Home

Ekspor-Impor Batam Turun

Dampak Pandemi Covid-19

F. Dalil Harahap/Batam Pos
Pekerja menggesa pembangunan modul di kawasan industri galangan kapal Tanjunguncang, Batuaji, Minggu (28/6).

BATAM (BP) – Kinerja industri pengolahan selama masa pandemi Covid-19 stagnan. Imbasnya turut mempengaruhi kinerja ekspor dan impor Batam di bulan April yang cukup melambat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, nilai ekspor Batam pada April 2020 mencapai 687 juta dolar Amerika atau turun sebesar 14,12 persen dari bulan sebelumnya. Sedangkan nilai impor mencapai 690,27 juta dolar Amerika atau turun 2,67 persen dibanding Maret 2020.

“Ekonomi global memang sedang alami perlambatan, tapi perlahan mulai membaik. Data Juni menunjukkan kontraksi sebesar 3,9 persen. Tidak terlalu dalam dan menunjukkan ada sedikit harapan bahwa volume perdagangan tidak terlalu dalam turunnya,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni Hardi, Jumat (26/6) pekan lalu.

Kinerja ekspor yang melambat disebabkan karena pertumbuhan ekonomi negara-negara yang menjadi mitra Batam dalam ekspor juga mengalami penurunan yang cukup signifikan.

“Secara global, perekonomian terkontraksi 2,2 persen. Di Amerika hanya tumbuh 3,7 persen. Di Eropa minus 6 persen, di Jepang minus 5 persen. Tiongkok yang sering tumbuh diatas 6 persen hanya tumbuh 1,8 persen,” tambahnya.

Seperti diketahui, perekonomian Batam sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi global. “Ketika ekonomi global sedang alami perlambatan, kondisi pasar keuangan juga alami penurunan. Di pasar saham, tingkat volatilitas turun. Ini tentunya jadi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah karena ketidakpastian ini,” jelasnya lagi.

Secara keseluruhan, perekonomian Kepri di triwulan pertama tumbuh hanya 2,06 persen. Padahal di triwulan terakhir 2019, tingkat pertumbuhannya sempat pulih di angka 5,21 persen. “Perlambatan ekonomi karena pandemi memang tidak bisa dihindarkan,” ujar Musni.

Penurunan berasal dari melambatnya ekspor jasa, khususnya pariwisata dan investasi, dengan sektor yang paling terdampak yakni sektor perdagangan, hotel, dan restoran, konstruksi, dan subsektor transportasi.

Tapi ia mengaku bersyukur karena industri pengolahan yang jadi tonggak utama perekonomian Kepri justru mengalami kenaikan walaupun pertumbuhannya agak stagnan.
Di triwulan terakhir 2019, tingkat pertumbuhannya mencapai 4,15 persen dan di triwulan pertama 2020 tumbuh menjadi 4,29 persen. “Sektor industri pengolahan masih terjaga didukung oleh stok bahan baku yang diperoleh sebelum pandemi,” terangnya.

Meskipun begitu, pembatasan sosial di sejumlah negara yang menjadi mitra Batam akan berkontribusi pada melambatnya kinerja ekspor dan impor di Kepri.

Terpisah, Wakil Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing mengatakan, dari April hingga Mei, kinerja ekspor memang agak lesu. Ada dua penyebab utamanya. Pertama, pengaruh lockdown Malaysia. Kedua, banyak libur di bulan Mei. Libur tanggal merah yang banyak mempengaruhi efektivitas produksi.

Sebenarnya, sebelum pandemi, banyak perusahaan asing di Batam yang mau berekspansi besar-besaran, baik penambahan mesin, karyawan, dan lini usaha. Tapi mereka urungkan niat. Lalu, sejak pembatasan sosial mulai berkurang, perusahaan-perusahaan itu banyak mendatangkan mesin-mesin baru untuk produksinya. “Kalau dari Singapura, arus keluar masuk barang tidak ada masalah, hanya arus manusianya yang belum boleh. Tapi kalau dari Malaysia, justru masih menutup kedua-duanya,” tuturnya.

Kegiatan industri memang mulai berangsur-angsur normal seperti sedia kala. Bahan baku juga masuk kembali. “Kita bisa katakan mulai pulih, bahkan beberapa ada yang sudah memberikan lembur over time karena ada kenaikan permintaan,” paparnya.

Kendala yang terjadi saat ini adalah mesin bisa masuk, namun operatornya tak bisa masuk karena Indonesia masih melarang orang asing berkunjung ke dalam negeri.

“Bagaimana mau pasang mesin. Untuk men-setting mesin butuh tenaga ahli. Mereka tidak akan ambil alih kerjaan dari orang lokal. Dua minggu pun mereka akan pulang kembali. Jadi tinggal diberi pengecualian atau dispensasi saja agar ekspansi industri di Batam bisa berjalan,” jelasnya.

Situasinya menjadi dilematis karenna di saat pemerintah berjuang keras menghadapi pandemi, industri juga banyak yang mau memperluas usahanya.

Transaksi Digital Meningkat
Sementara itu, meski kinerja ekspor-impor menurun, namun ada juga yang mengalami peningkatkan di saat pandemi Covid-19. Terutama setelah adanya kewajiban physical distancing yang mengakibatkan banyak orang menghindari tatap muka dengan orang lain. Termasuk dalam bertransaksi.

Aktivitas transaksi digital justru semakin meningkat karena masyarakat mendapatkan pilihan mudah tanpa membuat dirinya berada dalam risiko. “Selama pandemi, volume transaksi digital menggunakan uang elektronik menunjukkan peningkatan. Di April saja tercatat 1,34 juta transaksi dengan nominal Rp 128,28 miliar meningkat dari transaksi bulan sebelumnya,” kata Musni.

Musni juga menyebut, peningkatannya sebesar 34 persen transaksi digital ini juga ditunjang bertambahnya merchant-merchant yang menggunakan sistem Quick Response Code Indonesian Standart (QRIS).

QRIS adalah standar pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia agar proses transaksi berjalan lebih mudah, cepat dan terjaga keamanannya. Satu QR Code berlaku untuk seluruh transaksi dengan menggunakan aplikasi transaksi digital apapun. “Seiring peningkatan tersebut, jumlah merchant QRIS di Kepri bertambah dari 15.421 unit pada akhir 2019 menjadi 35.343 unit pada 19 Juni 2020,” ucapnya.

Jumlah merchant QRIS di Kepri paling banyak berada di Batam sebanyak 28.230 unit disusul Tanjungpinang sebanyak 4.681 unit dan Bintan sebanyak 1.340 unit. Tapi, sebagai ganti dari peningkatan transaksi digital, secara keseluruhan jumlah transaksi tunai menurun pada masa pandemi ini. “Mei 2020, dimana saat Lebaran, net outflow terkontraksi minus 77,1 persen (yoy) yang menunjukkan adanya penurunan transaksi tunai,” ujarnya.

Realisasi outflow pada Mei lalu sebesar Rp 1,16 triliun atau dibawah perkiraan awal sebesar Rp 2,4 triliun, dan lebih rendah dari periode Mei lalu sebesar Rp 2,5 triliun. “Penurunan ini didorong oleh pergeseran cuti Lebaran, larangan mudik, dan pembatasan sosial,” ucapnya. (*)

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Editor : MOHAMMAD TAHANG