Hidup Sehat

Bernyanyi dan Berteriak Bisa Sebabkan Virus Korona Ada di Udara 3 Jam

ilustrasi (pixabay)

batampos.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa virus Korona yang sudah muncul sebagai pandemi selama 7 bulan, menular melalui droplet. Yakni melalui tetesan virus yang ditularkan seseorang saat bersin, batuk, dan bicara. Meski begitu, perdebatan masih muncul, apakah virus Korona memang bisa menular lewat udara.

Dilansir dari Al Jazeera, Rabu (8/7/2020) beberapa ilmuwan dan peneliti semakin yakin dengan menunjukkan bukti bahwa virus juga dapat ditularkan oleh tetesan yang lebih kecil yang disebut aerosol. Biasanya dihasilkan ketika orang-orang berteriak dan bernyanyi. Virus ini bisa tetap menggantung di udara lebih lama dan dapat melakukan perjalanan yang lebih jauh.

Lantas, apa bedanya dengan transmisi tetesan? Droplet adalah pernapasan bersin atau batuk berukuran lebih besar dengan diameter 5 hingga 10 mikrometer. Dan kisaran paparan adalah satu hingga dua meter. Aerosol, berukuran kurang dari 5 mikrometer dengan diameter dan perjalanan lebih dari 2 meter dari individu yang terinfeksi.

“Coronavirus dapat bertahan hidup di tetesan dan aerosol hingga 3 jam di bawah kondisi eksperimental (percobaan lab), meskipun ini tergantung pada suhu dan kelembaban, sinar ultraviolet dan bahkan keberadaan jenis partikel lain di udara,” kata Ahli Konsultan Medis dan Ahli Mikrobiologi di Inggris, Stephanie Dancer, kepada Al Jazeera.

“Aerosol mikroskopis dapat memproyeksikan setidaknya enam meter di lingkungan dalam ruangan, dan mungkin lebih jauh lagi jika arus udara dinamis beroperasi. Jaraknya tergantung pada seberapa besar aerosol itu,” jelasnya.

Seperti dalam transmisi tetesan, aerosol dapat dilepaskan dalam beberapa cara termasuk bernapas, berbicara, tertawa, bersin, batuk, bernyanyi dan berteriak. Dengan berteriak, bernyanyi, batuk dan bersin, aerosol melalui udara bisa menyebar dengan berbagai kecepatan yang berbeda.

Penularan melalui udara juga dapat terjadi dalam prosedur medis tertentu yang melibatkan pasien yang menghasilkan aerosol. Sehingga menempatkan petugas kesehatan pada risiko. Misalnya risiko di rumah sakit.

Presiden Asosiasi Dokter Keturunan Pakistan di Amerika Utara (APPNA) Naheed Usmani membenarkan risiko itu bisa terjadi pada petugas medis. Sehingga wajib bagi petugas medis melengkapi diri dengan APD.

“Ini sangat berbahaya bagi petugas kesehatan yang seharusnya hanya mencoba prosedur ini dengan mengenakan alat pelindung diri (APD) yang tepat, termasuk masker N95,” katanya kepada Al Jazeera.

Sejauh mana coronavirus dapat disebarkan oleh rute aerosol masih diperdebatkan. Sementara WHO telah lama menyatakan bahwa sumber utama infeksi adalah melalui transmisi tetesan.

“Kemungkinan penularan melalui udara dalam ruang publik terutama dalam kondisi yang sangat ramai, kerumunan, tertutup, dan berventilasi buruk memang tidak dapat disepelekan,” kata pimpinan teknis WHO Benedetta Allegranzi.

Ini terjadi setelah 239 ilmuwan dari 32 negara mengatakan bahwa ada ‘risiko nyata’ penularan melalui udara, terutama di lingkungan dalam ruangan, tertutup, dan ramai tanpa ventilasi yang tepat.

Sebagai solusinya, tetap mngenakan masker wajah dengan benar dan menjaga jarak fisik setiap saat. Para ahli juga merekomendasikan untuk menghindari tempat-tempat ramai, terutama transportasi umum.

Dalam hal ruang tertutup seperti kantor dan rumah sakit harus meningkatkan ventilasi yang baik dengan udara terbuka. Dengan membuka jendela juga dapat mengurangi risiko infeksi. (*)