Feature

Mengikis Jejak Pandemi, Memulihkan Asa Penduduk di Pinggir Negeri

Model mengenakan busana batik motif khas Batam hasil kerajinan dari Moleqie Berseri. (F. Moleqie Berseri untuk Batam Pos)

Upaya semua pihak mengendalikan penyebaran Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, mulai menunjukkan hasil. Sektor industri dan pariwisata, dua penopang ekonomi di kota yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia ini, perlahan-lahan kembali beroperasi dan percaya diri untuk bangkit dari keterpurukan akibat pandemi. Pertumbuhan ekonomi yang membaik, jadi salah satu indikator positifnya.

batampos.id – Riza Hartini tersenyum semringah. Perasaan bangga dan haru bercampur aduk. Matanya tak beralih dari panggung yang jadi catwalk peragaan busana. Kala itu, Iza, panggilan akrabnya, tengah menyaksikan deretan model yang berlenggak-lenggok memamerkan koleksi busana batik dalam gelaran malam puncak Batam Batik Fashion Week 2020 di Dataran Engku Hamidah, Batam Center, Kota Batam, Sabtu (12/9/2020) malam.

Yang membuat perasaannya gembira, tak lain karena beberapa kain batik yang dikenakan model tersebut, merupakan hasil kerajinannya. Kain batik buatannya, kini tak lagi hanya dipajang di etalase toko. Lebih dari itu, kain batiknya bakal “naik kelas” dan dikenal luas hingga seantero negeri.

Acara Batam Batik Fashion Week 2020 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, serta menggandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia, memang terlaksana dengan meriah. Acara yang bertujuan membantu memasarkan kain batik dengan motif khas Batam itu, diikuti puluhan pengrajin batik Batam yang bekerja sama dengan para desainer busana lokal dari Kota Batam.

Mereka ditantang menampilkan busana batik yang modern dan kekinian, serta tampil kasual dan energik untuk menggaet minat kalangan milenial. Hasilnya, peragaan busana itu memang jadi daya tarik wisata sekaligus ajang promosi yang cukup spektakuler.

“Menurut saya, itu upaya pemerintah untuk membantu kami para pengrajin batik agar produk kami makin dikenal luas, termasuk mempromosikannya ke daerah lain lewat video dokumentasi dari pameran itu,” ujar Iza, Sabtu (7/11/2020).

Saat pameran, Iza mengaku hanya menyediakan kain batik yang kemudian disulap oleh para desainer menjadi busana beraneka bentuk yang ditampilkan. Sedangkan sarana dan prasarana untuk pameran, termasuk para model, disediakan oleh pemerintah selaku penyelenggara. “Di tengah pandemi seperti ini, memang harus ada terobosan agar usaha kami bertahan. Setidaknya, kami semangat untuk bangkit,” kata pemilik kerajinan Moleqie Berseri di Kota Batam tersebut.

Tak hanya usaha kerajinan, sektor usaha kuliner dan produk penunjang pariwisata, juga tak luput mendapat stimulus dari pemerintah pusat melalui Kemenparekraf RI. Wujudnya, berupa pelatihan untuk mendapatkan sertifikat Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan atau Cleanlines, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE). Sertifikat ini penting untuk dijadikan acuan secara nasional bagi industri pariwisata bahwa usahanya telah lolos standar protokol kesehatan dan siap menyambut wisatawan. Salah satu peserta tersebut adalah Arofah, pemilik rumah makan ayam geprek Banyu Biru di Kecamatan Batuampar, Kota Batam.

“Sekarang saya jadi tahu, bagaimana menerapkan standar agar usaha saya dapat sertifikat CHSE yang berlaku secara nasional,” katanya.

Tak hanya itu, Arofah juga mengaku ikut mendaftar program bantuan modal senilai Rp 2,4 juta bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak pandemi Covid-19 dari Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro dan Kecil Republik Indonesia. “Meskipun belum cair, setidaknya itu nanti akan membantu agar bisa menambah modal, misalnya untuk mengembangkan varian makanan,” jelas ibu tiga orang anak tersebut.

Selain sektor kerajinan dan UMKM, beberapa usaha dan destinasi pariwisata yang lain juga mencatatkan geliat positif. Di antaranya, destinasi olahraga pariwisata, yakni golf. Seperti diketahui, Kota Batam memang menjadi salah satu destinasi wisata golf unggulan di Tanah Air. Pasalnya, Batam memiliki tujuh lapangan golf, dan termasuk kota dengan jumlah lapangan golf terbanyak di Indonesia.

“Golf termasuk yang beruntung karena masih ada golfer (pegolf, red) lokal,” kata GM Palm Spring Golf and Country Club, Steven Japari, di Sekupang, Sabtu (31/10/2020).

Menurut Steven, selama pandemi Covid-19, sektor golf termasuk salah satu yang kena imbas. Itu karena, sebelum pandemi banyak pegolf dari Singapura yang menghabiskan waktu untuk bermain golf di Batam. Namun, setelah pandemi jumlahnya berkurang jauh, bahkan tak ada sama sekali. Padahal, pegolf dari negeri jiran itu termasuk yang paling banyak membelanjakan uangnya jika berkunjung ke Batam. “Rata-rata pegolf Singapura itu bisa membelanjakan antara 100 hingga 150 dolar Singapura, ya sekitar Rp 1-1,5 juta (dengan kurs 1 dolar Singapura= Rp 10 ribu).

Ke depan, optimisme Steven makin menguat lantaran pemerintah Indonesia dan Singapura menjalin kerja sama berupa Travel Corridor Agreement (TCA), yang memberi laluan untuk Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara (WN) Singapura untuk masuk ke dalam dua wilayah negara untuk urusan bisnis esensial, diplomatik dan kedinasan.

“TCA ini bisa menjadi langkah awal dalam mendapatkan kepercayaan dari negara lain. Semoga berikutnya diikuti dengan pembukaan sektor pariwisata,” harapnya.

Untuk saat ini, Steven mengaku sektor usaha golf di Batam rata-rata sudah menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Seperti, kewajiban memakai masker bagi para tamu maupun pegawai, sterilisasi rutin untuk semua fasilitas golf, penyediaan hand sanitizer, dan sebagainya. “Sehingga, secara umum telah siap menyambut wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” katanya.

Sedangkan untuk sektor perhotelan, Pemerintah Kota Batam telah memberikan sertifikat penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 kepada 151 hotel di Batam. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batam, Muhammad Mansyur, mengatakan sertifikat tersebut membantu meningkatkan kepercayaan konsumen pada dunia perhotelan Batam.

“Hal ini berarti hotel Batam dapat nilai tambah, dengan pengakuan seperti ini, tentu akan meningkatkan kepercayaan pengguna jasa perhotelan baik perorangan atau kelompok,” kata Mansyur.

Yang makin menggembirakan, Kemenparekraf RI juga mengucurkan dana bantuan hibah yang disalurkan melalui Pemerintah Kota Batam, untuk membantu menghidupkan sektor perhotelan di Batam yang selama pandemi hampir mati suri. Jumlahnya tak sedikit, sekitar Rp 40 miliar untuk ratusan hotel di Kota Batam, baik yang berbintang maupun hotel melati. Dengan catatan, hotel tersebut pada tahun 2019, tercatat aktif membayar pajak dan sesuai kriteria lain yang ditentukan Kemenparekraf RI.

“Ini akan digunakan untuk membantu membayar biaya operasional hotel, seperti gaji yang tertunda atau yang lainnya,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Batam Tourism and Promotion Board (BTPB), Edy Sutrisno, mengatakan di masa awal pandemi Covid-19, pihaknya bersama Disbudpar Kota Batam gencar membantu pelaku pariwisata untuk menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Di saat bersamaan, untuk menggeliatkan sektor pariwisata, BTPB juga menaja sejumlah acara, termasuk yang melibatkan ekspatriat di Batam.

Seperti, acara lomba National Day Festival di Kampung Bule dan Batam View Beach Resort saat peringatan HUT Kemerdekaan ke-75 RI. Kemudian, menghelat Nomadic Community Fiesta atau pesta komunitas berpindah-pindah di berbagai destinasi wisata yang ada di Batam dalam dua bulan terakhir. “Tujuannya, menggerakkan ekonomi di kantong-kantong sentra wisata,” katanya.

Menurut Edy, sejauh ini optimisme pelaku usaha pariwisata dan destinasi wisata di Kota Batam cukup tinggi. Ketika akses untuk menggaet wisman cukup sulit selama pandemi, mereka beralih perhatian pada penguatan di ceruk wisatawan lokal. “Kami juga memperkuat kolaborasi, yakni bekerja sama dengan semua pihak untuk sama-sama menghidupkan kembali geliat pariwisata yang selama ini berbulan-bulan ini lesu dihantam badai pandemi,” sebutnya.

Senada dengan itu, Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata mengaku optimistis sektor pariwisata akan kembali bangkit. Dengan berbagai langkah yang telah diterapkan, seperti kampanye dan pengawasan ketat dalam penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di sektor hotel dan restoran, golf, tempat hiburan, serta tempat-tempat wisata lainnya, Ardiwinata yakin Kota Batam siap menyambut kunjungan wisatawan, termasuk wisman yang selama ini jadi andalan.

“Seperti kita ketahui, tahun 2019 lalu kunjungan wisman ke Batam mencapai 1.947.943 kunjungan. Meski tahun ini tak sebanyak tahun lalu, namun kita tetap siap menyambut mereka sesuai standar kesehatan yang ditetapkan,” ujar Ardiwinata.

Menurut Kepala Dinas, ia juga mengapresiasi langkah Kemenparekraf RI yang banyak memberi bantuan dan menggelar acara, baik itu berupa pelatihan, sosialisasi dan kegiatan lainnya di Kota Batam. Hal itu, sambung dia, sedikit banyak memberi pengaruh positif pada akselerasi perputaran roda ekonomi untuk sektor hotel dan restoran di wilayah yang berada di pinggiran negeri ini.

“Kita optimistis, setelah pintu perbatasan dengan negara lain untuk jalur pariwisata dibuka, maka semua akan kembali pada trek lurus, yang mana ketika pariwisata hidup, maka sektor lain juga ikut kebagian berkahnya,” katanya.

Kinerja Positif Sektor Usaha Digital
Jika selama pandemi Covid-19 banyak sektor usaha dan perdagangan di Kota Batam yang terseok-seok, bahkan ada yang gulung tikar, kondisi serupa tidak berlaku untuk sektor usaha digital. Bisnis sektor digital seperti penjualan online, baik untuk barang dan jasa, malah mengalami peningkatan signifikan. Itu karena, selama pandemi mewabah, banyak warga yang pilih berada di rumah, termasuk untuk urusan bekerja dan belajar dari rumah.

“Sehingga, usaha logistik pengantaran barang, produk retail, kuliner dan sebagainya mengalami peningkatan. Ini ditandai dengan banyaknya bermunculan UKM baru di jejaring media sosial yang menawarkan barang dan jasa,” tutur Sekretaris Asosiasi Digital Entrepeneur Indonesia (ADEI) Kepulauan Riau, Ammar Satria.

Beberapa lini bisnis digital yang melambung selama pandemi ini, Ammar menyebut di antaranya adalah yang berkaitan dengan homecare di bidang layanan kesehatan, seperti Rapid Test atau Swab Test, kemudian toko online makanan atau minuman, platform pendidikan dan meeting online, financial technology (fintech) atau layanan keuangan berbasis digital dan layanan jasa online seperti service bengkel ke rumah, perawatan kecantikan atau kesehatan ke rumah, jasa kebersihan, property online dan lain-lainnya.

Sebaliknya, Ammar mengaku belum menemui adanya usaha digital yang tutup. Namun, ada sebagian pelaku usaha digital yang beralih jenis usahanya. “Misalnya, dari travel online menjadi pasar sembako online, dari e-Commerce menjadi jasa layanan kesehatan dan lain-lain,” katanya.

Ammar juga membagi strategi agar beragam sektor usaha bisa bertahan di tengah gempuran pandemi Covid-19.
Langkah pertama, kata dia, yakni segera bertransformasi ke bisnis digital. Kemudian, berkolaborasi dengan banyak pemberi pengaruh atau influencer yang memiliki banyak pengikut atau followers, karena followers adalah segmen pasar baru.

Followers itu mata uang baru (new currency, red). Mereka akan membeli dan menggunakan jasa yang ditawarkan influencer berdasarkan rekomendasi dari idolanya,” kata dia.

Langkah selanjutnya, sambungnya, memetakan pasar berdasarkan tingkat hirarki kebutuhan. “Jangan jual garam di laut, jangan tawarkan hal-hal yang tidak urgen bagi market di sektor digital,” jelasnya.

Namun, Ammar melanjutkan, selama ini sektor usaha digital banyak bergantung pada pembiayaan atau bantuan online. Seperti, kartu kredit, paylater, venture capital yang jeli memahami kebutuhan entreprenuer digital dan sebagainya.

“Kita berharap Bank Indonesia dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan, red) selaku regulator, juga berperan membantu menyosialisasikan aturan-aturan yang melindungi pelaku usaha digital kita,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepulauan Riau, Cahya, mengatakan kesulitan ekonomi akibat wabah Covid-19 memang cukup dirasakan kalangan pengusaha.

Pasalnya, wilayah ini menggantungkan perputaran ekonomi dari sektor industri, yang produknya bergantung dengan negara lain.

“Dampak dari Covid-19 tidak bisa dihindari oleh semua pengusaha, apalagi Kepulauan Riau yang berharap dari turis dan perindustrian, semua terdampak akibat semua negara menutup diri masing-masing untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini,” ujar Cahya, Jumat (6/11/2010).

Menurut dia, salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah menata agar kawasan ini kembali dilirik investor. Dengan begitu, maka arus modal akan kembali masuk. Itu dilakukan seiring pengendalian Covid-19, termasuk upaya meluaskan vaksinasi seperti yang ditargetkan pemerintah.

“Kita hanya bisa berharap agar Covid-19 ini cepat berlalu, dan semua kembali seperti sediakala,” ujarnya.

Kemudian, sambung Cahya, pihaknya juga berharap agar regulasi yang termaktub dalam Undang-undang Omnibus Law yang sudah lama dinantikan kalangan pengusaha, segera diberlakukan agar bisa membawa angin segar untuk pertumbuhan ekonomi.

“Kami sangat yakin, jika Omnibus Law bisa dijalankan sesuai rencana, Batam akan bisa menarik banyak investor dan pengangguran akan bisa diatasi segera,” katanya.

Reach taker mengangkat peti kemas di Pelabuhan Batuampar, Kota Batam. (F. Dalil Harahap/Batam Pos)

Ekonomi Kepri Tumbuh 3,23 Persen
Setelah berbulan-bulan berjuang keras melawan pandemi Covid-19, akhirnya kabar baik itu muncul juga. Adalah Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau, yang menyebut ekonomi Kepri pada triwulan III-2020, tumbuh 3,23 persen (quarter to quarter) dibanding triwulan II-2020. Meski begitu, ekonomi wilayah ini masih terkontraksi.

“Ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan III-2020 (year on year) mengalami kontraksi sebesar -5,81 persen, tapi lebih baik dibanding pertumbuhan triwulan II-2020 (year on year) yang terkontraksi sebesar -6,66 persen,” ujar Kepala BPS Kepulauan Riau, Agus Sudibyo dalam rilisnya.

Dari sisi lapangan usaha, kontraksi ekonomi terutama disebabkan oleh kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, dengan andil kontraksi sebesar -1,83 persen, diiikuti konstruksi dengan andil -1,59 persen. Sementara sisi pengeluaran, komponen yang memberikan andil kontraksi terbesar adalah net ekspor -3,97 persen dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dengan andil -2,17 persen.

Jika yang lain terkontraksi, di tengah pandemi Covid-19 ini ada juga beberapa sektor yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi (year on year) pada triwulan III-2020. Antara lain, dicapai oleh sektor Informasi dan Komunikasi sebesar 19,56 persen; diikuti Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib yakni 11,03 persen; dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 4,06 persen.

“Sebaliknya, Jasa Lainnya mengalami kontraksi terdalam sebesar -79,18 persen, diikuti Jasa Perusahaan sebesar -51,58 persen, dan Transportasi dan Pergudangan terkontraksi sebesar -45,88 persen,” katanya.

Sedangkan, jika dilihat berdasarkan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2020 dibanding triwulan II-2020, maka kategori yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Jasa Lainnya sebesar 449,49 persen. Disusul, kategori Transportasi dan Pergudangan tumbuh 43,88 persen, kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 35,75 persen, dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 27,84 persen. (***)

Reporter: Ratna Irtatik
Editor: Andriani Susilawati