Total Football

Perlu Ada Sanksi Khusus untuk Ulah-ulah Konyol El Pistorelo

Striker Atletico Madrid Luis Suarez. (F. Maxim Shemetov/POOL/AFP)

batampos.id – Sederet ulah konyol menghiasi karir Luis Suarez. Seperti gigitan kepada bek Italia Giorgio Chiellini pada Piala Dunia 2014 maupun bek Chelsea Branislav Ivanovic setahun sebelumnya. Juga menepis bola ala spike (dalam bola voli) untuk menahan bola masuk ke gawang Uruguay saat menghadapi Ghana di Piala Dunia 2010.

Daftar itu bertambah kemarin (4/11). Dalam laga melawan Lokomotiv Moskva di RZD Arena, Suarez ikut mengintip monitor VAR (video assistant referee) di pinggir lapangan. Striker Atletico Madrid itu berdiri di belakang wasit Benoit Bastien asal Prancis.

Suarez ingin tahu apakah insiden handsball rekan setimnya, gelandang Hector Herrera, di kotak 16 pada menit ke-20 bakal dihukum penalti atau tidak. Meski penonton di layar kaca sekilas bisa melihat gambar dalam monitor VAR, pemain di lapangan seperti Suarez tentu tidak bisa melakukannya.

Apalagi, Suarez meninggalkan area permainan tanpa seizin wasit dan malah bisa disebut ”merecoki” wasit. Kartu kuning pun diterima Suarez dari wasit Bastien. Itu pun karena striker 33 tahun berjuluk El Pistolero tersebut dianggap melakukan protes.

Mengacu protokol peraturan VAR yang tercantum dalam halaman 134 hingga 142, pemain memang tidak boleh ikut melakukan pengamatan VAR. Apalagi, saat wasit sedang melakukan pengamatan.

”Hak untuk mengakses VAR selama pertandingan adalah kewenangan wasit tanpa terkecuali,” tulis Daily Mail.

Berdasar regulasi itu, lanjut Daily Mail, tindakan Suarez bisa saja menuai sanksi khusus. Tetapi, Suarez kepada Diario AS mengatakan bahwa dirinya tidak layak dikartu kuning karena masih berada di luar garis area VAR saat mengintip.

Selain insiden konyol mengintip VAR, kesialan Suarez kemarin bertambah dengan kegagalan mencetak gol tandang di Liga Champions. Sudah lima tahun El Pistolero tidak melakukannya atau sejak ke gawang AS Roma di Stadio Olimpico dalam fase grup 2015–2016. (*)

Reporter: Jpgroup
Editor: Ryan Agung