Nasional

Mengapa Berobat ke Singapura dan Malaysia?

Mengintip Perkembangan Rumah Sakit di Batam (1)

RS Mahkota Medical Centre (MMC) Melaka, Malaysia. (dokumentasi Socrates)

Sehat itu mahal. Apalagi kalau sakit, lebih mahal lagi. Pentingnya kesehatan, sangat terasa ketika dunia dilanda wabah Covid-19 yang menyebar dengan cepat. Bagaimana perkembangan teknologi dan pelayanan kesehatan di rumah sakit di Batam?

Laporan: Socrates
Editor: Jamil Qasim

DALAM pidato peresmian rumah-rumah sakit, para pejabat kita sering berkata, agar warga Batam tidak perlu berobat ke luar negeri. Lantas, mengapa warga Batam dan Kepri, terutama kalangan menengah atas, memilih berobat ke Singapura dan Malaysia?

Inilah beberapa alasannya. Pemeriksaan kesehatan atau medical check-up, di Malaysia tuntas dalam satu hari atau one day care. Dokter selalu ada dan stand by di satu rumah sakit, bukan praktik di beberapa tempat.

Teknologi kedokteran di negara jiran itu, selangkah lebih maju daripada Batam dan negara lain. Sehingga, dengan teknologi canggih, pengobatan menjadi lebih efektif dan efisien. Komunikasi antara dokter dan pasien, terjalin lebih akrab dan terbuka.

Kedekatan lokasi dan kemudahan akses ke Singapura dan Malaysia dari Batam, tentu saja menjadi faktor pendorong warga Batam berobat ke luar negeri. Malaysia juga memberikan bebas visa bagi pasien asal Indonesia untuk berobat. Selain berobat, pasien juga bisa jalan-jalan ke berbagai obyek wisata.

Alasan yang menyebutkan bahwa biaya berobat di Malaysia dan Singapura lebih murah, sepertinya tidak masuk akal. Sebab, perbedaan kurs mata uang mestinya biaya di negara jiran itu lebih mahal. Pemerintah Malaysia mengeluarkan regulasi menyamakan biaya berobat warga Malaysia dengan negara lain.

Namun, survei Marsh Benefit menyimpulkan, biaya berobat di Indonesia lebih mahal. Per tahun, rata-rata naik 12,6 persen, lebih tinggi dibanding Malaysia 12,5 persen, Singapura 9,1 persen, dan rata-rata Asia 10 persen. Biaya berobat di Indonesia jadi mahal lantaran biaya ruang operasi, ruang rawat inap, merupakan ongkos termahal dalam komponen total biaya pengobatan menjadi 21 persen.

Satu lagi, ternyata pajak alat kesehatan (alkes) di Indonesia sangat tinggi yang diterapkan kepada pedagang besar farmasi dan distributor alat kesehatan. Ini mengerek kenaikan biaya berobat.

Mari kita lihat, apa yang dilakukan rumah sakit di negara jiran Malaysia, seperti Mahkota Medical Centre, di Melaka. Pasiennya tidak hanya dari Batam, tapi juga dari Pekanbaru, Padang, dan Medan. Rumah Sakit Mahkota atau dikenal dengan MMC itu, mulai beroperasi sejak September 1994.

Rumah Sakit MMC berupa bangunan kembar 11 tingkat dan memiliki 630 tempat tidur, dilengkapi dengan 49 klinik, 9 Intesive Care Unit (ICU) dan 12 kamar operasi. Dokter spesialisnya lengkap. Mulai dari ahli kardiologi, dermatologi dan venereologi, radioterapi dan onkologi (kanker) pembedahan neuro, torasik dan kardiovaskular, ortopedik dan trauma, patologi hingga bedah plastik dan kosmetik.

Rumah sakit ini juga memiliki peralatan diagnostik dan terapi canggih seperti mammografi mendeteksi kanker payudara, endoskopi, fluoroskopi, lithotriptor untuk memecah batu karang, peralatan penyakit jantung, akselerator linier untuk penyakit kanker, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan pusat pembuatan bayi tabung atau penyuburan secara vitro (IVF).

Visinya jelas. Menjadi Hospital yang Terunggul di Malaysia. Mereka juga gencar berpromosi. Caranya, membuka kantor perwakilan di berbagai kota seperti Pekanbaru, Padang, Jambi, dan Jakarta. Marketingnya menggarap kalangan menengah atas, tokoh masyarakat, pengusaha hingga para pejabat, seperti wali kota, bupati, dan gubernur.

Kedatangan pasien dari Batam dan kota-kota lain, tidak saja menambah kocek dan pendapatan rumah sakit, juga ikut menyemarakkan sektor pariwisata. Di sekitar rumah sakit, dibangun hospital hotel dan hostel. Yang sakit satu orang, yang datang satu keluarga. Layanan rumah sakit ini, tidak hanya dokter, peralatan canggih dan perawat yang cekatan. Tapi juga layanan antar jemput pasien ke pelabuhan dan bandar udara. Gratis.

Komunikasi antara dokter dan pasien, hangat, bersahabat dan komunikatif. Semua dokter di Malaysia, tergabung dalam Malaysia Medical Council yang membuat berbagai kebijakan dalam dunia medis dan kebijakan tersebut dijalankan oleh Malaysia Medical Association, organisasi profesi para dokter seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Organiasasi ini sangat ketat dan tegas. Tidak hanya menindak dokter yang lalai dan melakukan malpraktik, mereka juga merespons pengaduan dan keluhan pasien soal layanan dokter. Makin banyak komplain dari pasien, maka makin buruklah reputasi dokter tersebut.

Pelayanan dokter umumnya memuaskan. Tidak ada kesan terburu-buru dan pelit informasi tentang penyakit yang diderita pasien. Keterusterangan dokter, tidak membuat pasien takut dan ragu-ragu, termasuk soal biaya yang dibutuhkan jika diperlukan tindakan operasi.

Ketika ditanya, kenapa tulisan dokter seperti resep selalu jelek? Dokter Sivanesan MBBS M Med Orto hanya tertawa. “Tidak semua tulisan dokter jelek. Malah, resep saya diketik dan di-print sehingga gampang dibaca pasien,” kata dokter bedah tulang itu.

Tidak hanya dokter, perawat, staf administrasi rumah sakit hingga sopir, memiliki dedikasi yang tinggi memberikan pelayanan terhadap pasien. Secara berkala, mereka diberi pelatihan tentang costumer service. “Pertanyaan kami adalah, who is the bos? Bos kami yang sebenarnya adalah pasien, bukan pemilik rumah sakit. Jika pasien puas, gaji dan bonus kami bagus,” ujar mereka.

Manajemen yang solid, pelayanan secara menyeluruh dan menganggap pasien sebagai bos, patut ditiru oleh manejemen rumah sakit di Indonesia. Tentu harus ditunjang dengan kecanggihan teknologi dan sumber daya manusia yang profesional. Yang berobat ke Malaysia tidak hanya orang sakit dan memerlukan perawatan serius, tapi juga orang-orang sehat yang mengecek kondisi kesehatannya di Health Screening Center.

Pemeriksaan kesehatan ini, dibagi dalam tiga paket yang bisa dipilih sesuai kemampuan keuangan pasien. Mulai dari tes fisik dan cek darah, tes urine, elektrokardiografi, X-ray dada, treadmill, pemeriksaan pap smear, ultrasound abdomen dan pemeriksaan payudara, tes paru-paru serta tes pendengaran dan mata. Jika ada kejanggalan dari hasil tes tersebut, dokter akan merujuk ke dokter spesialis.

Tingginya animo warga Indonesia berobat ke Malaysia, sehingga pemerintah Kerajaan Melaka mengembangkan konsep wisata sehat. Yakni, pemeriksaan kesehatan dan pelesiran. Jadi, Malaysia dapat dua. Pasien yang berobat, sekaligus wisatawan dari Indonesia. Tiga rumah sakit ini, menjadi andalan Melaka. Yakni, Mahkota Medical Centre, Rumah Sakit Pantai, dan The Southern Hospital Group.

Mahkota Medical Centre memiliki sepuluh Pusat Keunggulan (Centres of Excellence) seperti jantung, penggantian tulang dan sendi, kanker, kesehatan pria, neurologis dan saraf, kesehatan ibu dan anak, pemeriksaan kesehatan, diabetes, lambung, usus, pencernaan hati serta pusat emergency dan trauma centre.

Lalu, bagaimana rumah sakit di Batam menyikapi kondisi ini? Bukankah wabah Covid-19 bisa menjadi momentum rumah sakit di Batam menjadi pilihan utama warga Batam dan Kepri karena pembatasan kunjungan ke rumah sakit di negara jiran itu? (bersambung)