Politika

Kampanye Tak Bisa Digital Penuh

F. Cecep Mulyana/Batam Pos
Kampanye terbuka pilpres yang digelar DPD PDIP Kepri yang digelar di lapangan Legenda Malaka, Senin (1/4/2019) lalu.

JAKARTA (BP) – Pelaksanaan Pilkada di masa pandemi Covid-19 membuat aktivitas kampanye tatap muka dibatasi. Sebagai gantinya, penggunaan alat peraga dan kampanye media akan banyak digunakan. Media mainstream atau media arus utama disebut masih cukup efektif untuk menyampaikan pesan.

Hal itu didasarkan dari survei yang dilakukan Politika Research & Consulting (PRC). Direktur Media & Komunikasi Publik PRC Dudi Iskandar mengatakan, rencana penyelenggara memaksimalkan penggunaan digitalisasi dalam kampanye Pilkada 2020 menghadapi tantangan yang tidak mudah. Pasalnya, tidak semua pemilih memiliki akses tersebut.

“Dari 270 daerah pemilihan, sebagian besar dipedesaan,” ujarnya dalam diskusi, Minggu (28/6). Fakta itu, lanjutnya, menjadi problem tersendiri bagi pelaksanaan kampanye digital.

Dan berdasarkan kajian yang dilakukan PRC tahun ini, lanjutnya, penggunaan smartphone atau telepon dengan fasilitas internet di Indonesia belum menjangkau semua masyarakat. Di mana hanya 58 persen saja yang menggunakannya. “40 persen mengatakan tidak memiliki,”imbuhnya. Itupun, sebagian besar dipergunakan untuk percakapan whatsapp. Baru setelahnya digunakan untuk sosial media.

Sebagian masyarakat, kata Dudi masih menggunakan media mainstream untuk menjaring informasi. Mulai dari media cetak maupun elektronik. Oleh karenanya, dia menyebut para calon tidak bisa sepenuhnya menggunakan cara-cara digital untuk menjangkau pemilihnya.

Untuk media cetak, data PRC menyebut masih ada 28,2 persen masyarakat yang mengaksesnya. Kemudian media televisi, ada 89,3 persen publik yang masih mengaksesnya. “Di media cetak, Jawa Pos menduduki peringkat pertama dengan 7 persen selanjutnya Kompas 5,8 persen,”

Pakar Komunikasi Politik Universitas Gadjah Mada Nyarwi Ahmad menambahkan, migrasi dari kampanye lama ke digital tidak bisa dilakukan sepenuhnya. Terbukti, hasil survei PRC menyebut tidak sepenuhnya memiliki akses. “Media mainstream masih diperlukan dan jadi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, diakuinya, penggunaan media mainstream saja sudah tidak cukup dalam situasi saat ini. Harus diakui, sosial media memainkan peran penting di era sekarang.

“Media mainstream masih dibutuhkan tapi ga cukup,” tuturnya.

Untuk itu, Nyarwi menyebut para calon perlu melakukan pemetaan dalam menentukan media seperti apa yang cocok untuk menyasar basis pemilihnya. Sebab, kultur atau kondisi sosial masing-masing daerah di Indonesia sangat beragam.

“Perlu data ilmiah, prioritas media apa yang sering digunakan masyarakat sebagai platform penyebaran informasi,” ungkapnya. (far/*)

Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG