Internasional

Penahanan Tak Diperpanjang, Warga Palestina Akhiri Mogok Makan Setelah 103 Hari

Seorang anak perempuan melihat saat pengunjuk rasa berpartisipasi dalam sebuah reli untuk menunjukkan solidaritas dengan tahanan Palestina Maher Al-Akhras yang melakukan mogok makan, yang ditahan oleh Israel, di Kota Gaza, Senin (12/10/2020). (F.Antara/Reuters/Mohammed Salem/hp/cfo)

batampos.id – Seorang warga Palestina yang ditahan tanpa dakwaan oleh Israel mengakhiri mogok makan selama 103 hari setelah penahanannya tidak akan diperpanjang. Seorang pejabat keamanan Israel mengonfirmasi bahwa Maher Al-Akhras, 49, telah mengakhiri aksi mogok makannya dan akan dibebaskan pada 26 November di akhir penahanan empat bulannya.

Pejabat itu tidak mengatakan apakah Akhras telah ditawari jaminan khusus. Akhras, seorang penduduk kota Jenin di utara Tepi Barat yang diduduki Israel, ditahan pada 27 Juli di bawah perintah “penahanan administratif” Israel.

Dia mulai mogok makan pada hari penangkapannya.Badan keamanan internal Israel Shin Bet mengatakan Akhras ditahan setelah menerima informasi bahwa dia adalah seorang agen dari kelompok militan Jihad Islam, sebuah tuduhan yang dibantah istrinya.

Akhras, yang telah berada di rumah sakit Israel dan menderita sakit jantung dan kejang, telah berjanji untuk terus menolak makanan padat meskipun ada keputusan pada bulan Oktober oleh Mahkamah Agung Israel untuk tidak memperpanjang penahanannya.

Tetapi setelah menerima apa yang disebut “komitmen tegas (oleh Israel) untuk tidak memperbarui penahanan administratifnya. Maher Al-Akhras memutuskan untuk mengakhiri mogok makan mulai hari ini, Jumat 6 November”, ujar Perkumpulan Tahanan Palestina, yang bekerja pada nama tahanan, dalam sebuah pernyataan.

Akhras akan tetap berada di rumah sakit di Israel sampai akhir penahanannya, kata pejabat keamanan Israel, yang berbicara tanpa menyebut nama. Ada sekitar 5.000 warga Palestina di penjara Israel, 350 di antaranya di bawah penahanan administratif, kata pejabat Palestina. Pejabat Israel mengatakan penahanan tanpa pengadilan kadang-kadang diperlukan untuk melindungi identitas para pelaku yang menyamar.(*)

Reporter : Antara
Editor : Dede Hadi