Feature

Spirit Baru Rumah Sakit BP Batam

Mengintip Perkembangan Rumah Sakit di Batam (2-Habis)

dr Afdhalun A Hakim. (Dokumentasi Socrates/Batam Pos)

Sudah berapa lama Anda tidak berobat ke Rumah Sakit Otorita Batam yang kini bernama Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam? Kesan kumuh, tak nyaman bahkan seram, pelan-pelan berubah. Bagaimana konsep baru rumah sakit pertama di Batam ini?

Laporan: Socrates
Editor: Jamil Qasim

TIDAK mudah mengelola rumah sakit di Batam. Selain karena pertumbuhan penduduk yang cepat, perjalanan awal rumah sakit di Batam dimulai dari poliklinik, puskesmas atau rumah bersalin yang naik kelas menjadi rumah sakit. Selain itu, warga Batam dan Kepri punya pembanding. Rumah sakit di Singapura dan Malaysia.

Kehadiran RSBP seiring dengan sejarah perkembangan Pulau Batam. Awalnya, adalah poliklinik Pertamina tahun 1971 dan naik kelas menjadi rumah sakit tipe C sejak 11 Agustus 1983. Lalu, 19 tahun kemudian, 2 Mei 2002 menjadi rumah sakit tipe B. Dan pada Desember 2018 berubah dari rumah sakit perusahaan menjadi rumah sakit pemerintah.

Perubahan yang tergolong lambat dan memakan waktu belasan tahun. Sementara itu, rumah sakit swasta bermunculan. Antara lain, Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) 1984. Tahun yang sama, berdiri Rumah Sakit Harapan Bunda yang semula klinik bersalin dan mulai beroperasi menjadi rumah sakit umum sejak 5 Juni 1986. Selanjutnya, 17 November 2001 berdiri Rumah Sakit Santa Elizabeth di Blok II Lubukbaja.

Rumah sakit swasta yang cukup besar hadir di Batam, yakni Rumah Sakit Awal Bros, yang berdiri pada tanggal 26 Juni 2003 yang merupakan cabang Awal Bros Pekanbaru. Rumah Sakit Graha Hermine adalah salah satu rumah sakit swasta di Batam yang berdiri pada tanggal 3 Desember 2009 di Batuaji.

Lalu, pada 17 November 2015, diresmikan Rumah Sakit Santa Elisabeth Batam Kota, sebagai Rumah Sakit Umum Tipe C dengan status berada di bawah kepemilikan Konggregasi Fransiskanes Santa Elisabeth.

Setahun kemudian, tepatnya 29 Agustus 2016, Rumah Sakit Soedarsono Darmosoewito diresmikan, di kawasan industri terpadu Kabil. Rumah Sakit Hj. Bunda Halimah didirikan di Kota Batam pada tahun 2018. Saat ini, baru ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang sudah beroperasi.

Rumah sakit swasta lainnya seperti RS Camantha Sahidya, RSIA Mutiara Aini, RS Charis Medical, RSIA Griya Medika, RSIA Frisdhy Angle, RS Keluarga Husada, RSIA Kasih Sayang Ibu, melengkapi daftar rumah sakit di Batam.

Rumah sakit pemerintah, diawali dari Puskesmas Batuaji yang sudah beroperasi sejak 8 Oktober 1986, lalu sejak 11 Oktober 2004 menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah.

Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri yang mulai dibangun tahun 2013 dan diresmikan Juni 2016 oleh Kapolda Kepri saat itu, Brigjen Pol Sam Budigusdian. Rumah sakit ini terletak di Jalan Dang Merdu, Batubesar.

Yang terbaru, adalah Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang yang diresmikan pada April 2020 lalu. RSKI Pulau Galang dipersiapkan awal Februari 2020 dan hanya dalam tempo 2 bulan, mulai beroperasi 6 April 2020. RSKI Galang dibangun berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2020 tentang pembangunan fasilitas observasi dan penampungan dalam Penanggulangan Covid-19 atau penyakit infeksi emerging di Pulau Galang.

Data Batam dalam angka 2020 menyebutkan, total jumlah rumah sakit di Batam sebanyak 18 buah. Dengan bertambahnya rumah sakit yang beroperasi, sedikitnya ada 20 rumah sakit, termasuk RSKI Galang khusus Covid-19.

RSBP yang berlokasi di Jalan Dr Cipto Mangunkusumo, Sekupang ini luasnya sekitar 15.000 meter persegi. Lokasinya yang hijau dan asri, jauh dari jalan raya, bebas polusi udara dan suara. RSBP di kelilingi pepohonan dan danau, lautan, dan bisa memandang Singapura dari kejauhan.

Visinya kini lumayan oke. Menjadikan RSBP sebagai etalase pelayanan kesehatan di Indonesia. Misinya, mewujudkan pelayanan kesehatan prima dan berstandar internasional, memiliki fasilitas pelayanan yang lengkap serta unggul dalam perawatan penyakit degeneratif. Yakni, penyakit yang muncul seiring dengan pertambahan usia karena menurunnya fungsi-fungsi tubuh.

Direktur RSBP Batam, dr Afdhalun A Hakim, Sp.JP (K) FIHA, FAsCC yang baru dilantik 18 September 2020 mengatakan, RSBP kini hadir dengan konsep baru. “Saya menyebutnya, new RSPB, new spirit, dan new service,” kata Afdhalun, dokter terbaik RSBP tahun 2005 itu.

“Kami siap melayani masyarakat dan memberikan pelayanan terbaik untuk kesehatan Anda. Tidak hanya warga Batam dan Kepulauan Riau, tetapi juga melayani warga negara asing dari luar negeri. Kami memiliki peralatan modern, dokter spesialis yang berpengalaman yang siap memberikan pelayanan terbaik buat Anda sekeluarga,” kata Afdhalun, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini.

RSBP sudah terakreditasi dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dengan status paripurna. KARS adalah organisasi independen nonprofit yang komit meningkatkan mutu dan keselamatan pasien.

Tujuan akreditasi ini agar rumah sakit tersebut mendapat pengakuan dari masyarakat dan dunia internasional dari International Society Quality in healthcare (ISQua). RSBP sudah mendapat akreditasi paripurna bintang lima dan harus berupaya keras mendapat pengakuan internasional atau bintang enam.

Di Batam, hanya lima rumah sakit yang sudah mencapai tingkat paripurna. Yakni, RS Santa Elizabeth, RS Budi Kemuliaan, RS Awal Bros, RSUD Embung Fatimah, dan RSBP Batam.

RSPB kini memiliki 35 orang dokter spesialis. Mulai dari kebidanan dan kandungan, onkology, paru-paru, syaraf, urologi, bedah anak, infeksi tropis, vitreoretina, THT, kulit dan kelamin, jantung dan pembuluh darah, ortopedi, gigi dan mulut hingga psikolog.

Gedung baru RSBP sudah beroperasi sejak Mei 2019. Tim dokter spesialis lengkap. Begitu juga tim keperawatan. Bagaimana dengan peralatan dan fasilitas medis? RSBP memiliki peralatan Cath lab, yakni layanan kateterisasi jantung sejak 2016 silam.

Cath lab adalah alat canggih yang bisa memberi gambaran pembuluh darah secara detail. Kateterisasi jantung dan angiografi ini, mampu mendeteksi sumbatan atau penyempitan jantung dan pembuluh darah. Tim dokter RSBP bisa melakukan percutaneus transluminal angioplasty (PTA) melebarkan pembuluh darah tanpa sayatan, dengan menggunakan balon intravaskuler.

RSBP juga memiliki Echocardiography, alat untuk mendeteksi penyakit kardiovaskular, seperti gagal jantung. Pachomulsification, yakni teknik operasi katarak tanpa perlu jahitan. Juga ada treatmill test, holter monitor, rotablator, IABP, TCD, Autopulse, Digital Imaging Radiology, Laparoscopy, USG 4D, Floroscopy, dan MCU Mobile.
Alat terbaru yang bakal datang adalah MSCT Scan 128 Slice. Generasi terbaru dari CT Scan yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan informasi dan memberikan gambaran diagnostik yang lebih baik, terutama untuk pemeriksaan organ bergerak termasuk jantung, dengan kecepatan pemeriksaan yang cepat dan akurat. Alat canggih ini, mampu mendeteksi kelainan di jantung, otak, rongga dada dan perut, telinga hidung dan tenggorokan, serta tulang.

Dengan semangat baru ini, apa yang harus dilakukan oleh RSBP meraih mimpinya menjadi rumah sakit berkelas internasional? Tentu saja memperbaiki kualitas manejemen dan sumber dayanya. Selain itu, RSBP harus berlaba, agar bisa menambah peralatan canggih, menggaji dokter dengan tinggi, agar tidak praktik kemana-mana, sehingga selalu standby untuk menerima pasien. Begitu juga para perawatnya. Petugas administrasi sampai cleaning service-nya.

Tidak boleh lagi ada kabar yang menyebutkan, RSBP mengalami kerugian dan defisit tahun 2015 sebesar Rp 28,1 miliar, hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) karena pelayanan kesehatan untuk pegawai BP Batam berkurang lantaran kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), sehingga RSBP menanggung selisih tarif pengobatan. Termasuk tagihan ke BPJS Kesehatan Rp 18 miliar, biaya pasien Covid-19 yang akan mengganggu cash flow RSBP. Sayangnya, sampai 2019, kondisi keuangan RSBP masih defisit.

Lihatlah apa yang dilakukan Laboratorium Klinik Prodia. Lab yang berdiri sejak 1973 ini, punya 110 cabang di 96 kota. Mendapat penghargaan service excellent award, top brand award berturut-turut. Total pendapatannya 2016 mencapai Rp 1,3 triliun. Laboratorium saja bisa hebat, apalagi rumah sakit.

Kalangan menengah atas, para pejabat dan pengusaha, mestinya menjadikan RSBP sebagai rumah sakit tujuan utama untuk pemeriksaan kesehatan. Tidak hanya bagi yang sakit, tetapi juga yang sehat, sebagai edukasi kepada masyarakat, pentingnya pengecekan kesehatan secara berkala. Program one day care atau home care, bisa saja dilakukan. Anda kurang sehat, kami datang.

Kesan rumah sakit yang seram, menakutkan, tidak nyaman, harus dibuang jauh-jauh. Sebab, tak semua orang akrab dengan bau obat, bahan kimia dan mengerti dengan berbagai istilah medis. Malah, tak sedikit dokter yang “mengultimatum” pasien dengan kata-kata: Ini harus dioperasi! Pola komunikasi dokter dan pasien, perawat dan pasien, termasuk keluarga pasien harus diperbaiki.

RSBP harus memiliki marketing yang andal. Tidak hanya menggarap pasar Batam dan Kepri, tetapi juga Singapura dan Malaysia. Pertanyaannya, mengapa rumah sakit di Melaka dan Johor bisa punya perwakilan di Batam? Pasien-pasien dari kota lain di luar Batam, juga bisa dibikinkan paket wisata sehat. Berobat ke Batam, jalan-jalan ke Singapura. Atau, berobat ke Batam, jalan-jalan ke Tanjungpinang dan Bintan.

Direktur RSBP yang merencanakan meminta tambahan armada busway jalur Sekupang, cukup baik. Tapi, akan lebih baik jika RSBP punya armada sendiri untuk antar-jemput pasien, tapi bukan ambulans. Sekaligus menjadi promosi berjalan dan pusat informasi RSBP di tengah masyarakat.

Apalagi, hanya RSBP rumah sakit yang memiliki klinik satelit, untuk meningkatkan pelayanan daerah yang jauh dari Sekupang. Tiga klinik satelit itu berlokasi di Baloi Otorita Batam, Bandara Hang Nadim dan Bida Batam Center. Klinik satelit ini, juga bisa berfungsi sebagai pusat informasi dan etalase pelayanan RSBP.

Promosi itu penting. Tidak hanya mengandalkan kabar dari mulut ke mulut. Menggunakan semua saluran komunikasi publik dan multiplatform seperti surat kabar, majalah internal, website dan media online serta media sosial seperti Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok.

Di era teknologi digital ini, sayangnya RSBP ketinggalan. Aplikasi RSBP Batam Mobile informasinya tidak up to date. Begitu juga website rumah sakit pertama di Batam ini tidak jalan. Website rumah sakit di Batam seperti rsud.batam.go.id, awalbros.com, rsbkbatam.co.id atau rsebatam.com secara umum tampilannya cukup baik. Hanya, kurang up date dengan informasi terbaru. Beberapa website rumah sakit malah hanya sebagai pelengkap. Kritikan pasien dan warga soal pelayanan rumah sakit tidak dijawab sama sekali. Seolah-olah, kritikan itu benar, karena tidak ada klarifikasi.

Inilah bedanya dengan rumah sakit di negara jiran. Website menjadi andalan komunikasi antara pasien dan rumah sakit. Misalnya, Mahkota Medical Centre Melaka atau KPJ Johor Specialist Hospital. Pasien malah bisa berkomunikasi, bikin janji temu dan kontak langsung, telepon atau WhatApps dengan para dokternya.

Begitu juga Raffles Hospital Singapura yang mengusung tagline Your Trust Partner for Health itu. Dalam situs rumah sakit yang menjadi pilihan pasien luar negeri lebih dari 100 negara itu, malah menyediakan fitur baru tentang Covid-19 secara lengkap. Termasuk panduan perjalanan selama Covid-19, panduan bagi ibu hamil, navigator makanan selama Covid-19, panduan kesehatan anak serta mengelola ketakutan dan kecemasan selama Covid-19.

Tidak mudah bagi dr Afdhalun yang belum genap dua bulan jadi direktur memperbaiki kinerja RSBP Batam. Selain harus mengubah mindset karyawan, membangun tim yang solid, mengatasi birokrasi yang lamban dan berbelit, sekaligus memenuhi harapan masyarakat Batam dan Kepri yang terus meningkat soal pelayanan rumah sakit.
Apalagi, masa pandemi Covid-19 yang belum tahu kapan berakhirnya, memotivasi tim medis dan karyawan agar meningkatkan kualitas pelayanan bukan pekerjaan mudah. Sebab, mereka berada di garda terdepan penangangan Covid-19 ini.

Namun, berkah terselubung atau blessing in disguise dari Covid-19 ini untuk rumah sakit, adalah momentum untuk berubah menjadi lebih baik. Inilah saatnya, warga Batam dan Kepri, tidak lagi mengandalkan pelayanan rumah sakit di negara jiran seperti Singapura dan Malaysia. Toh, Anda tidak bisa masuk ke negara itu karena lockdown.

Apalagi, Batam berpeluang menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Jasa Kesehatan Internasional. Santer disebut-sebut, KEK Kesehatan akan berlokasi di Sekupang dan menjadikan RSBP sebagai sentralnya. KEK Kesehatan itu mencakup pusat riset dan penelitian penanganan berbagai penyakit, seperti stroke, diabetes, kanker, jantung, spinal, dementia, genetika, stemcell, bio medical innovation, mind control prosthetic research, dan lainnya.

Tidak itu saja, KEK Kesehatan juga akan menyediakan industri farmasi, yang meliputi penelitian dan pengembangan insdustri farmasi. Seperti vaccine, blood products, diabetes, jantung, cancer, neurology, HIV, dan lainnya. Selain rumah sakit, juga bakal dibangun hotel dan sarana akomodasi serta pendukung sebagai ekosistem ideal bagi KEK Kesehatan bertaraf internasional. (*)