Ekonomi & Bisnis

Sambal Terasi Dinimati Konsumen Luar Negeri

Ekspor Sambal Finna Food Capai 13 Ribu Ton

BIKIN KETAGIHAN: Ekspor sambal Finna mencapai 13 ribu ton pada tahun lalu. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

batampos.id – Kekhasan rasa sambal dari tanah air membuat konsumen luar negeri ketagihan. Sambal terasi adalah favorit mereka.

Lihat saja capaian PT Sekar Laut Tbk. Tahun lalu ekspor sambal Finna Food mencapai 13 ribu ton. Jika dibandingkan dengan 2018, terdapat kenaikan ekspor 22,32 persen.

”Kami melakukan ekspor sejak 2013. Setiap tahun angkanya selalu naik,” ujar Export Marketing Manager PT Sekar Laut Tbk Mincu Prabowo.

Negara-negara seperti Singapura, Hongkong, Tiongkok, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Taiwan, hingga Belanda menjadi rujukan ekspornya.

”Tapi, paling banyak ke Hongkong dan Malaysia. Sebab, banyak warga Indonesia di sana,” jelas Mincu. ”Ternyata orang Hongkong dan Malaysia juga menyukai sambal terasi kita,” tambahnya.

Finna Food menyediakan berbagai varian olahan sambal. Mulai ulek sambal terasi, ulek sambal ijo, ulek sambal bawang, ulek sambal pedas, ulek sambal kemiri, hingga ulek sambal rawit. Namun, sambal terasi menempati posisi terfavorit.

Mincu menjelaskan, ulek sambal terasi disukai karena tekstur dan rasanya yang khas. Meski diproduksi dan diolah dengan mesin modern, rasanya tetap seperti sambal rumahan yang dibuat sendiri.

Hari Minantyo, peneliti bahan makanan tradisional dari Universitas Ciputra (UC), menuturkan bahwa teknologi mendorong kreasi sambal makin bervariasi. Bukan hanya jenis-jenis sambal tradisional seperti sambal bawang atau sambal terasi, tetapi juga makin berkembang dengan menambah bahan-bahan baru. Misalnya saja, sambal keju, sambal jengkol, atau sambal baby cumi.

”Produsen menambahkan bahan yang punya nilai kandungan gizi tinggi,” jelasnya.

Tren tersebut diprediksi masih berlanjut. Terutama pada bahan-bahan yang memiliki kadar protein tinggi. Tantangannya pun makin kompleks. Keamanan penggunaan bahan tambahan juga menjadi perhatian konsumen. Produsen harus berani trial and error beberapa kali sebelum si sambal diluncurkan ke masyarakat. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung