Ekonomi & Bisnis

Walau Resesi, 7 Sektor Tumbuh Positif

Sumbang 64,13 Persen PDB

Ilustrasi: Resesi ekonomi (Istimewa)

batampos.id – Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, ditengah ekonomi nasional yang belum beranjak dari teritori negatif, namun terdapat 7 sektor yang tumbuh positif dari 17 industri yang berkontribusi besar terhadap ekonomi Indonesia, atau menyumbang 64,13 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

“Dari 17 lapangan usaha yang ada, 7 sektor tumbuh positif,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (5/11).

Menurutnya, ketujuh sektor usaha tersebut masih mampu bertahan dan bangkit dari dampak pandemi Covid-19, akibat pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Suhariyanto memaparkan, industri yang tumbuh signifikan adalah jasa kesehatan, mencapai 15,33 persen. Sektor tersebut tumbuh melesat catatan pada kuartal II yang tumbuhnya hanya mencapai 3,71 persen secara tahunan.

Baca juga: Indonesia Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Minus 3,49 Persen

Selanjutnya, sektor usaha yang berasal dari industri informasi dan komunikasi yang tumbuh 10,61 persen. Namun, industri tersebut sedikit melambat dari catatan kuartal sebelumnya sebesar 10,83 persen.

Kemudian, industri pengadaan air tumbuh 6,04 persen dari 4,56 persen kuartal sebelumnya. Lalu, jasa pendidikan tumbuh 2,44 persen dari 1,22 persen, real estate tumbuh 1,98 persen dari sebelumnya 2,30 persen.

Selain itu, ada sektor usaha dari administrasi pemerintahan yang sebesar 1,86 persen. Angka tersebut membaik dari catatan kuartal II yang minus 3,21 persen. Lalu, pertanian, tumbuh 2,15 persen dari sebelumnya 2,19 persen.

Sementara sisanya, yaitu sektor transportasi dan pergudangan terkontraksi hingga minus 16,7 persen, akomodasi minus 11,86 persen, jasa lainnya minus 5,55 persen, dan jasa perusahaan minus 7,61 persen. Menurutnya, sektor-sektor tersebut tak terlepas imbas wabah Covid-19 yang masih berlangsung sehingga membuat orang enggan untuk berpergian jauh.

Sedangkan industri pengolahan minus 4,31 persen, perdagangan minus 5,03 persen, konstruksi minus 4,52 persen, pertambangan minus 4,28 persen, pengadaan listrik dan gas minus 2,44 persen, dan jasa keuangan minus 0,95 persen. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung