Nasional

Tensi Perang Dagang Akan Meningkat, AS – Sekutu Makin Mesra

Kebijakan Ekonomi Biden, Dampaknya, dan Apa yang Harus Dilakukan Indonesia

Presiden terpilih AS, Joe Biden dan Wakil Presiden terpilih Kamala Harris berdiri bersama pasangan, Jill Biden dan Doug Emhoff setelah menyampaikan sambutan di Wilmington, Delaware, setelah dinyatakan sebagai pemenang Pilpres AS 2020, Sabtu (7/11) waktu setempat. (F. Jim WATSON/AFP)

batampos.id – Terpilihnya Joe Biden sebagai pengganti Trump membawa sejumlah pertanyaan. Yang paling mengundang tanda tanya adalah bagaimana arah kebijakan ekonomi Biden dan dampaknya pada ekonomi Indonesia, serta apa yang harus dilakukan Indonesia?

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, menyebut, ada beberapa arah kebijakan ekonomi Biden ke depan. Andry menjelaskan, perjanjian perdagangan akan berfokus pada kerja sama regional, bukan bilateral. “Lalu, trade wars akan tetap ada dan tensinya akan meningkat. Ke depan AS akan lebih memperkuat kerja sama dengan sekutu AS,” jelasnya di Jakarta, Minggu (8/11).

Biden juga akan melakukan kebijakan lain dengan Buy America Plan. Ke depan, mantan wapres Barack Obama itu akan menaikkan standar 51 persen produk lokal untuk Made in America. “Pengadaan infrastruktur akan menggunakan produk AS yang diproduksi di AS,” imbuhnya.

Andry juga menyebut pemerintahan Biden akan memperkuat energi bersih dan melakukan join kembali pada Paris Agreement. Biden juga akan menaikkan corporate tax dari 21 persen menjadi 28 persen.

“Kemudian minimum tax untuk perusahaan di luar AS akan diturunkan, agar perusahaan-perusahaan di luar AS tidak masuk ke safe haven dan cenderung bisa menginvestasikan ke negara berkembang. Nah, ini bisa jadi peluang (untuk Indonesia),” urai Andry.

Dengan kebijakan-kebijakan itu, apa pengaruhnya bagi Indonesia? Andry menyebut, ruang kerja sama bilateral antara kedua negara akan lebih ketat. Sebab, kebijakan perdagangan yang dianut Biden adalah regional daripada bilateral.

Tetapi, ada peluang bagi RI untuk meningkatkan ekspor ke AS. Pemicunya adalah pemberian fasilitas generalized system of preferences (GSP) atau bebas bea masuk bagi RI dari AS. Persetujuan GSP baru dilaksanakan menjelang pemungutan suara Pilpres AS. Sebelumnya GSP dicabut karena Indonesia digolongkan negara maju.

Foreign Direct Investment (FDI) masuk ke Indonesia juga diramal akan meningkat. Hal itu disebabkan karena kebijakan minimum tax bagi perusahaan di luar AS yang akan diturunkan. “Hal ini perlu digarisbawahi, termasuk investment diversion dari Cina. Sebab, kalau kita tidak bisa memanfaatkan investment diversion ini maka kita akan kalah. Karena pada saat trade wars kita tidak dapat apa-apa dari investasi yang keluar dari Cina,” tuturnya.

Andry melanjutkan, setelah ada pandemi, era supply chain yang terbesar di Tiongkok akan menurun. Ketidakpastian trade wars pun akan meningkat dan meningkatkan peluang investasi keluar dari Tiongkok dan peluang itu harus bisa ditangkap oleh Indonesia.

Ke depan, lanjut Andry, Indonesia perlu bersiap dengan kemenangan Biden yakni menangani pandemi dengan lebih serius. Dia menegaskan, sektor keuangan akan membaik jika sektor industri pulih. Sektor industri akan membaik jika permintaan domestik membaik.

“Kecepatan penanganan pandemi juga akan mendorong masyarakat beraktivitas secara normal dan mendorong permintaan domestik. Terakhir, pemerintah harus fokus pada stimulus fiskal yang bisa meningkatkan konsumsi dan menambah fleksibilitas penggunaan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN),” jelasnya.

Terpisah, Analis Pasar Modal, Hans Kwee, menyebut, ke depan, pergerakan saham di seluruh dunia termasuk Indonesia akan mungkin menguat. “Penguatan itu menyambut kemenangan Biden. Tetapi sesudah itu akan sangat rawan mengalami aksi profit taking akibat kenaikan (indeks) yang banyak pada pekan lalu,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Hans, perlu diwaspadai adanya potensi aksi ambil untung dari pelaku pasar yang dipicu adanya sengketa politik di AS. “Resistance IHSG di level 5,381 sampai 5,500 dan Support di level 5,246 sampai 5,161,” katanya.

Dia melanjutkan, dana asing akan kembali berpotensi masuk ke emerging market. Obligasi Pemerintah Indonesia juga berpotensi mendapat sentimen positif karena nilai tukar rupiah yang dianggap undervalued. “Selain itu, biaya lindung nilai (hedging) yang relatif rendah dan Yield US Treasury juga masih akan tetap rendah,” jelasnya.

Dosen hubungan internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Teuku Rezasyah, mengatakan, banyak pekerjaan rumah bagi Biden setelah dinyatakan menang Pilpres AS. Hingga pelaksanaan pelantikan di pertengahan Januari 2021 nanti, Biden dihadapkan dengan tantangan rujuk nasional. “Pilpres AS telah memicu adanya polarisasi,” katanya, kemarin.

Polarisasi antara kelompok yang mendukung dia dan lawanannya, Trump. Upaya mewujudkan rujuk nasional itu sangat penting. Sebab sebagai Presiden, Biden nanti bukan hanya menjadi pimpinan para pendukungnya. Tetapi juga bapak bangsa bagi pendukung Trump.

Selain itu, Biden nantinya juga akan banyak melakukan pengkajian dan konsultasi internal di Gedung Putih. Di antaranya adalah memahami kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Trump dan tidak sejalan dengan Partai Demokrat yang mengusungnya.

Menurut Rezasyah banyak kebijakan era Trump yang tidak sejalan dengan arah kebijakan Partai Demokrat. Di antaranya adalah menyelesaikan konflik, perjanjian iklim dunia, dan trans pacific partnership.

Rezasyah menuturkan, tugas Biden lainnya adalah melanjutkan penanganan pandemi Covid-19. Dia mengatakan, dampak pandemi itu di AS cukup luar biasa. Di antaranya korban meninggalnya berlipat-lipat dibandingkan jumlah serdadu AS yang gugur di perang Vietnam.

Perekonomian di AS saat ini juga tergerus pandemi Covid-19. Untuk itu Biden perlu mengeluarkan kebijakan stimulus perlindungan ekonomi. Di antaranya adalah banyak industri di sana yang terdampak pandemi. “Kemudian juga banyak mahasiswa di sana yang tidak bisa membayar SPP,” katanya. Pemicunya adalah mahasiswa itu tidak bisa bekerja di tengah pandemi. Sebab tempatnya bekerja tutup atau terdampak Covid-19.

Rezasyah belum bisa memastikan politik luar negeri Biden, khususnya kaitannya dengan Indonesia. Sebaliknya di era Presiden Trump, menurut dia tidak banyak kritik untuk Indonesia yang dilontarkan Trump. “Trump hanya mendesak proyek AS di Indonesia sesuai prosedur,” jelasnya. Trump di antaranya menilai ekonomi di Indonesia biayanya tinggi.

Kemudian, meskipun tidak dilontarkan Trump secara langsung, mereka juga menyoroti perlindungan kelompok minoritas di Indonesia. “Di antaranya kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender),” jelasnya.

Menurut Rezasyah pemerintah Indonesia harus bisa berkomunikasi yang baik soal perlindungan minoritas, khususnya isu LGBT. Bahwa penanganan LGBT di Indonesia tidak sebatas soal hukum sana, tetapi juga terkait dengan agama dan sosial budaya yang dijunjung tinggi masyarakat Indonesia.

Warga Amerika melakukan perayaan setelah Joe Biden dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden 2020 di Alun-alun Black Lives Matter, seberang Gedung Putih di Washington DC, Sabtu 7/11) waktu setempat. (F. Olivier DOULIERY/AFP)

Wapres Perempuan Pertama
Kemenangan Joe Biden tidak terlepas dari kiprah cawapresnya, Kamala Harris. Sosok perempuan 56 tahun itu dianggap mereprentasikan keberagaman yang menjadi warna Amerika.

Warga Desa Thulasendrapuram, India, bersorak-sorai kemarin. Penduduk di desa dengan populasi 350 jiwa itu menyalakan kembang api. Mereka lantas beramai-ramai pergi ke kuil untuk berdoa.

Sumber kebahagiaan mereka adalah artikel yang dimuat di koran India. Kamala Harris dipastikan bakal menempati kursi wakil presiden (Wapres) AS. ”Kami menunggu kabar ini. Selamat,” kata pejabat desa Aulmozhi Sudhakar kepada Associated Press.

Harris punya tempat spesial di hati masyarakat Thulasendrapuram. Saat pemilu, Sudhakar mengajak warga berdoa di kuil. Mereka memohon kemenangan Harris pada pemilu AS. Semua itu dilakukan karena mereka merasa desa tersebut merupakan tanah leluhur Harris. ”Kamala Harris adalah putri kebanggaan desa kami,” tuturnya.

Yang tertinggal di desa itu mungkin hanya kenangan dan saudara jauh. Lebih tepatnya, desa tersebut adalah tempat kelahiran Puthen Veettil Gopalan, kakek Harris. Gopalan pindah dari desa tersebut menuju Chennai, ibu kota Negara Bagian Tamil Nadu, berpuluh-puluh tahun lalu.

Namun, itu tidak penting. Seluruh India memang menyebut Harris sebagai putri kebanggaan mereka. Termasuk Perdana Menteri India, Narendra Modi. ”Keberhasilan Harris merupakan kebanggaan semua India. Saya harap hubungan India-AS makin kuat dengan dukungannya,” ujarnya menurut South China Morning Post.

Harris memang bukan warga India. Dia lahir di Oakland, California, pada 20 Oktober 1964. Namun, dalam nadinya mengalir darah Jamaika dan India. Ayahnya, Donald Harris, merupakan ekonom asal Jamaika yang datang ke AS pada 1961. Sang ibu, Shyamala Gopalan, adalah peneliti medis asal India yang datang ke AS pada 1960.

Donald dan Shyamala bercerai saat Harris berusia 7 tahun. Karena itu, Harris mengakui bahwa pengaruh ibu yang membesarkannya dengan sang adik, Maya, sangat besar. Harris menuturkan, warisan budaya yang diterima dari ibunya merupakan salah satu kunci keberhasilannya. Harris juga sering diajak ke Chennai untuk bertemu dengan sang kakek. ”Saya ingat Kamala sering bertanya banyak hal kepada ayah,” ungkap Balachandran Gopalan, paman Harris.

Keluarga Gopalan termasuk kaum Brahma di Tamil Nadu. Namun, Balachandran dan Harris menyatakan bahwa Gopalan bukanlah keluarga darah biru yang kolot. Gopalan yang bekerja sebagai pegawai negeri menganggap pendidikan bukan sekadar untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk membantu orang lain. ”Mantra keluarga besar kami adalah membantu orang lain akan membantu dirimu sendiri. Keluarga kami juga mendidik perempuan sebagai pihak terkuat,” paparnya.

Harris dekat dengan keluarga besar ibunya. Saat mengejar kursi Senat AS, dia meminta bibinya di India memecah 108 kelapa di Kuil Varasiddhi Vinayagar. Ritual Hindu tersebut dilakukan untuk mendoakan seseorang agar berhasil.

Pada saat yang sama, Harris diajak ibunya mengikuti ibadat di gereja setiap Minggu. Sejak kecil, mantan Jaksa Agung California itu diajarkan untuk merangkul semua unsur budaya. ”Ibunya memang punya pengaruh terbesar bagi Kamala. Salah satunya, prinsip untuk tak membedakan orang dari agama, makanan, atau status sosial,” ungkap Balachandran.

Dengan bekal itu, dia dinikahi Douglas Emhoff, seorang Yahudi yang berstatus duda beranak dua. Kini Harris mewakili mosaik kebudayaan di AS. Karena itu, dia mendapat perhatian lebih daripada Joe Biden. Apalagi, statusnya sebagai perempuan mendobrak sejarah. Selama ini sosok perempuan tidak pernah lolos dari kontestasi pilpres. Hillary Clinton, Carly Fiorina, dan Sarah Palin sudah mencoba dan gagal. ”Saya mungkin yang pertama. Tapi, saya pastikan bahwa saya bukan yang terakhir,” tegas Harris.

 Jokowi Beri Selamat Biden
Para pemimpin dunia langsung menyambut kemenangan Joe Biden dan Kamala Harris di Pilpres AS dengan ucapan selamat. Tidak terkecuali Presiden Joko Widodo (Jokowi). Lewat media sosial resminya, kemarin, Jokowi menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Biden sebagai presiden ke-46 Amerika Serikat.

Ada dua hal yang disampaikan Jokowi terkait kemenangan Biden-Harris. Pertama adaah soal demokrasi. Dimana Biden terpilih lewat pemilihan langsung seperti Indonesia meskipun dengan sistem penentuan keterpilihan yang berbeda, yakni electoral college. “Kemenangan besar ini merupakan refleksi dari harapan atas demokrasi,” ujar Jokowi.

Kedua adalah tentang proyeksi dan harapan Indonesia terhadap hubungan kedua negara saat nanti Biden memimpin AS. Yakni, adanya penguatan kemitraan strategis antara Indonesia dan AS. “Juga mendorong kerja sama kita di bidang ekonomi, demokrasi, dan multilateralisme untuk kepentingan rakyat kedua negara,” lanjutnya.

Jokowi sendiri pernah bertemu dengan Biden di sela lawatannya ke AS pada Oktober 2015. Saat Biden masih menjadi wapres AS yang berpasangan dengan Barrack Obama sebagai presiden. Kala itu, Biden mengundang Jokowi ke rumah dinasnya di Washington untuk jamuan makan siang. (*)

Sumber : JP Group
Editor : Jamil Qasim