Covid-19

Tanggulangi Kemiskinan dan Covid-19, Baznas Digandeng ISDB

Mencuci tangan di air mengalir kini sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

batampos.id – Dana untuk program pengentasan kemiskinan dan penanggulangan Covid-19 di Indonesia terus mengalir. Total anggarannya mencapai USD 745 ribu atau setara dengan Rp 10,6 miliar lebih. Dana itu berasal dari kerja sama antara Islamic Development Bank (IsDB) dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Kongsi dua lembaga tersebut berawal dari semangat kebersamaan mengatasi besarnya kebutuhan masyarakat dalam menghadapi pandemic Covid-19. Nantinya IsDB menyalurkan dana hibah USD 515 ribu melalui Islamic Solidarity Fund and Development (ISDF). Sedangkan Baznas mengalokasikan USD 230 ribu. Dalam program ini Baznas sekaligus menjadi pelaksana proyek kerja sama.

Untuk bidang kesehatan, program itu nantinya menjalankan tugas peningkatan kualitas kesehatan dan kebersihan lingkungan. Program itu dijalankan melalui gerakan cuci tangan yang dilakukan di 78 unit sekolah dengan penerima manfaat sebanyak 19 ribu siswa.

Kemudian untuk program ekonomi, memberikan dukungan pemulihan ekonomi untuk 35 pelaku usaha mikro Zmart.

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyambut baik kerja sama Baznas dengan IsDB tersebut. Menurut dia program tersebut bisa melanjutkan kerjasama serupa yang dilaksanakan beberapa tahun lalu.

Menurut catatan Kemenag, di periode sepuluh tahun lalu Baznas juga bekerjasama dengan Islamic Research and Training Institute (IRTI) yang berada di bawah Islamic Development Bank (IDB).

“Potensi zakat umat Islam sangat membantu tugas negara memoderasi ketimpangan ekonomi, sosial, dan kemiskinan,” katanya Jumat (6/11).

Fachrul mengatakan ketimbangan tersebut merupakan permasalahan Indonesia sekaligus menjadi problem global. Dia berharap Baznas dan IsDB dapat mengawal implementasi program tersebut dengan baik. Supaya dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Selama ini zakat telah digunakan sebagai instrumen pembiayaan sosial untuk mengatasi kemiskinan. Dengan sasaran utamanya adalah masyarakat kurang beruntung. Kondisinya saat ini masih banyak potensi zakat yang belum terealisasi di Indonesia maupun dunia.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan Outlook Zakat Indonesia Baznas 2019, jumlah potensi penghimpunan zakat mencapai 3,4 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Jika diangkakan ditaksir sekitar Rp 462 triliun (USD 31 miliar). Nilai ini didapat dengan skenario penghimpunan zakat diterapkan pada masing-masing individu dan korporasi.

Peresmian kerja sama Baznas dengan IsDB itu dilakukan Kamis (5/11) kemarin. Presiden IsDB Grup Bandar Hajjar menyampaikan berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam program kerjasama kedua lembaga itu. “Program ini berupaya untuk memanfaatkan potensi dana zakat, infak, sedekah dan dana sosial lainnya yang sangat besar,” katanya.

Ketua Baznas Bambang Sudibyo mengatakan lembaganya akan terus berfokus membantu masyarakat miskin di Indonesia. Pada kondisi pandemi ini, masyarakat miskin adalah yang paling terpengaruh. Tidak hanya dari segi kesehatan, tetapi banyak juga yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan. (*)

Sumber: JP Group
Editor: Jamil Qasim