Nasional

DPR: Selain Kecam Presiden Prancis, Jokowi Harus Ambil Langkah Nyata

Massa dari berbagai ormas berunjuk rasa menentang sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait gambar Nabi Muhammad SAW di kawasan Kedubes Prancis, Jakarta, Senin (2/11/2020. Aksi tersebut terkait pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron belakangan ini yang dinilai telah menista agama Islam dan Nabi Muhammad. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

batampos.id – Setelah mengeluarkan pernyataan keras atas sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron, DPR berharap ada langkah strategis oleh Presiden RI. Posisi Jokowi sebagai presiden negara Muslim terbesar di dunia, dinilai akan memberikan peran yang positif.

“Kalau Indonesia bereaksi, akan jauh lebih dipertimbangkan daripada negara-negara Arab atau Afrika yang lain. Apalagi selama ini hubungan Indonesia dengan Prancis baik-baik saja, maka nasihat Presiden Indonesia akan dianggap sebagai masukan sportif tanpa tendensi apapun,” ujar anggota Komisi VIII KH. Bukhori Yusuf, Rabu (4/11).

Oleh karena itu, dia berharap Presiden menindaklanjuti pernyataannya dengan langkah nyata. Misalnya dengan memanggil duta besar di Prancis, atau mengutus Menteri Luar Negeri untuk menyampaikan satu memori khusus kepada pemerintah Prancis. “Kalau Presiden Indonesia yang bicara, saya kira akan sangat didengar,” tambah anggota fraksi Partai Keadilan Sejahtera tersebut.

Senada, Wakil Ketua Komisi VIII dari Fraksi Partai Golkar Tb. Ace Hasan Syadzily menambahkan, secara diplomatik sikap Presiden sudah sangat tepat. Ace mengatakan, sikap Presiden setidaknya merupakan langkah protes atas pernyataannya yang tidak sensitif terhadap agama Islam.

“Kita tahu bahwa kebebasan pers itu sangat dijunjung tinggi dalam negara demokrasi, apalagi di Prancis yang sudah dikenal memiliki ideologi negara yang sangat sekuler. Namun kebebasan itu juga ada batas-batas tertentu yang seharusnya tidak boleh menyinggung,” ujarnya.

Adanya seruan pemboikotan terhadap produk-produk Prancis yang beredar di masyarakat, Ace mengembalikan kepada masyarakat sendiri. Namun soal aksi turun ke jalan, menurutnya tidak perlu dilakukan di masa pandemi Covid-19 saat ini, karena dikhawatirkan menimbulkan kerumunan dan menjadi cluster penularan Covid-19. (*)

Sumber: JP Group
Editor: Jamil Qasim