Bintan-Pinang

Kesehatan 1.075 Ekor Hewan untuk Kurban Dicek

Tim Kesehatan Hewan DKPP Bintan lakukan pengawasan kesehatan hewan yang akan dijadikan kurban di penjual hewan kurban di Bintan, Kamis (2/7).
F.DKPP Bintan untuk Batam Pos.

BINTAN (BP) – Tim Kesehatan Hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bintan terus melakukan pengawasan dan pengecekan kesehatan hewan untuk dijadikan kurban.

Karena keterbatasan petugas, pengawasan dan pengecekan kesehatan diutamakan di 7 kecamatan, yakni Kecamatan Bintan Timur, Bintan Utara, Toapaya, Gunung Kijang, Seri Kuala Lobam, Teluk Bintan, dan Teluk Sebong.

Hingga Kamis (2/7), sudah 1.075 ekor hewan dilakukan pengecekan kesehatan dengan rincian 605 ekor sapi dan 470 ekor kambing.

Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Hewan DKPP Bintan, drh Iwan Berri Prima menjelaskan, pengawasan dan pengecekan kesehatan hewan sangat penting agar hewan yang akan dikurbankan nanti sehat.

“Tidak boleh hewan sakit dijadikan kurban, tidak sah,” ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, pengawasan kesehatan hewan kurban dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan gejala klinis setiap hewan yang akan menjadi stok hewan kurban.

“Sejauh ini ada ditemukan penyakit namun jenis penyakitnya tidak berbahaya, tidak zoonosis dan masih bisa diobati dan masih bisa dijadikan untuk stok hewan kurban,” ujarnya.

Lain hal, apabila ditemukan ada hewan terindikasi penyakit berbahaya, maka hewan akan diobati dan dipisah. “Hewan sakit harus dikarantina,” ujarnya.

Dia juga meminta kepada peternak agar hewan yang sakit tidak dijadikan sebagai stok hewan kurban.

Selan itu, dia juga mengimbau pedagang hewan kurban untuk menjaga kesehatan lingkungan dan protokol kesehatan karena saat ini masih berlangsung pandemi covid-19.

“Jangan gara-gara jualan hewan kurban justru menimbulkan masalah bagi kesehatan masyarakat,” kata dia.

“Dan jangan gara-gara pemotongan hewan kurban justru menambah cluster baru penularan covid19 di masyarakat meskipun covid19 tidak ditularkan dari hewan,” tambahnya. (*)

Reporter : Slamet Nofasusanto
Editor: Tunggul Manurung