Ekonomi & Bisnis

Sektor Sawit Tambah Devisa 13 miliar Dolar

Sampel bahan bakar B30 saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di halaman Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6/2019). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun. (Fedrik Tarigan/Jawapos)

batampos.id – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sektor kelapa sawit masih memberikan andil terhadap pemasukan devisa sebesar USD 13 miliar hingga Agustus.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurachman menuturkan, kinerja sektor sawit masih bisa diandalkan di tengah pandemi, saat komoditas lain seperti migas, batubara, dan pariwisata, turun. Di samping sebagai sumber penerimaan devisa, sawit juga terbukti dapat mengurangi impor minyak dan menekan defisit neraca perdagangan.

“Tahun 2019, nilai ekspornya (di luar produk oleokimia dan biodiesel) mencapai USD 15,57 miliar, atau sekitar Rp 220 triliun. Ini melampaui ekspor dari sektor migas maupun sektor nonmigas lainnya,” katanya dalam webinar yang digelar BPDPKS beberapa waktu lalu.

Eddy menambahkan, perkebunan dan industri sawit juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, mulai dari petani, pekerja pabrik, dan tenaga lainnya yang masih dalam rantai produksi kelapa sawit, dari kebun hingga produk akhir. BPDPKS mencatat setidaknya ada 4,2 juta pekerja langsung, dan 16 juta tenaga kerja tidak langsung yang menggantungkan hidup dari sektor ini.

Lebih dari itu, sawit juga berperan sebagai alternatif energi terbarukan, melalui produk biodiesel. Sejak awal tahun ini, mandatori B30 (biodiesel campuran 30 persen FAME) terus digalakkan oleh pemerintah. Bahan bakar nabati ini diklaim lebih ramah lingkungan dibandingkan fossil fuel.

Catatan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), sepanjang tahun lalu volume produksi B20 mencapai 6,37 juta kiloliter atau setara 40 juta barel minyak. Volume sebanyak ini setara dengan 50 hari kerja Pertamina.

Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan menuturkan, volume produksi sebanyak itu dihasilkan dari 19 perusahaan yang memiliki 11,6 juta kiloliter kapasitas terpasang. Jumlah tenaga kerja yang diserap di hulu mencapai 650.000 orang.

“Ini mengurangi 17 juta ton CO2 ekuivalen, atau 44 persen dari target pengurangan emisi gas rumah kaca di sektor energi dan transportasi,” kata Paulus dalam kesempatan sama.

Di tengah pandemi Covid-19, Paulus memproyeksikan ada sedikit penurunan serapan B30 hingga 10 persen, dari angka semula 9,6 juta kiloliter. Kendati demikian, dia memastikan program mandatori biodiesel ini tetap berjalan, melihat upaya-upaya serius pemerintah dalam mencapai target Perjanjian Paris (Paris Agreement).

Saat ini, lanjut Paulus, sedang diadakan studi untuk pengembangan B40 dan B50. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri tengah menguji dua formulasi B40. Pertama yaitu campuran 60 persen solar dengan 40 persen FAME. Kedua yaitu campuran 60 persen solar dengan 30 persen FAME dan 10 persen DPME.

“Kami sedang rapat-rapat terus dengan Pertamina, ITB, LIPI, BPPT, Lemigas, Balitbang ESDM untuk B40. Dan bahkan sore tadi kami rapat untuk bahan bakar untuk gas turbin, karena banyak pembangkit sekarang pakai gas turbin. Nggak pakai diesel,” terang Paulus.

Ke depan, produk turunan kelapa sawit akan berkembang menjadi berbagai bahan bakar ramah lingkungan, seperti green diesel, gasoline biocarbon, dan lain sebagainya.

Terpisah, Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari menyampaikan, pemerintah menargetkan emisi gas rumah kaca turun sebesar 314 juta ton CO2 ekuivalen pada 2030.

Komitmen pemerintah tersebut sesuai dengan Ratifikasi Paris Agreement yang disepakati pada saat perhelatan Conference on Parties (COP) 22 di Morocco, November 2016 lalu. “Estimasi kebutuhan investasinya mencapai Rp 3.500 triliun,” katanya dalam sebuah webinar belum lama ini.

Sementara itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan, pemanfaatan biodiesel merupakan bentuk nyata partisipasi aktif Indonesia dalam aksi penurunan emisi gas rumah kaca global. Pemerintah juga telah menemukan katalis yang efektif dalam proses produksi fraksi (jenis bentukan) minyak bumi dengan bahan bakar minyak sawit atau green fuels di kilang Pertamina, yakni Katalis Merah Putih.

Pabrik katalis akan didirikan oleh sebuah perusahaan patungan atau Joint Venture Company (JVC) tahun ini. Arifin menyampaikan, katalis merupakan suatu bagian yang penting untuk mempercepat reaksi proses pembentukan produk akhir.

“Hampir seluruh industri proses, baik industri kimia, petrokimia, oleokimia, termasuk di dalamnya teknologi energi terbarukan berbasis biomassa dan nabati memerlukan katalis,” kata Arifin di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Arifin menambahkan, penguasaan teknologi katalis menjadi langkah awal bagi kemandirian dalam bidang teknologi proses. Hal ini sejalan dengan kebutuhan katalis nasional selama tiga tahun terakhir yang mengalami peningkatan cukup signifikan.

“Tahun 2017 sebesar USD 500 juta, sementara pada tahun 2020 tumbuh kurang dari 6 persen per tahun menjadi USD 595,5 juta,” katanya.

Arifin optimistis, keberadaan pabrik katalis nasional akan menjadi kunci teknologi proses. Keberadaan pabrik katalis sekaligus memperkuat industri proses dalam negeri sehingga mengurangi impor katalis. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung