Home

Banjir dan Longsor di Jepang, 80 Ribu Petugas Penyelamat Dikerahkan

Petugas penyelamat mengevakuasi korban banjir di Distrik Kumamoto,kemarin. F AFP

KUMAMOTO (BP)– Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, mengeluarkan kebijakan menambah dua kali lipat petugas penyelamatan dari Tokyo, dalam menghadapi bencana banjir yang terus meluas. Berawal dari Kumamoto, Pulau Kyushu, kini bencana banjir dan longsor meluas hingga ke kawasan Jepang Tengah, khususnya di Prefektur Gifu dan Nagano.

Peringatan banjir dan intensitas hujan yang tinggi, serta meningkatnya jumlah korban jiwa menjadi 54 orang membuat negara di Timur Matahari itu menggandakan petugas penyelamat menjadi 80 ribu personel, yang terdiri dari 20 ribu dari kesatuan tentara, penjaga pantai, dan pasukan bela diri negeri tersebut.

Bukan tanpa alasan, para petugas ini, selain mengatasi banjir, juga bertugas mencari belasan orang yang dinyatakan masih hilang.

Bencana banjir Jepang kali ini bermula saat hujan deras di bagian barat daya Tokyo, atau lebih tepatnya di Pulau Kyushu, Sabtu (4/7) pagi. Sungai-sungai meluap dan beberapa perbukitan di Kumamoto longsor.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) saat itu langsung mengeluarkan peringatan, pergerakan arah cuaca menuju utara. Dan Rabu (8/7) siang tadi, JMA kembali mengeluarkan peringatan tingkat tertinggi untuk Prefektur Gifu da Nagano di Jepang Tengah. Seluruh warga terdampak, sebelumnya sudah diungsikan.

“Di daerah ini, hujan lebat berada pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Daerah-daerah dengan potensi tinggi banjir dan longsor sudah kami peringatan. Bisa saja saat kami bicara sekarang ini, bencana sudah terjadi di beberapa titik di sana,” ungkap seorang Pejabat JMA seperti dilansir dari AFP, Rabu (8/7) sore ini.

Hujan deras yang menyebabkan tanah longsor sekarang ini telah membuat 1,3 juta warga mengungsi.Ini menjadi bencana alam terburuk di Jepang sejak badai topan Hagibis menewaskan 90 orang pada Oktober 2019 tahun lalu.

Hampir setiap pertengahan tahun, Jepang selalu menghadapi bencana longsor dan banjir akibat curah hujan yang tinggi. Pada 2018 lalu, lebih dari 200 orang tewas dalam banjir yang menghancurkan Jepang barat. (*)

Editor: Chahaya Simanjuntak