Home

Lebih dari 76 Persen Santri Terpapar Covid-19 Dinyatakan Sembuh

Ilustrasi para santri mengikuti tes cepat Covid-19 di Kantor Dinkes Kalbar sebelum kembali belajar di pondok pesantren di Jawa Timur. (F. Rendra Oxtora/Antara)

batampos.id – Satgas Covid-19 di Ditjen Pendidikan Islam Kemenag menyebutkan jumlah santri yang sembuh dari Covid-19 semakin banyak. Data sementara ada 1.510 orang santri, ustaz, dan ustazah yang positif Covid-19. Dari jumlah tersebut 976 orang atau 76 persen lebih dinyatakan sudah sembuh.

“Sisanya masih dalam proses perawatan dan isolasi,” kata Menag Fachrul Razi di Jakarta kemarin (16/10).

Menyikapi adanya ribuan santri yang positif Covid-19 itu, tim Satgas Ditjen Pendidikan Islam Kemenag sampai saat ini masih aktif turun di lapangan. Diantaranya memberikan bantuan alat kesehatan serta obat-obatan.

“Kami prihatin dengan kasus positif Covid-19 yang terjadi di pesantren,” jelas Fachrul. Tetapi dia mene-gaskan Kemenag tidak tinggal diam. Pesantren di penjuru tanah air tidak sendirian dalam menangani wabah tersebut.

Fachrul mengatakan bantuan yang sudah disalurkan diantaranya berupa 38 ribu masker medis. Kemudian 35.940 masker kain, 1.825 hand sanitizer, 2.460 botol suplemen, dan 2.150 sabun cuci tangan. Se-lain itu, bantuan juga diberikan dalam bentuk disinfektan, alat foging, isi ulang hand sanitizer, madu, dan alat pelindung diri (APD).

Mantan Wakil Panglima TNI itu mengatakan, bantuan yang sudah disalurkan itu baru tahap awal. Untuk sementara bantuan tadi telah disalurkan ke delapan pondok pesantren di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Khusus di delapan pesantren itu, ada 861 santri yang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Tim akan terus bergerak, menyalurkan bantuan ke sejumlah pesantren lainnya,” kata dia. Khususnya di pesantren yang terkonfirmasi ada kasus positif Covid-19.

Fachrul menegaskan bantuan dari Satgas Kemenag itu, tidak termasuk bantuan operasional pendidikan (BOP) pesantren yang dikucurkan sejak akhir Agustus lalu. Skema BOP Pesantren itu, setiap lembaga menerima bantuan mulai dari Rp 25 juta sampai Rp 50 juta. Jumlahnya menyesuaikan banyaknya santri di pesantren tersebut.

Total anggaran untuk BOP Pesantren itu lebih dari Rp 2 triliun. Fachrul berharap pesantren tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam proses pembelajaran. Kedisiplinan penting dilakukan sebagai upaya bersama dalam mencegah penyebaran covid-19.

“Selama pandemi masih berlangsung, saya berharap pesantren bisa melakukan pembelajaran tatap muka dengan jumlah santri yang mengikuti kapasitas standar protokol kesehatan,” jelasnua. Tujuannya untuk meminimalisir kemungkinan penularan Covid-19.

Fachrul mengatakan Covid-19 bisa menimpa siapa saja. Termasuk dirinya yang beberapa waktu lalu dinyatakan sudah sembuh dari Covid-19. Dia mengatakan Covid-19 bukan aib, tapi musibah. “Mari tetap patuhi protokol kesehatan, demi kesehatan kita bersama,” ucapnya.

Sementara itu, Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan bahwa Protokol kesehatan wajib tetap diterapkan dalam tanggap bencana. Apalagi wilayah Indonesia sedang bersiap untuk menghadapi musim hujan yang disertai dengan fenomena suhu lautan La Nina.

Upaya mitigasi bencana juga perlu disiapkan dengan matang oleh pemerintah daerah ataupun pihak-pihak yang terkait. Hal ini bertujuan untuk menekan penularan Covid-19 di lokasi pengungsian.

“Mitigasi harus disesuaikan dengan bencana non alam yaitu pandemi Covid-19. Kontigensi plan dan mitigasi risiko harus disiapkan dengan matang untuk meminimalisir kerugian bahkan korban jiwa pada sektor terdampak termasuk memastikan lokasi pengungsian, yang akan digunakan untuk dapat meminimalisir penularan Covid-19,” kata Wiku.

Konsekuensinya, pemerintah daerah dituntut untuk menyiapkan lokasi pengungsian yang menerapkan protokol kesehatan Covid-19. “Bagi masyarakat apabila memungkinkan agar dapat meng-hindari lokasi pengungsian di tenda jika tidak terpaksa. Selain itu, manfaatkan tempat-tempat penginapan yang terdekat sebagai lokasi pengungsian,” jelas Wiku.

Di pengungsian harus dipastikan masyarakat mendapatkan masker cadangan, hand sanitizier, alat makan pribadi dan tempat evakuasi yang dirancang untuk menjaga jarak pengungsi. Dan harus ada petugas kesehatan di sekitar pengungsian.

Wiku meminta pemerintah daerah yang khususnya wilayahnya rawan bencana, segera menyiapkan segala peralatan dan fasilitas sesuai protokol kesehatan. Bagi masyarakat tetap patuhi 3M, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak selama di lokasi pengungsian.

“Ingat, protokol kesehatan merupakan langkah yang penting untuk melindungi diri kita dan orang-orang terdekat dari Covid-19. Pemerintah daerah juga harus lakukan monitoring yang ketat termasuk testing dan tracing jika dibutuhkan di lokasi pengungsian,” ujarnya. (*)

Reporter: Jpgroup
Editor: Ryan Agung