tubuh secara langsung seperti bersalaman.

“Mewajibkan karyawan untuk senantiasa mempraktikkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Melakukan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat yang ramai,” bebernya. (***)

Reporter : FISKA JUANDA
Editor : MOHAMMAD TAHANG