Nasional

Ekonomi Batam Bisa Kembali Jaya

Sektor Industri Harus Jadi Perhatian Utama

Bakal Calon Walikota Batam Ahmad Hijazi berdialog dengan Pemimpin Redaksi Batam Pos Muhamad Ikbal didampingi Putut Ariotejo, Cahaya Simanjuntak saat kunjungan ke kantor Batam Pos, Rabu (8/7). F Cecep Mulyana/Batam Pos

BATAM (BP) – Ahmad Hijazi, mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam era Wali Kota Nyat Kadir hingga Ahmad Dahlan, mendadak ramai dibicarakan sebagai salah satu calon Wali Kota Batam yang akan ikut bertarung dalam Pilwako Batam, Desember 2020 mendatang.

Namanya mencuat kala Partai Golkar Batam sekaligus Golkar Provinsi mengumumkan dan memplenokan bahwa calon Wali Kota Batam yang akan diusungnya adalah Ahmad Hijazi. Bahkan, Hijazi merupakan calon tunggal yang diusung Partai Golkar. Sementara calon Wakil Wali Kota Batam yang akan diusung mendampingi Hijazi ada beberapa pilihan, bisa dari internal Golkar maupun parpol pendukung lainnya yang bergabung mengusung Hijazi. “Iya benar. Ketua DPD Provinsi Golkar, Pak Ma’ruf menelepon saya langsung bulan lalu. Beliau meminta saya balik ke Batam untuk maju menjadi Calon Wali Kota Batam yang disusung Golkar,” ungkap Hijazi saat berkunjung ke Redaksi Batam Pos, di lantai 3 Graha Pena Batam, Rabu (8/7) sore.

Pria yang yang lima tahun terakhir pindah ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dan sempat menjabat sebagai Sekda Provinsi Riau selama tiga tahun menjelaskan, alasan Ma’ruf memilih dia karena Golkar butuh sosok orang atau calon yang mengerti tentang Batam, berpengalaman tentang seluk beluk industri dan perdagangan, serta matang di birokrasi.

Pada pencalonannya sebagai Cawako Batam yang disusung Partai Golkar ini, Hijazi mengusung tagline, ‘Batam Bangkit’. Hijazi bertekad ingin mengembalikan kejayaan perekonomian di Batam dari berangkat dari sektor industri yang dulunya pernah jadi primadona di Batam, bahkan di Indonesia, yang saat ini meredup. “Kejayaan industri masa lalu di Batam harus dikembalikan. Batam merupakan kota yang infrastruktur dan fondasinya itu oleh almarhum BJ Habibie didesain sebagai kota industri untuk menopang perekonomiannya. Ruhnya di situ,” kata Hijazai.

Sementara sektor-sektor ekonomi lainnya diyakini Hijazi akan ikut berkembang jika industri makin berjaya. “Kalau sektor industri maju pesat, otomatis sektor lainnya akan mengikutinya, termasuk pariwisata, bukan justru sebaliknya atau dibalik, sektor industri di nomor sekian kan bukan dijadikan penopang utama,” ujarnya.

Hijazi mencontohkan Bali. Wajar baginya kalau di Bali itu sektor pariwisata jadi sektor yang utama dan paling krusial karena di Pulau Bali memang destinasi wisatanya sangat beragam, banyak pilihannya, dan infrastrukturnya juga untuk daerah pariwisata.
Begitupun di Batam yang memang sedari awal didesain sebagai pusat industri. Saat ini, di Batam ada lebih dari 25 kawasan industri. Kalau tak ditumbuhkembangkan dan dibangkitkan kembali, infrastruktur yang sudah ada dan dibangun selama ini. Tinggal mengembangkannya ke industri berbasis 4.0 atau di atasnya. Karena industri saat ini berkembang cepat.

Ia menambahkan, di saat masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, wajar semua sendi perekonomian dan semua sektor slow down. Hal tersebut menjadikan semuanya harus kembali ke nol, memulai menata kembali. “Makanya, di saat pandemi seperti sekarang ini, pemimpin daerah di Batam harus tahu, Batam itu dulu dibangun dan ada untuk apa sih? Infrastruktur di Batam itu dibangun murni untuk sektor industri sebagai penopang utama kehidupan dan perekonomiannya. Itu yang harus difokuskan dan dihidupkan,” tegasnya.

Harusnya, lanjut Hijazi, saat inilah semua pihak, baik pemerintah maupun swasta mulai menata kembali, mulai fokus bersama-sama berusaha membangkitkan sektor utama di Batam yakni industri. Sebab, terbukti di saat pandemi seperti saat ini, sektor industri masih mampu hidup di Batam.

“Kalau kita mengembangkan sektor perdagangan, itu kan turunannya dari sektor industri. Industri berkembang, pasti punya multiplayer efect terhadap sektor lainnya yang akan mengikuti. Inilah yang saya pikirkan, Batam harus kembali ke rohnya sebagai kota industri. Dulu sektor industri itu sangat baik dan tinggi pertumbuhannya. Sekarang ini kontribusi sektor industri hanya di kisaran 50 persen saja, turun drastis,” ujarnya menyayangkan.

Hijazi mengajak masyarakat Batam, tokoh masyarakat, serta para pemegang kebijakan di Batam untuk berpikir menuju sektor industri, berpikir nilai tambah bagaimana melakukan upaya optimalisasi terhadap suplay change, dan melakukan optimalisasi lainnya seperti value change.

“Konsep yang harus dibangun di Batam itu harus diintegrasikan antara pemanfaatan optimal suplay change dengan bagaimana kita bisa meningkatkan optimalisasi value change. Sehingga nilai tambah itu berkembang, networking bisnis global juga bisa terakses. Terpenting adalah bagaimana meningkatkan dan mengembangkan ekonomi rakyat di Batam,” ujarnya.

Secara kewilayahan, menurutnya, Batam wilayahnya kaya akan pulau-pulau yang berjumlah tak kurang dari 110 pulau lebih. Sebagian ada yang berpenduduk dan ada juga yang kosong.

“Untuk di pulau yang berpenduduk di Batam pun, kegiatannya belum optimal saat ini. Kenapa tidak pembangunan yang kita lakukan mungkin dengan mendayagunakan pulau-pulau sekitar, tak hanya berfokus di Batam saja atau di mainland saja. Karena hal itu sebenarnya juga potensial. Jangan hanya pembangunan itu berpikir untuk Kota Batam saja, tapi harus pulau-pulau itu juga minimal ikut merasakan perkembangan pembangunan itu,” jelasnya.

Hijazi juga bertekad selain ingin membangun ekonomi dengan mengoptimalkan sektor industri, juga sektor maritim, sehingga kehidupan masyarakat pesisir baik di Kota Batam maupun di pulau-pulau atau hinterland lebih baik lagi. “Itu harus menjadi tematik yang harus kita bangun, kita kembangkan ekonominya dengan pola-pola integrasi dan kreativitas,” terangnya.

Dengan pengalaman yang cukup lama di Disperindang, yakni lebih dari 10 tahun, dan pengalaman menjadi Sekda di Riau, Hijazi yakin bisa membawa perubahan untuk Batam. “Paling tidak saya sudah memberikan jawaban terhadap permintaan masyarakat di Batam. Saya sudah ada komunikasi dengan parpol lain. Intinya saya menunggu restu dari DPP Golkar,” ujarnya. (***)

Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MOHAMMAD TAHANG