Feature

Kobarkan Semangat Digital, Startup Lokal Dorong Nelayan dan UMKM Tetap Produktif

 

Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat para pengusaha rintisan (startup) lokal di Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Justru di tengah kesulitan yang mendera perekonomian Batam, perusahaan startup yang mengkhususkan diri di bidang retail online tumbuh subur. Inovasi yang dikembangkan lewat aplikasi e-commerce, mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang mobilitasnya terbatas di tengah pandemi Covid-19.

__ __ __

Kurir Raja Ikan Batam mengantarkan langsung pesanan pelanggan ke rumahnya beberapa waktu lalu. (F. Raja Ikan Batam untuk batampos.id)

TATAPAN wanita berhijab hijau itu tertuju pada layar smartphone miliknya, Jumat (30/10/2020) sore di angkringan Mega Legenda, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Jemarinya menari di atas layar sentuh smartphone-nya. Sebuah aplikasi bergambar ikan bermahkota dan bertuliskan Raja Ikan Batam menghentikan gerak jemarinya.

Telunjuknya lalu bergerak menyentuh aplikasi itu. Hanya hitungan detik, laman muka aplikasi langsung terbuka. “Ini aplikasi Raja Ikan Batam, sudah saya unduh dari Play Store. Saya mau cari Kakap Putih,” ujarnya singkat.

Tampilan aplikasi ini cukup sederhana. Begitu dibuka, laman aplikasi sudah menampilkan beragam jenis ikan dan makanan laut lainnya, seperti Ikan Kerapu, Udang Vaname, Ikan Putih Sagai Besar, Cumi-Cumi, Ikan Delah, Lobster, Ikan Kembung dan lain-lain.

Wanita bernama Dewi Haryati ini kemudian menyentuh kolom pencarian yang berada di bagian atas laman aplikasi. Ia mengetikkan “Kakap Putih”. Tak sampai satu detik, yang ia cari pun segera muncul. “Kakap Putih Rp 110 ribu per 1 kilogram,” gumamnya.

Ia sempat menimbang-menimbang apakah membelinya atau tidak. Sejurus kemudian, ia langsung menekan pilihan menu “Tambah ke Keranjang”. Baru setelah itu, beragam pilihan pun muncul dari pilihan pembayaran, jam pengantaran, alamat, jumlah ikan yang dibeli hingga keterangan total belanja.

Setelah puas, ia pun menekan pilihan menu “Pesan”, dan tinggal menunggu pesanannya diantarkan ke rumahnya. Dewi yang merupakan pengusaha kuliner ini tampak tersenyum puas. Ia mengaku sangat terbantu dengan keberadaan layanan daring ini.

Pasalnya, di tengah pandemi Covid-19, protokol kesehatan harus diterapkan, khususnya social distancing atau menjaga jarak. Angka kasus Covid-19 di Batam yang sudah mencapai total 2.991 orang positif hingga Kamis, (5/11/2020) memang membuat warga Batam semakin berhati-hati dalam beraktivitas. Mobilitas pun dibatasi, interaksi melalui teknologi atau kanal digital menjadi favorit.

“Karena ada virus Corona, saya jadi waswas mau ke pasar. Tapi, sejak ada Raja Ikan Batam, saya merasa terbantu. Tanpa perlu ke luar rumah, bahan makanan seperti ikan langsung diantar ke rumah,” ungkapnya.

Meski begitu, ia mengakui selama pandemi memang terjadi penurunan pendapatan yang cukup signifikan. Pendapatan yang ia terima saat ini lebih banyak diterima dari pemesanan lewat aplikasi online.

Dewi optimistis pandemi ini akan segera berlalu, dan keadaan akan segera normal kembali. Selain itu, dengan adanya Raja Ikan, ia bisa banyak berhemat waktu. “Karena tak perlu ke pasar, saya gunakan waktunya untuk mencoba variasi menu yang lain,” ucapnya.

Raja Ikan Batam merupakan aplikasi yang lahir di tengah era pandemi Covid-19. Bisnis startup yang bernaung di bawah PT Raja Ikan Gemilang ini dirintis putra daerah bernama Andhi Kusuma bersama rekan-rekannya. Ia pun menjadi CEO di Raja Ikan Batam.

Raja Ikan Batam diperkenalkan ke publik, 31 Agustus lalu. Dalam usia yang masih dini, aplikasi Android ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Batam. Selain berbentuk aplikasi, Raja Ikan Batam juga hadir di platform media sosial lainnya, seperti Instagram, Facebook, WhatsApp, dan juga website.

Ia kemudian menceritakan awal mula terbentuknya Raja Ikan Batam. Pada awalnya, ia dan rekan-rekannya sudah memiliki ide untuk membangun aplikasi digital yang bersifat solutif. Latar belakangnya, karena di tengah pandemi, orang-orang jadi malas keluar untuk berbelanja, sehingga berbelanja lewat online menjadi pilihan terbaik.

“Kemudian, kami menganalisa pasar untuk mencari model bisnis yang tepat. Lalu dari hasil analisa, berbisnis bahan-bahan kebutuhan pokok dan bisnis logistik menjadi sesuatu yang akan selalu dibutuhkan,” tutur Andhi saat ditemui di rumahnya di bilangan Tiban Raya, Sekupang, Batam, Minggu (1/11/2020).

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, maka Andi memilih untuk berbisnis jual-beli ikan dan bahan makanan dari laut lainnya. Sebabnya, karena ikan selalu dicari. Selanjutnya, aplikasi yang dikenal sebagai Raja Ikan Batam pun dibangun.

“Asal mula idenya sangat sederhana. Saat ini, sudah era digital dan di tengah pandemi, menjadi momentum tepat untuk memperkenalkan Raja Ikan Batam. Karena orang-orang malas keluar belanja ikan, kami sediakan wadahnya untuk berbelanja,” kata Andhi lagi.

Pria brewokan ini tidak asal pilih. Pilihannya jitu, karena Raja Ikan Batam merupakan aplikasi retail online pertama di Batam yang menjual beragam hasil laut mulai ikan hingga Seafood.

Meski baru muncul sekitar tiga bulan, Raja Ikan Batam sudah banyak mendapat pesanan baik dari perorangan, warung kuliner hingga ke restoran seafood. Dalam sehari, omzetnya bisa mencapai Rp 15 juta. “Di bulan pertama, laku 5,5 ton. Per harinya berarti 200 hingga 300 kilogram. Selain jual online dan jual grosir, Raja Ikan juga mendapat pelanggan dari restauran seafood seperti Wey-Wey, Baycity, Amei Seafood, Yoyo, serta juga suplai ke pasar seperti Pasar Pujabahari di Penuin,” terang pria berkacamata ini.

Secara keseluruhan, aplikasi ini memiliki cara kerja yang sederhana. Pertama, konsumen harus mendaftar tentunya. Setelah terdaftar, bisa langsung memillih ikan apa yang akan dibeli. Tentukan berapa banyak yang akan dibeli dan metode pembayarannya, apakah via rekening atau bayar saat sudah diantar.

Selanjutnya tentukan waktu pengantaran, apakah diantar pada pukul 09.00 WIB atau pada jam pengantaran kedua pada pukul 13.00 WIB. Setelah selesai, maka tinggal menunggu kurir Raja Ikan Batam datang mengantar pesanan.

“Untuk mempermudah konsumen, kami juga menerima permintaan untuk membersihkan ikannya, mulai dari insang hingga kotorannya. Setelah bersih, ikan akan dipacking supaya tetap segar, kemudian tiga kurir kami akan mengantarkannya ke area manapun di seluruh Batam,” paparnya.

Andi mengungkapkan bahwa kepuasan pelanggan harus dijaga. Makanya, ikan yang dijual harus dalam keadaan segar. Untuk mendapatkan ikan dan makanan laut segar lainnya, ayah dari seorang anak ini terjun langsung mencarinya dari nelayan-nelayan di sekitar Pulau Batam.

“Raja Ikan punya kapal kayu untuk terjun langsung mencari ikan segar dan membelinya ke nelayan-nelayan pulau,” katanya. Sistem beli putus langsung ke nelayan yang digunakan Andhi juga ada sebabnya. Pandemi Covid-19 telah memengaruhi permintaan pasar terhadap ikan-ikan laut. Nelayan pun kesulitan menjual ikan hasil tangkapannya, karena permintaan pasar terus menurun.

Suplai pasar yang terus menurun, disertai dengan negara-negara tujuan ekspor ikan yang memilih untuk melakukan lockdown, menyebabkan stok ikan menumpuk. Harganya pun terus merosot.

Pendapatan nelayan yang terus tergerus, membuat mereka harus banyak menghemat biaya, termasuk biaya bahan bakar minyak (BBM). Mungkin para nelayan tetap menjala ikan di laut, tapi untuk menjualnya ke Batam, mereka juga pikir-pikir. Dengan untung yang sedikit, belum tentu bisa mencukupi biaya operasional maupun biaya hidup.

“Nelayan mengalami kesulitan untuk mengantarkan hasil tangkapannya ke Batam. Maka Raja Ikan berkolaborasi dengan nelayan, agar bisa menjual ikannya kepada kami. Lalu kami jual ikannya secara online untuk kebutuhan lokal di Batam,” katanya lagi.

Kapal kayu Raja Ikan Batam berangkat dua hari sekali. Kapal itu akan mengelilingi pulau-pulau di sekitar Batam. “Banyak pulau yang kami singgahi, seperti Senayang, Cempaka, Lobam dan lain-lain. Nelayan yang kebetulan berpapasan pun kami beli ikannya,” ungkapnya.

Dengan pola seperti itu, nelayan tetap bisa produktif menjala ikan, tanpa perlu takut hasil tangkapannya tidak laku. Ikan-ikan dan makanan laut lainnya yang dibeli dari nelayan ditaruh di gudang yang berlokasi di Piayu, Batam. Sementara itu, kantor utama Raja Ikan berlokasi di kawasan Sentral Sukajadi Batam.

Selain mengambil ikan dari nelayan, Raja Ikan juga menjual ikan yang dikerambakan sendiri, ikan kering dan juga ikan beku. “Tidak ada pakai pengawet, dua hari ikan dalam es, langsung lepas ke pasar,” ucapnya.

Hingga November, Raja Ikan Batam telah mempekerjakan 16 orang karyawan, terdiri dari karyawan di kantor dan gudang, serta tiga kurir yang mengantarkan ikan pesanan ke seluruh Batam.

“Setelah pandemi usai, saya yakin kebiasaan manusia akan berubah. Biasanya offline akan menjadi online semua. Orang-orang akan lebih familiar belanja lewat online daripada pergi ke pasar. Di sisi lain, kami juga ingin membantu nelayan agar tetap produktif selama pandemi. Agar mereka juga tetap optimis dalam menjalankan kehidupannya,” tuturnya.

Selain Raja Ikan Batam, aplikasi retail online lainnya memang tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Dalam pencarian di laman Playstore, cukup mengetikkan kata “Batam” saja banyak ditemukan aplikasi yang berkaitan dengan kota industri ini.

Aplikasi retail online juga banyak ditemukan, seperti Batam Mall yang menjual beragam produk kebutuhan sehari-hari hingga produk buatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Batam. Kemudian Pasar Mama milik Pemerintah Kota (Pemko) Batam yang menjual sayur mayur, Online Pasar Batam yang menjual produk makanan rumahan dan lain-lain.

Batam Mall juga satu di antara aplikasi retail online yang berkembang saat pandemi Covid-19. Berdiri sejak Oktober 2018, aplikasi ini pada awalnya harus menjalani masa uji coba.

Founder sekaligus CEO Batam Mall, Brian Lase mengatakan sebelum diperkenalkan ke publik, platform yang ia kelola menjual secara online barang-barang dari sebuah supermarket terkenal di Batam.

“Sekarang, kami jual sendiri barang-barangnya. 80 persen barang-barang yang kami miliki, dan selebihnya merupakan barang-barang UMKM,” katanya saat ditemui di Kantor Batam Mall yang berlokasi di Ruko Greenland, Batam Kota, Batam, Senin (2/11/2020).

Batam Mall menjual beragam barang di aplikasinya. Mulai dari barang-barang konsumsi seperti makanan dan minuman, fashion, barang-barang elektronik, furnitur hingga produk UMKM seperti aneka kerupuk, aneka cemilan dan lainnya.

Batam Mall juga bekerja sama dengan platform kartu kredit online, Akulaku, untuk mengakomodir konsumen yang berminat untuk membeli barang-barang elektronik maupun furnitur secara kredit.

Metode kerjanya hampir sama seperti Raja Ikan Batam. Mulai dari daftar, pilih pesanan, isi alamat, jumlah pesanan, cara bayar apakah bayar di tempat atau transfer rekening, dan terakhir konfirmasi pesanan. Setelah itu, pesanan akan langsung diantarkan ke rumah si pemesan.

“Pembayaran juga bisa dilakukan dari saldo aplikasi lain, misal Gojek. Karena Batam Mall memiliki kode Quick Response Code Indonesian Standart (QRIS), sehingga memudahkan pembayaran non-tunai,” kata Brian.

Dalam proses pengantaran, Batam Mall menjalin kerja sama dengan aplikasi Android lainnya yakni Antar Batam. Batam Mall berkembang pesat di saat pandemi. Member aktif sudah mencapai 2 ribu akun, sedangkan downloader di Playstore sudah mendekati 4 ribu.

“Penambahan signifikan memang terjadi di saat pandemi. Bahkan pelanggan kami ada yang dari perusahaan,” ungkapnya lagi. Perusahaan tersebut bekerja sama dengan Batam Mall. Sistemnya, karyawan perusahaan itu bisa belanja selama sebulan penuh. “1000 karyawannya bisa belanja di Batam Mall. Bayarnya nanti dipotong dari gaji tiap bulannya,” ujarnya.

Kerja sama seperti ini sangat membantu karyawan swasta. Pasalnya, di tengah pandemi Covid-19, penerapan social distancing harus tetap digalakkan. “Jadi ada dampak sosialnya, selain membantu di saat bulan tua, juga membantu pencegahan virus Corona,” paparnya.

Tetapi, hal yang paling utama menurut Brian, keberadaan aplikasi besutannya ini dapat membantu UMKM lokal di Batam menjual produknya.

“Selama pandemi, agak sulit bagi mereka memasarkan produknya karena kurangnya permintaan pasar, tidak ada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang biasanya membeli produk UMKM, serta tidak ada juga pameran di mal-mal tempat UMKM bisa pasarkan produknya ke masyarakat,” tuturnya.

Target penjualan ke wilayah domestik lainnya di luar Batam juga terkendala karena penerapan bea masuk atas barang kiriman dari Batam. Sebelumnya, batas bea masuk itu sebesar 75 dolar Amerika, sekarang menjadi 3 dolar Amerika per kiriman.

Pelaku UMKM memang kerap mengeluhkan kebijakan ini, karena banyak produk asal Batam merupakan produksi sendiri. “Makanya kalau ada yang pesan kerupuk saja, misalnya dari Pekanbaru, nilainya Rp 50 ribu, ongkos kirim dan pajaknya akan melebihi harga jual, sehingga mereka pun bisa rugi,” katanya lagi.

Alhasil pilihan yang tersedia hanya pasar lokal di Batam. Itu pun terkendala minimnya permintaan pasar, karena warga Batam lebih banyak beraktivitas di rumah, daripada berbelanja langsung.

“Batam Mall menawarkan kesempatan bagi pelaku UMKM untuk berpromosi, karena kesempatan yang ada saat ini memang hanya pasar lokal saja,” ungkapnya.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, alokasi e-commerce seperti Batam Mall mampu memudahkan masyarakat dan kalangan pengusaha UMKM. “Bisnis e-commerce tidak dibatasi ruang dan waktu. Memang pada awalnya, masyarakat belum teredukasi secara baik soal belanja online, tapi karena pandemi mau tak mau harus menggunakan platform online,” ucapnya.

Selain Raja Ikan Batam dan Batam Mall, Pemko Batam juga turut ambil bagian dalam menyediakan platform online untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Namanya Pasar Mama. Cukup berbelanja melalui aplikasi ini, warga bisa mendapatkan kebutuhan bahan pangannya dengan tetap berada di rumah. “Pengunduh sudah banyak, di atas 500-an,” kata penggagas startup Pasar Mama, Oenang Satya Putra.

Menurutnya, respon masyarakat Batam terhadap layanan daring ini sangat bagus. Karena sangat membantu di masa penerapan social distancing terkait corona virus disease (Covid-19) sekarang. Di sisi lain, juga membantu pedagang pasar yang banyak kehilangan omzet di tengah pandemi, agar dapat memasarkan produknya lebih cepat dan efisien lewat platform ini.

Melalui aplikasi ini, masyarakat bisa membeli kebutuhan pangan seperti beras, gula, minyak goreng hingga sayur mayur. Kemudian pembayaran bisa dilakukan dengan beberapa pilihan metode. Antara lain sistem transfer debit, kartu kredit atau dengan GoPay. Barang belanjaan akan dikirim dengan layanan dari Gojek.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam, Gustian Riau menjelaskan meski pemerintah sudah membuat kebijakan jaga jarak atau social dan physical distancing, masih banyak warga yang berkerumun di pasar. “Makanya kami membuat aplikasi ini untuk memudahkan masyarakat agar tidak perlu berbelanja ke pasar, cukup lewat aplikasi,” tutur Gustian.

Adapun jadwal pemesanan dan pengantaran barang di aplikasi Pasar Mama dibagi menjadi tiga sesi. Yakni sesi pertama pukul 06.00-09.00 WIB, diantar pukul 09.01-11.00 WIB atau lebih cepat. Sesi kedua, pukul 09.01-12.00 WIB diantar pukul 11.01-13.00 WIB atau lebih cepat. Pemesanan sesi ketiga, pukul 12.01-06.00 WIB di hari berikutnya, diantar pukul 07.00-09.00 WIB atau lebih cepat.

“Cara pengantaran order dibuka setiap hari Senin sampai Minggu mulai pukul 06.00 WIB sampai 24.00 WIB. Masa tunggu verifikasi pembayaran terhadap order yang sudah dipesan selama 15 menit, dan terbatalkan secara otomatis dari sistem bila tidak melakukan pembayaran serta disarankan melakukan order ulang,” terangnya.

Harga bahan pangan yang ada di platform online ini sama dengan yang ada di pasar Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Artinya harga yang ditawarkan adalah harga distributor. “Aplikasi ini melayani seluruh masyarakat di sembilan kecamatan mainland di Kota Batam. Jadi tak ada istilah terlalu jauh, tetap dilayani,” paparnya.

Pelaku Usaha Pilih Transformasi Digital

Pandemi Covid-19 menimbulkan luka mendalam bagi perekonomian Kepri. Laju pertumbuhan ekonomi provinsi kepulauan ini pada triwulan II 2020, anjlok. Tidak tanggung-tanggung, pertumbuhan ekonomi terjerembab ke level minus 6,66 persen year on year (yoy). Dalam skala nasional, Kepri menempati posisi kelima dari bawah, sedangkan di Sumatra di urutan paling buncit.

Meski sempat mengalami perbaikan di triwulan berikutnya, namun tetap saja Kepri berada dalam resesi, karena pertumbuhan ekonomi Kepri masih berada di level minus 3,23 persen.

Penyebabnya karena sektor pariwisata yang juga merupakan satu di antara tulang punggung perekonomian Kepri terpuruk. Pasalnya, negara-negara asal wisatawan mancanegara (wisman) utama, seperti Singapura, Malaysia dan Tiongkok memilih untuk lockdown.

Sektor pariwisata merupakan salah satu lokomotif ekonomi di Kepri yang menggandeng banyak sektor lainnya, seperti sektor akomodasi, transportasi dan juga UMKM. Imbas dari ketiadaan kunjungan wisman sangat merugikan pelaku usaha di sektor-sektor tersebut.

Namun, kabar baiknya, sektor informasi dan komunikasi atau sektor digital tumbuh melesat di tengah pandemi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Pertumbuhan sektor ini year on year (yoy) pada triwulan ketiga mencapai 19,56 persen, meningkat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 17,29 persen.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan ini secara yoy, sektor digital memberikan andil pertumbuhan tertinggi, yakni 0,50 persen.

Sementara dari jumlah Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), sektor digital menghasilkan PDRB sebanyak Rp 1,6 triliun. Potensinya terlalu mumpuni untuk diabaikan.

Saat ini, bertransformasi secara digital merupakan pilihan tepat di saat pandemi Covid-19. Peluangnya lebih potensial karena lebih aman, efisien dan terukur. Pasar yang ada saat ini mengizinkan hal tersebut. Alhasil baik pengusaha besar hingga pelaku UMKM kini rajin mentransformasikan bisnisnya dari konvensional menjadi digital. Pemanfaatan aplikasi serta platform media sosial pun menjadi primadona berbisnis saat ini.

Sekretaris Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Aptiknas) Kepri, Ammar Satria mengatakan, pertumbuhan tersebut disebabkan karena peningkatan yang cukup besar dari penjualan e-commerce di sektor retail dan kesehatan.

“Pembelian dan penjualan masker dan peralatan medis lainnya itu luar biasa sekali di platform online seperti Tokopedia, Shoppe dan lainnya,” katanya, Jumat (25/9/2020).

Selain itu, penggunaan jasa pengiriman barang dan jasa antar jemput secara online juga semakin banyak digunakan. Protokol kesehatan seperti social distancing dan work from home (WFH) sangat mendorong kegiatan online tersebut.

“Kemudian jual beli online melalui live streaming melalui sistem cash on delivery (COD) juga tumbuh. Begitu juga yang lagi marak saat ini yakni sembako online,” ungkapnya.

Sembako online ini dapat dilihat dari maraknya penggunaan aplikasi seperti, Batam Online Supermarket yang digagas Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri, Cahya, atau Pasar Mama yang digagas Pemko Batam. Dengan sembako online, maka si pembeli tinggal memesan barang kebutuhan pokok yang dipesan dan nanti akan diantarkan langsung oleh pihak terkait.

“Tiga jenis bidang usaha ini yakni e-commerce kesehatan, jasa pengiriman barang secara online dan sembako online ini tumbuh pesat. Selain itu mewakili spirit UMKM di Batam yang memang tengah marak-maraknya menggunakan media sosial dalam berdagang,” ungkapnya.

Menurut Ammar, kehadiran platform online justru sangat membantu para pelaku UMKM tetap produktif, di tengah pandemi Covid-19.

Selain itu, rapat online atau webinar juga sangat tinggi peminatnya melalui aplikasi Zoom, Google Meet dan lain-lain. Lalu kegiatan kerja dan belajar dari rumah juga meningkatkan pendapatan dari para penjual paket data yang biasa sering mangkal di pinggir jalan.

Senada dengan Ammar, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid mengatakan potensi perkembangan sektor digital sangat potensial di Batam. Ditambah saat ini, Batam sudah memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang mengakomodir perkembangan sektor digital, yakni KEK Nongsa Digital Park.

“Sudah sewajarnya jika sektor informasi dan komunikasi mengalami peningkatan aktivitas. Karena dimasa pandemi ini, ada pembatasan mobilitas orang, maka dibutuhkan media komunikasi dan informasi. Jadi permintaan terhadap jasa komunikasi dan informasi ini pastinya akan meningkat di masa pergerakan orang dibatasi,” tuturnya.

Untuk membantu kegiatan e-commerce agar berjalan lancar di tengah pandemi, Bank Indonesia (BI) juga ikut menerapkan kebijakan satu QR Code untuk semua aplikasi, yakni QRIS, sejak 1 Januari lalu.

Latar belakangnya yakni karena kebijakan social distancing yang mengakibatkan banyak orang menghindari tatap muka dengan orang lain, termasuk dalam bertransaksi. Akibatnya, aktivitas transaksi digital justru semakin meningkat karena masyarakat mendapatkan pilihan mudah tanpa membuat dirinya berada dalam risiko.

“Selama pandemi, volume transaksi digital menggunakan uang elektronik menunjukkan peningkatan. Di April saja tercatat 1,34 juta transaksi dengan nominal Rp 128,28 miliar meningkat dari transaksi bulan sebelumnya,” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Musni Hardi.

Musni menyebut peningkatannya sebesar 34 persen. Peningkatan transaksi digital ini juga ditunjang oleh bertambahnya merchant-merchant yang menggunakan sistem QRIS.

QRIS adalah standar pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia agar proses transaksi berjalan lebih mudah, cepat dan terjaga keamanannya. Satu QR Code berlaku untuk seluruh transaksi dengan menggunakan aplikasi transaksi digital apapun.

“Seiring peningkatan tersebut, jumlah merchant QRIS di Kepri bertambah dari 15.421 unit pada akhir 2019 menjadi 35.343 unit pada 19 Juni 2020,” ucapnya.

Jumlah merchant QRIS di Kepri paling banyak berada di Batam sebanyak 28.230 unit, disusul Tanjungpinang sebanyak 4.681 unit dan Bintan sebanyak 1.340 unit. (*)

Reporter: Rifky Setiawan

E