Internasional

Ilmuwan Inggris Temukan Gejala Pasien Covid-19 yang Belum Diketahui

Ilustrasi pasien Covid-19 tengah menjalani perawatan. Ilmuwan Inggris temukan gejala pada pasien Covid-19 yang belum diketahui. (F.JawaPos.com/AFP)

batampos.id – Sejumlah gejala Covid-19 berkembang selain demam, batuk, dan sesak napas. Ada berbagai gejala lain yang terkadang mengecoh pemeriksaan. Misalnya diare dan kehilangan bau serta rasa. Bahkan, kini ada lagi gejala lainnya yang mulai banyak ditemukan pada pasien Covid-19.

Dalam sebuah penelitian baru-baru ini, seperti dilansir dari Science Times, para peneliti menemukan hubungan antara Covid-19 dan gejala terkait pendengaran yang disebut tinnitus.

Peneliti internasional yang dipimpin oleh Anglia Ruskin University di Inggris menerbitkan temuan mereka di jurnal Frontiers in Public Health. Mereka menggambarkan bagaimana gejala tinnitus telah berubah selama pandemi. Tim menganalisis pasien dengan tinnitus yang sudah ada sebelumnya dan kasus-kasus di mana virus Corona menyebabkan masalah telinga.

Menurut Mayo Clinic, tinnitus bukanlah suatu kondisi tetapi gejala dari kondisi yang mendasari seperti gangguan pendengaran atau cedera telinga. Orang dengan tinnitus mengalami sensasi tidak nyaman saat mendengar suara di telinga seperti dering, senandung, atau klik.

Tinnitus memengaruhi hingga 20 persen orang dan biasanya bukan masalah kesehatan kecuali jika dikaitkan dengan kondisi yang mendasari seperti gangguan sistem peredaran darah. Studi tersebut melibatkan 3.103 orang di 48 negara. Tim menemukan bahwa 40 persen orang yang mengalami gejala virus Corona dan memiliki masalah dengan tinnitus, membuat penyakit itu memburuk.

Para peneliti awalnya berfokus pada orang dengan tinnitus yang sudah ada sebelumnya. Akan tetapi menemukan bahwa ada 7 pasien Covid-19 yang mengalami tinnitus setelah dites positif terkena virus Corona. Hasil juga menunjukkan bahwa tinnitus mungkin merupakan gejala jangka panjang atau gejala virus yang berkepanjangan.

Di Inggris Raya, tinnitus menyerang hampir 1 dari 8 orang dewasa. Kasus-kasus ini juga terkait dengan depresi, kecemasan, dan gangguan emosi lainnya. Sedangkan di Amerika Serikat, sekitar 29 persen menjawab bahwa pandemi berdampak negatif terhadap tinnitus yang diidap.

Salah satu penyebab tinnitus yang umum adalah kerusakan sel rambut di telinga bagian dalam, yang memengaruhi tekanan gelombang suara. Bisa juga dipicu oleh kerusakan saraf akibat kondisi kesehatan kronis.

Persentase orang yang berdasar survei online, yang terdiri dari 60 pertanyaan, melaporkan bahwa tinnitus mereka memburuk setelah tindakan jarak sosial diterapkan. Jarak fisik secara dramatis memengaruhi gaya hidup dan rutinitas kerja setiap orang.

Peneliti menyimpulkan bahwa pandemi telah berdampak negatif pada penderita tinnitus, terutama mereka yang memiliki gejala virus Corona. Atau sebaliknya, virus Corona bisa menyebabkan seseorang yang positif Covid-19 mengalami tinnitus. (*)

Reporter : Jp Group
Editor : Dede Hadi