Nasional

Kementan Lanjutkan Riset Kalung Eukaliptus tanpa APBN

TERUS PAKAI KALUNG EUKALIPTUS: Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Gedung Nusantara Jakarta, Selasa (7/7). (HENDRA EKA/JAWA POS)

JAKARTA (BP) – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo Syahrul mengatakan, rencananya, hari ini, Rabu (8/7) Kementan menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah pihak untuk meneliti manfaat eukaliptus. Termasuk dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan beberapa perguruan tinggi.

Di antaranya, Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Indonesia (UI). ”Kami akan melanjutkan riset ini dan tidak menggunakan APBN,” tandas mantan gubernur Sulawesi Selatan itu.

Terkait kerja sama dengan Kementan itu, belum banyak komentar dari pihak UI. Dekan Fakultas Kedokteran UI Ari Fahrial Syam mengatakan, draf atau materi perjanjian kerja sama (PKS) sedang dibuat. ”Proposal penelitian sedang dibahas,” kata dokter spesialis penyakit dalam itu.

Menurut Ari, kalung tersebut berisi daun kayu putih. Sebagai inhaler, aromanya bisa melegakan tenggorokan.

Saat ini, lanjut Ari, harapan masyarakat dan pemerintah terhadap penanganan Covid-19 begitu besar. Sehingga penelitian baru di tingkat sel saja, hasilnya langsung diklaim sebagai obat antivirus.

”Bagaimana dengan produk-produk kayu putih yang ada dalam bentuk inhaler, roll-on, yang sebagian sudah disetujui BPOM? Tetap keberadaannya bukan sebagai antivirus,” katanya.

Jadi, dia tidak setuju jika kalung eukaliptus disebut sebagai kalung antivirus. ”Cukuplah disebut kalung kayu putih atau kalung eukaliptus saja,” ucap dia.

Sementara itu, Humas PB IDI Abdul Halik Malik membenarkan bahwa hari ini, rencananya, ada pertemuan di kantor Kementan pukul 10.00. Pertemuan itu tak hanya membahas kalung antivirus korona. ”Membicarakan kerja sama riset,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Riset yang dimaksud mengenai tanaman obat. Tak hanya fokus pada Covid-19. Menurut Malik, riset itu dilakukan untuk seluruh penyakit yang diderita manusia.

”Rencana penelitian lanjutan obat antivirus dan penyakit untuk manusia berbahan dasar tanaman obat,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua PB IDI Daeng Muhammad Faqih menyatakan, apa yang dilakukan oleh Kementan merupakan hal yang baik. Tinggal selanjutnya dilakukan pengujian sesuai tahapan untuk obat yang akan digunakan oleh manusia. Bahkan, IDI terbuka untuk melakukan kerja sama uji klinis.

Dia menyatakan, yang dilakukan oleh Kementan itu tidak hanya untuk virus korona. Namun dengan tanaman yang dimiliki Indonesia.

Sementara itu, saat rapat dengan Komisi IV DPR RI kemarin, kalung yang dikenakan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan jajarannya itu terlihat mencolok. Tapi, anggota Komisi IV DPR Mindo Sianipar kontan meminta Syahrul untuk tidak memamerkan kalung eukaliptus (kayu putih) yang belum teruji secara ilmiah tersebut.

”Mohon televisi jangan di-shoot (kalung eukaliptus, Red). Nanti masyarakat berlomba-lomba ikut pakai karena menterinya pakai,” kata Mindo di tengah rapat kerja Mentan dengan Komisi IV DPR kemarin.

Meski mendapat sindiran, Syahrul dan jajaran tidak lantas melepas kalung itu. Mereka tetap memakai kalung yang sempat ramai disebut sebagai antivirus corona itu hingga rapat selesai. ”Padahal, belum tahu kita hasilnya. Kami harap Kementan lebih selektif lah,” kata Mindo yang juga politikus PDI Perjuangan.

Syahrul mengklaim, riset yang terkait dengan potensi eukaliptus sebagai kalung antivirus corona sudah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi lembaganya. Kementan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memiliki Balai Besar Penelitian Veteriner.

Balai tersebut memiliki unit balai penelitian tanaman obat dan rempah. Karena itu, riset yang terkait dengan potensi tanaman obat dan rempah di Indonesia dalam konteks masa pandemi Covid-19, jelas dia, sesuai dengan ranah kerja Kementan.

Dia mengatakan, saat ini produk tersebut baru diuji coba. Karena itu, untuk mencapai hasil, masih dibutuhkan proses yang panjang. ”Saya lakukan untuk kepentingan bangsa. Jadi, saya harus percaya,” ucap dia.

Dalam keterangan pers Senin lalu (6/7), Kepala Balitbangtan Kementan Fadjry Djufry menyebutkan bahwa pihaknya tidak pernah menyebut kalung eukaliptus sebagai kalung antivirus corona. Melainkan aromaterapi untuk membantu meredakan gangguan pernapasan.

Tulisan antivirus di kemasan, papar dia, hanya ada di prototipe yang jadi penyemangat para peneliti bahwa penelitian menuju ke sana. ”Tidak ada klaim antivirus,” katanya (JP GROUP, 7/7).

Namun, pihaknya pun siap menghentikan penelitian tersebut jika tidak mendapat dukungan, khususnya dari Komisi IV DPR. ”Saya ingin sampaikan, khusus mengenai eukaliptus, kalau tidak didukung, ya saya hentikan,” kata Syahrul.

Meski demikian, Syahrul tetap berharap mendapat dukungan dari Komisi IV DPR. ”Kalau didukung, saya jalan terus,” sambungnya.

Menanggapi pernyataan Mentan, Ketua Komisi IV DPR Sudin tidak mempersoalkan Kementan untuk melanjutkan riset antivirus corona dengan tanaman eukaliptus. Hanya, tegas Sudin, pihaknya meminta urusan tersebut sebaiknya tidak menggunakan dana APBN.

”Selama tidak pakai APBN, silakan. Tapi, kalau pakai APBN, saya tidak mau. Apa jadinya nanti kalau gagal? Pak Menteri dan kami (komisi IV, Red) juga yang kena,” tegas Sudin. (*)

Reporter: JP GROUP
Editor: JAMIL QASIM