Lifestyle

Jangan Beli Asuransi atau Investasi karena Kawan atau Saudara

ILUSTRASI (pixabay)

batampos.id – Penasihat Keuangan dari Finasialku Robby Christy menerangkan sejumlah tip agar tidak terjebak dalam iming-iming dari produk investasi atau asuransi. Di antaranya jangan membeli produk asuransi atau investasi karena agen dari produk tersebut adalah teman atau saudara.

“Biasanya banyak orang kecewa setelah membeli produk asuransi atau investasi karena motivasinya membantu teman atau saudara,” ujar Robby Christy kepada JawaPos.com dalam diskusi virtual pada Kamis (5/11).

Padahal, harapannya mereka di balik membeli produk asuransi dan investasi itu mendapat hasil maksimal. Contoh untuk produksi investasi tertentu dengan membayar iuran atau premi per bulan sebesar Rp 500 ribu. Dalam kurun waktu tertentu dijanjikan kembali dengan lebih.

“Misalnya setelah 10 tahun bisa mendapatkan margin 10 persen dari modal yang dibayarkan setiap bulan,” imbuh Robby. Ternyata setelah tiba pada waktunya atau kontrak investasinya 10 tahun, hasil dari investasi itu jauh dari ekspektasi.

“Ujung-ujungnya kecewa,” kata Robby.

Untuk itu, Robby mengingatkan, jangan sampai terjebak dalam return dari sebuah produk investasi atau asuransi. Sebelum berharap mendapatkan hasil atau return, pahami dulu risiko dalam sebuah produk itu.

Contohnya untuk produksi asuransi kesehatan atau asuransi lainnya. Biasanya dalam produk asuransi ini para agen atau penjual produk asuransi menyampaikan tentang keuntungan yang didapat dari produknya. Di antaranya ditanggungnya pengobatan untuk sejumlah penyakit kritis.

“Jangan beli produk asuransi ketika sedang mengalami sakit atau sakit kritis. Sebab itu bisa berpotensi tidak diklaim,” ungkapnya.

Dia menyarankan membeli asuransi kesehatan ketika sedang sehat. Sehingga, pada masa tertentu si nasabah terserang penyakit kritis, mereka akan mendapat pelayanan kesehatan dari asuransi.

Biasanya dalam produk tertentu dijelaskan berapa nilai pagu pertanggungan yang diberikan. Jika biaya pengeobatan dari penyakit itu melebehi dari pertanggungan, maka jangan kecewa.

“Kuncinya pahami dulu risk dan return-nya. Jangan hanya melihat benefit semata. Pahami risikonya dari produk itu sendiri,” tandasnya. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung