Home

Kecelakaan Kerja di Kota Batam Tinggi

Versi Disnaker Kepri 2.832 Kasus, Versi BPJAMSOSTEK Batam - Nagoya 4.695 kasus, sepanjang 2020 di Batam

Kemacetan terjadi di Jalan R Suprapto arah Batuaji tujuan Batam Center, tepatnya simpang Panbil, Mukakuning, Seibeduk, Senin (2/9). Di jalan ini langgganan macet bila jam-jam kerja. Pengendara berharap supaya segere diperlebar karena jalan yang begitu sempit. (Dalil Harahap/Batam Pos)

batampos.id – Tingkat kecelakaan kerja (laka kerja) di Kota Batam terbilang tinggi. Sepanjang 2020 ini, jumlah kecelakaan kerja mencapai 2.832 kasus. Penyumbang terbesar adalah jalanan saat pekerja menuju atau kembali dari tempat kerja.

”Dari 2.832 kasus laka kerja, 1.192 kasus merupakan kecelakaan kerja di jalan raya,” kata Kepala Pengawas Ketenagakerjaan Provinsi Kepri untuk Wilayah Kerja Kota Batam, Sudianto, Senin (9/11).

Menurutnya, angka kecelakaan kerja di jalan raya ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Bahkan 40 persen dari jumlah total laka kerja. ”Setiap tahun angka kecelakaan kerja di jalan raya ini memang terus meningkat,” sebutnya.

Berbagai upaya terus dilakukan pengawas ketenagakerjaan guna meminimalisir angka kecelakaan kerja di jalan raya. Di antaranya, mengimbau kepada Health, Safety, and Environment (HSE) perusahaan agar terus mengingatkan karyawannya untuk mematuhi prtokol keselamatan di jalan raya.

”Safety K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) bukan hanya di tempat kerja, tetapi juga dari rumah menuju perusahaan atau sebaliknya. Untuk itu, kita selalu mengingatkan keselamatan kerja di jalan raya ini penting, mengingat tingginya angka kecelakaan kerja di jalan,” tuturnya.

Selain di jalan raya, kecelakaan kerja tertinggi lainnya disebabkan material sebanyak 582 kasus, mesin produksi 474 kasus, lain-lain 248 kasus, dan kejatuhan 199 kasus. Lalu, kecelakaan kerja karena alat berat 79 kasus, bahan kimia 54 kasus, dan bejana tekan 4 kasus.

Pekerja PT KTU, Sekupang, dievakuasi setekah ditemukan tewas, beberapa waktu lalu. Sepanjang tahun 2020 ini, tingkat kecelakaan kerja tinggi. 2.832 Kasus versi Disnaker Kepri dan 4.695 kasus versi BPJAMSOSTEK Batam – Nagoya. (Dalil Harahap/Batam Pos)

Sementara itu, lanjut Sudianto, jumlah pekerja yang meninggal kecelakaan kerja berjumlah 13 orang. ”Yang meninggal ini rata-rata di lalu lintas. Kalau di perusahaan misalnya yang ngelas kemarin, tapi tak sampai meninggal. Ada juga yang tangannya terpotong mesin produksi tapi juga tidak meninggal dunia,” tambahnya.

Sudianto mengimbau, agar setiap kali terjadi kecelakaan kerja dilaporkan ke Pengawas Ketenagakerjaan Kepri Wilayah Kerja Kota Batam. Tujuannya, agar terdata dan memudahkan pembayaran klaim Jaminan Kecelakaan Kerja di BPJAMSOSTEK.

”Paling lambat 24 jam harus lapor kita, kalau terlambat klaim BPJS susah. Kalau misalnya belum sempat ngurus, minimal sudah dikomunikasikan, sehingga terdata dan mudahkan pencairan klaim,” terangnya.

Terpisah, Kepala Kantor BPJAMSOSTEK Batam – Nagoya, Eko Yulianda, beberapa waktu lalu menyebutkan, selama 2020 ini, pihaknya sudah membayar klaim sebesar Rp 21,3 miliar dari 4.695 kasus kecelakaan kerja yang korbannya bagian dari peserta BPJAMSOSTEK yang mendapat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).

”Iya, sudah kami bayarkan Rp 21,3 miliar dari 4.695 peserta JKK,” sebut Eko. (*)

Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : Jamil Qasim