Ekonomi & Bisnis

Minat Konsumen ke Produk Lokal Semakin Masif

IMING-IMING DISKON: Pembeli mengecek sejumlah marketplace yang menawarkan diskon jelang Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

Batampos.id – Minat konsumen terhadap produk-produk lokal semakin masif terutama pada rangkaian pesta belanja Harbolnas. Berdasar data Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), pada momen Harbolnas tahun lalu, dari total transaksi Rp 9,1 triliun, lebih dari 51 persen disumbang penjualan produk lokal.

Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memang sangat terbantu dengan kemudahan digitalisasi yang dihadirkan platform e-commerce. Dengan waktu yang relatif singkat, UMKM mampu menggandakan omzet hingga menambah lapangan kerja berkat pemasaran yang lebih luas.

Misalnya, cerita salah satu UMKM dari Kota Bandung, Snack Mazter. Mengawali bisnis dari coba-coba, sang owner, William Moeliana dan Sherly Sutopo, berjualan snack sejak 2015. Kali pertama berjualan, William dan Sherly hanya menjadi distributor untuk snack dari perusahaan besar. Namun, setelah beberapa tahun bekerja sama dengan platform Shopee, bisnis mereka tumbuh pesat dan kini ikut menjadi reseller untuk berbagai produk snack lokal yang diproduksi UMKM sekitar mereka.

”Pada awal 2015, hanya ada 10 order per hari. Tapi, saat ini kami rata-rata melayani hingga 700 order dalam sehari. Dulu bisnis kami cuma jalan berdua, sekarang sudah bisa rekrut enam karyawan,” ungkap William.

Harbolnas pun menjadi momen penting bagi mereka untuk meningkatkan penjualan. William ingin semakin banyak produk lokal yang dijual di tokonya. ”Setiap bertemu dengan UMKM yang punya produk, kami edukasi untuk segera melegalkan produknya dengan beragam sertifikasi dan izin. Agar bisa segera mengembangkan penjualannya,” katanya.

UMKM lain dari Kota Bogor, Dapur Cihuy milik Devi Maharani, juga memaksimalkan momen Harbolnas di tengah pandemi. Devi yang bekerja sama dengan platform Blibli punya strategi khusus untuk mengembangkan pemasaran produknya: mendorong kolaborasi bareng berbagai komunitas.

”Baik itu komunitas yang terkait maupun tidak terkait dengan kuliner. Sebab, kami yakin UKM hanya bisa tumbuh bersama-sama,” tuturnya.

Devi mengandalkan penjualan produk kuliner di tokonya. Produk itu dibuat sendiri bersama sang ibunda. Dari awalnya hanya menyalurkan hobi memasak, penjualan produk Dapur Cihuy selama dua tahun terakhir sudah pernah dikemas dan dikirim ke seluruh wilayah Indonesia. Bahkan, Devi menyebut bahwa produknya kerap di-handcarry dan dipesan masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri seperti Jerman dan Australia. ”Omzet rata-rata juga meningkat dengan dibantu penjualan secara online. Dari awalnya Rp 50 juta–Rp 60 juta, sekarang bisa 5–6 kali lipat,” ungkapnya.

Apalagi, lanjutnya, dengan adanya Harbolnas, customer emak-emak pasti sangat suka diskon. ”Jadi, penjualan pasti naik,” ujarnya berkelakar.

Dari Jawa Timur (Jatim), salah satu pelaku UMKM di Surabaya, Sri Wahyuni yang memiliki usaha kerajinan AnDecopage, juga sedang menyiapkan stok produk menjelang pelaksanaan momen belanja online. Produknya berupa anyaman plastik dan pandan dengan produk jadi seperti tas, kotak tisu, dan keranjang untuk hantaran.

”Sekarang menyiapkan stok yang cukup menjelang 11.11 maupun 12.12 karena pengalaman pada promosi 9.9 sempat kehabisan stok sehingga harus kejar tayang,” jelasnya.

Sejak lama, Yuni –sapaan akrabnya– memanfaatkan fitur marketplace di Facebook. Pada November 2019– Maret 2020, dia juga sempat memakai Shopee. ”Karena kebanyakan pembeli saya adalah pelanggan lama, jadi saya fokus menggunakan marketplace Facebook untuk promosi,” tuturnya.

Dia menilai momen-momen seperti Hari Belanja Online Nasional efektif mendongkrak penjualan. Namun, karena tidak bergabung di e-commerce, dia lebih fleksibel dalam menyiapkan promo.

”Misalnya, ketika 17 Agustus, saya buatkan promo 17 persen. Kemudian, hari lain ketika Tahun Baru Hijriah dan Idul Adha, saya berikan harga khusus,” kata Yuni.

Upaya untuk menumbuhkan aktivitas transaksi juga dilakukan marketplace di daerah. Misalnya, yang dilakukan PT Meeber Teknologi Indonesia melalui aplikasi Meeberian.

CEO PT Meeber Teknologi Indonesia Rudy Hartawan menuturkan, tahun ini fokus perusahaan adalah menumbuhkan aktivitas transaksi dari tahun lalu. Situasi pandemi berdampak hebat terhadap penurunan transaksi harian. Kalau dibandingkan dengan kondisi normal Januari–Februari, transaksi harian selama pandemi mengalami penurunan. ”Namun, kami optimistis transaksi sepanjang 2020 bisa tumbuh 200–300 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu,” ujar Rudy.

Menurut dia, kesadaran pelaku usaha untuk mencari solusi meningkat dengan mendaftar menjadi merchant Meeberian. Namun, tidak sedikit pula yang sudah bergabung, kemudian menutup usahanya karena dampak pandemi. Tahun lalu tercatat ada 10 ribu merchant, tetapi kini tinggal 7.000 merchant.

”Kami edukasi sisanya ini karena untuk transformasi digital tidak bisa pasif menunggu pesanan, tapi harus proaktif,” ungkapnya.

Berdiri sejak 2018, Meeberian spesifik menggarap marketplace restoran dengan mengusung konsep contactless order sehingga pembayaran cukup dilakukan melalui ponsel. Kemudian, fitur layanan bertambah. Hingga sekarang, ada tiga layanan, yaitu takeaway, reservasi, dan delivery. Saat ini layanan Meeberian sudah berkembang di lima kota dari semula hanya tersedia di Surabaya dan Jakarta. Tiga kota lainnya adalah Malang, Bandung, dan Bali.

Selain itu, pihaknya mengembangkan layanan untuk usaha ritel seperti produk fashion. Namun, khusus layanan tersebut, pihaknya bekerja sama dengan Pemerintah Kota Mojokerto.

Ke depan, pihaknya terus memperluas layanan tersebut ke daerah lain dengan menggandeng pemerintah daerah setempat. ”Karena yang utama sekarang adalah mengembangkan transaksi nontunai,” tegasnya. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung