Nasional

Ekonomi Kepri Menuju Pemulihan

 BI Desak Pemda Percepat Belanja Pemerintah

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni Hardi. (Cecep Mulyana/Batam Pos)

batampos,id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri meyakinkan perekonomian Kepri akan bangkit lebih cepat. Bahkan, BI memperkirakan, ekonomi Kepri semakin membaik di akhir tahun 2020 ini, dan mulai melaju di 2021.

”Kepri sudah melewati batas bawah dan sekarang menuju pemulihan. Itu bukti awal kondisi ekonomi kita sudah membaik,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni Hardi, Senin (9/11).

Ia menyarankan, agar ekonomi Kepri semakin membaik di akhir tahun 2020 ini, maka pemerintah daerah (pemda), termasuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri dan Badan Pengusahaan (BP) Batam, serta pemda lainnya di Kepri mempercepat belanja. Pemda harus mendorong penyerapan anggaran semaksimal mungkin.

Musni menyebut, pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan ketiga 2020 memang masih berada di posisi minus 5,81 persen. Namun, ada peningkatkan 3,23 persen dari posisi di triwulan kedua 2020 yang berada di level minus 6,66 persen.

Musni menyebutkan, kontribusi terbesar pemulihan berasal dari tiga sektor utama, yakni industri pengolahan, konstruksi, dan industri yang berkaitan dengan pariwisata.

Dari sisi produksi, industri pengolahan memang memberi andil pertumbuhan terbesar, yakni 1,73 persen. ”Kalau di Kepri hampir 73 persen perekonomiannya didominasi sektor industri pengolahan, konstruksi, dan sektor yang terkait dengan pariwisata,” ujarnya.

Peningkatan belanja pemerintah dianggap sebagai solusi realistis, mengingat dapat mendorong sektor pariwisata di tengah pandemi sangat sulit. ”Pariwisata belum dibuka secara luas, masih di lingkungan pebisnis saja. Jadi, tentunya butuh waktu untuk meyakinkan negara lain, khususnya mayoritas wisman asal Singapura dan Malaysia,” ungkapnya.

Namun, jika momentum pembukaan perbatasan dengan Singapura dijaga baik, serta kepatuhan terhadap protokol kesehatan (protkes) ditingkatkan, ia yakin dalam waktu dekat akan semakin membaik.

”Sektor konstruksi dan perdagangan juga mulai bergerak. Tetapi sekarang yang terpenting, bagaimana mengendalikan Covid-19, karena pengaruhnya terhadap ekonomi sangat besar,” paparnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri menyebut ekonomi Kepri pada triwulan III-2020, tumbuh 3,23 persen (quarter to quarter) dibanding triwulan II-2020. Meski begitu, ekonomi wilayah ini masih terkontraksi.

“Ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan III-2020 (year on year) mengalami kontraksi minus 5,81 persen, tapi lebih baik dibanding pertumbuhan triwulan II-2020 (year on year) yang terkontraksi minus 6,66 persen,” ujar Kepala BPS Kepri, Agus Sudibyo, dalam rilisnya.

Dari sisi lapangan usaha, kontraksi ekonomi terutama disebabkan kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, dengan andil kontraksi minus 1,83 persen, diikuti konstruksi dengan andil minus 1,59 persen.

Sementara sisi pengeluaran, komponen yang memberikan andil kontraksi terbesar adalah net ekspor minus 3,97 persen dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dengan andil minus 2,17 persen.

Jika yang lain terkontraksi, di tengah pandemi Covid-19 ini ada juga beberapa sektor yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi (year on year) pada triwulan III-2020. Antara lain, dicapai sektor Informasi dan Komunikasi sebesar 19,56 persen; diikuti Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib yakni 11,03 persen; dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 4,06 persen.

“Sebaliknya, Jasa Lainnya mengalami kontraksi terdalam minus 79,18 persen, diikuti Jasa Perusahaan minus 51,58 persen, dan Transportasi dan Pergudangan terkontraksi minus 45,88 persen,” katanya.

Sedangkan, jika dilihat berdasarkan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2020 dibanding triwulan II-2020, maka kategori yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Jasa Lainnya sebesar 449,49 persen.

Disusul, kategori Transportasi dan Pergudangan tumbuh 43,88 persen, kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 35,75 persen, dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 27,84 persen. (*)

Reporter : Rifki Setiawan
Editor : Jamil Qasim