Ekonomi & Bisnis

Pasokan Kurang, Harga Bawang Merah di Tanjungpinang Merangkak Naik 

Pedagang bawang dan cabai di Pasar Bintan Center sedang melayani pembeli, Kamis (5/11/2020). (f. Peri Irawan /batampos.id)

batampos.id– Harga bawang merah Jawa di Tanjungpinang terus naik hingga Rp 44 ribu per kilogram (Kg). Ini terjadi akibat minimnya pasokan yang masuk ke beberapa pasar tradisional. Pantauan di pasar, harga bawang mulai merangkak naik sejak dua pekan terakhir baik di Pasar Baru I Tanjungpinang maupun Pasar Bintan Center.

Abdurahman, 52, padagang cabai dan bawang di Pasar Baru I Tanjungpinang mengatakan harga bawang merah jawa saat ini mencapai Rp 44 ribu padahal satu pekan sebelumnnya masih dijual Rp 40 ribu, jika dibanding dengan harga normalnya bawang itu dijual Rp 32 ribu per Kg. “Beberapa hari ini terus naik, mungkin masih bisa naik beberapa hari ke depan,”kata Rahman, saat ditemui di lapaknnya, Kamis (5/11/2020).

Tidak hanya bawang merah Jawa, bawang merah Birma juga mengalami kenaikan sekitar Rp 4 ribu per Kg, biasanya dijual Rp 18 ribu per Kg saat ini naik menjadi Rp 22 ribu. Berbeda halnya dengan bawang putih yang malah mengalami penurunan sekarang hanya Rp 24 ribu biasannya mencapai Rp 30 ribu. “Iya bawang putih malah turun sekarang biasanya Rp 30 ribu sekilo,”tuturnya.

Sementara itu, Rido, 27, pedagang cabai dan bawang di Pasar Bintan Center mengakui kenaikan bawang sudah terjadi sejak tiga pekan belakang, sekarang harga bawang merah Jawa di pasar tersebut berkisar Rp 42 ribu hingga Rp 44 ribu per Kg. “Di sini sejak tiga minggu kemarin sudah naik,” sebut Rido.

Tidak hanya bawang merah Jawa, kenaikan harga cabai merah masih terjadi, saat ini berkisar Rp 54 ribu hingga Rp 56 ribu per Kg. Walaupun harga naik Rido mengaku penjualan tidak begitu sulit dalam satu hari ia bisa menjual hingga 40 Kg cabai merah dan 20 Kg bawang merah Jawa.

“Mungkin orang takut tidak kebagian, makanya yang beli juga banyak,” tuturnya. Salah seorang pembeli di Pasar Bingan Center, Mely, 37, mengaku resah dengan kenaikan pada dua jenis bahan masak itu sebab dikhawatirkan juga berdampak pada bahan masak lainnya. “Kita takutnya yang lain ikutan naik juga,”kata Mely. (*)

Reporter: Peri Irawan

Editor: Tunggul