Nasional

P2G Minta Sisa Anggaran Kuota untuk Perluas Jaringan Listrik

Sejumlah siswa menggunakan fasilitas WiFi saat mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh di balai warga Kelurahan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). Warga setempat menyediakan wifi gratis bagi pelajar yang terkendala biaya kuota internet untuk belajar secara daring. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

batampos.id – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Oktober kemarin telah mengirimkan bantuan kuota gratis kepada 35,7 juta penerima, di mana targetnya sekitar 59 juta orang. Melihat ini, pasti akan ada anggaran tersisa tiap bulannya dari alokasi Rp 7,2 triliun.

Ditambah lagi, operator akan mengembalikan pembayaran kuota gratis Kemendikbud apabila tidak digunakan atau zero usage oleh si penerima. Dengan sisa anggaran itu, Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim, meminta untuk dimanfaatkan dalam pembangunan jaringan listrik.

Pasalnya, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) 2020, terdapat 46 ribu satuan pendidikan yang wilayahnya belum teraliri listrik dan jaringan internet.

“Membangun tower-tower. Memperluas jaringan listrik ke sekolah-sekolah (wilayah) yang belum teraliri listrik. Artinya, listrik ini sesungguhnya adalah kebutuhan pokok, mendasar jika pendidikan mau lebih merata, optimal, dan berkualitas,” imbuhnya.

Tidak adanya jaringan listrik juga akan membuat rencana Mendikbud Nadiem Makarim untuk digitalisasi sekolah pada 2021 tidak akan optimal. Bahkan bisa dibilang percuma.

Jika melihat pengalaman terkait hal tersebut, Kemendikbud pernah mengirim bantuan ke Kabupaten Tambrauw, Papua Barat berupa komputer untuk sekolah-sekolah. Namun tak terpakai karena di sekolah tersebut listriknya belum masuk.

“Malah jadi rongsokan akhirnya. Digitalisasi sekolah sebagaimana rencana besar Mas Menteri tahun 2021 akan sia-sia jika 2 prasyarat di atas tidak terpenuhi. Itu mutlak. Percuma saja Kemendikbud mengirim tablet dan laptop ke sekolah-sekolah, jika mereka sekolah itu tak memiliki jaringan internet dan listrik. Laptop dan tablet akan menjadi barang rongsokan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Nadiem mengungkapkan tema utama pendidik Indonesia pada 2021 yang akan fokus pada digitalisasi sekolah. Untuk itu, pihaknya berencana menyediakan gawai dan laptop untuk menunjang PJJ.

“Jadi tahun depan digitalisasi sekolah akan jadi tema utama. Di mana persiapan semua sekolah mempunyai gawai, laptop-laptop untuk mengerjakan PJJ,” terangnya dalam webinar Cerita di Kemenkeu Mengajar, Senin (26/10). (*)

Sumber: JP Group
Editor: Jamil Qasim