Opini

Nabi dan Karikatur Tentangnya

Ilustrasi : @ilhamiyanda

batampos.id – Kontroversi karikatur Nabi Muhammad SAW di Prancis kembali memakan korban. Seorang guru sejarah Samuel Paty dipenggal kepalanya pada 16 Oktober 2020 karena memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad di majalah Charlie Hebdo kepada murid-muridnya saat membahas tema kebebasan berpendapat dan berekspresi. Setelahnya serangan kembali terjadi. Di Nice (Prancis Selatan) pada 29 Oktober 2020 tiga orang tewas dengan satu di antaranya nyaris terpenggal.

Karikatur Nabi Muhammad sebelumnya juga ramai dipersoalkan saat diterbitkan majalah Charlie Hebdo pada Januari 2015. Akibat karikatur itu pula, terjadi insiden penembakan di kantor majalah tersebut yang menewaskan 12 orang, termasuk Pemimpin Redaksi Stephane Charbonnier (7 Januari 2015).

Selama 27 tahun berdiri, mengkritik semua agama sudah menjadi tradisi di majalah Charlie Hebdo. Setiap terbitannya senantiasa diisi dengan karikatur Paus, Yesus, pendeta, rabi, imam, atau bahkan –yang paling kontroversial– Nabi Muhammad. Ironisnya, aksi solidaritas dan simpati yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi digaung-gaungkan, bahkan oleh Presiden Prancis sendiri, Emmanuel Macron. Sontak hal itu memantik kritik keras dari banyak negara, termasuk Indonesia.

Karikatur biasanya dibuat dengan mengambil subjek orang atau sosok yang banyak dikenal. Oleh karena itu, dengan melihat karikatur tertentu, seseorang secara sadar dapat mengetahui siapa yang dimaksud dari gambar tersebut. Otomatis, karikatur dibuat dengan terlebih dahulu mengetahui detail rupa dan wajah subyek yang hendak digambarkannya. Hal itu bertujuan untuk menghindarkan karikatur dari bias kebohongan. Sementara di zaman ini, bisa dipastikan, tidak ada satu orang pun yang pernah melihat sosok Nabi Muhammad. Dengan demikian, karikatur tentangnya tentu tak berdasar dan mengada-ada. Alias berisi kebohongan semata yang tak jelas sumber dan rujukan referensi gambarnya.

Seno Gumira Ajidarma lewat bukunya, Antara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor (2012), menjelaskan bahwa humor dalam karikatur ada saatnya menjadi sangat berbahaya dan sensitif. Humor yang dimaksudkan untuk mengundang tawa tidak lagi murni dan netral karena mengandung beban-beban makna. Makna itu berpendar menjadi tidak baku atau seragam.

Setiap orang dapat memiliki tafsir dan sudut pandang berbeda antara satu dan yang lainnya. Adakalanya, tertawa melihat karikatur tertentu berada dalam risiko ditafsirkan sebagai ”menertawakan” gambar. Jaraknya cukup dekat dengan ”mengejek” dan ”melakukan pelecehan”. Poin terakhir itulah yang selama ini menjadi akar konflik dan pertikaian gara-gara karikatur Charlie Hebdo. Menggambarkan sosok Nabi Muhammad bagi umat Islam dimaknai sebagai penghinaan terhadapnya.

Bahkan, pada salah satu edisi sebelum penembakan, Charlie Hebdo membuat karikatur seorang kakek tua Arab sedang bersujud dalam keadaan telanjang bulat dengan kemaluannya menggelantung dan menjuntai ke bawah. Terdapat tujuh bintang menutupi (maaf) duburnya. Dengan entengnya karikatur itu diberi judul: Muhammad, Seorang Bintang Telah Lahir. Tentu hal itu bukan lagi sekadar karikatur yang menghibur atau humor, tapi sebuah provokasi. Demikian juga karikatur lain yang tentu membuat kecewa agama-agama yang digambarkannya.

Idealisme Kita tahu setiap media massa memiliki posisi dan idealisme masingmasing dalam menentukan kekhasan yang mencirikan eksistensinya. Charlie Hebdo mengambil posisi sebagai media berhaluan kiri dengan mengkritik setiap agama di dunia. Ia berada dalam wilayah rawan dan riskan. Walaupun demikian, di ruang tertentu, hal yang menyangkut keyakinan dan kepercayaan tidaklah dapat ”dihumorkan” dan ”ditertawakan”.

Jika maksudnya untuk mengundang tawa, banyak hal dan ruang lain yang lebih layak untuk menjadi subyek. Oleh karena itu, sebenarnya sejak awal majalah Charlie Hebdo sangat menyadari akan risiko yang diambil. Anehnya, banyak aksi simpati dan solidaritas yang digelar mengatasnamakan kebebasan berekspresi dan berpendapat sama sekali tidak menyinggung tentang persoalan ”saling menghargai” dan ”memahami perbedaan”. Pelbagai tragedi yang telah terjadi seharusnya menjadi medium kritik untuk evaluasi diri.

Karikatur selama ini diidentikkan sebagai produk seni. Para seniman lebih banyak berlindung di balik itu. Siapa pun dapat dilukiskan, bahkan mungkin wajah Tuhan sekalipun. Hal tersebut sebagai wujud kebebasan yang kebablasan, bukan?

Sebagaimana hukum kehidupan, kebebasan seseorang senantiasa terbentur dengan kebebasan orang lain. Kebebasan dalam melukiskan sosok Nabi berbenturan dengan kebebasan dalam pembelaan atas nama agama. Otomatis, tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas.

Pada akhirnya, eksistensi majalah Charlie Hebdo ditakdirkan dengan ”menjual agama”. Semua demi hitung-hitungan untung rugi alias kapitalistik. Kita patut curiga karikatur yang ditampilkan tidak lagi berisi satire. Sebagaimana makna satire yang berarti menyindir untuk perbaikan. Atau meluruskan dari yang salah agar menjadi benar. Otomatis, menyindir berarti mendudukkan sosok tersindir memiliki kesalahan. Membuat karikatur Nabi seolah berkata bahwa Nabi telah berbuat salah dan dosa sehingga harus diluruskan. Padahal, etika menyindir senantiasa dilakukan secara halus dan tak menyakiti.

Ada saatnya yang disindir tak mengetahui bahwa dirinya sedang disindir. Lewat karikatur, dimaksudkan agar subjek yang digambarkan tak tersinggung karena gambarnya lucu dan menarik. Namun, dengan memuat karikatur Nabi, asas dalam karikatur sebagai sebuah satire dengan seketika gugur.

Jika karena satu majalah memantik luka dan perang, idealnya ia tak lagi diberi ruang untuk hidup dan eksis. Pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kasus Charlie Hebdo adalah timbulnya kebencian dan dendam. Terbitnya karikatur Nabi berarti makin memperkeruh dan memperburuk hubungan antarumat beragama. Oleh karena itu, jalan satu-satunya yang dapat kita lakukan ialah tidak membacanya. Dengan demikian, meminjam istilah Agus Dermawan, ia dengan sendirinya akan mati tanpa harus diteror dan diberondong peluru: dar..der..dor..! (*)

Oleh: ARIS SETIAWAN
Esais, pengajar di Institut Seni Indonesia
Surakarta