Zetizen

Masking Emotion, Efek Buruk Menutupi Emosi

batampos.id – MEMAKSAKAN diri untuk selalu tersenyum adalah salah satu hal yang mungkin sering kamu lakukan. Menutupi perasaan masking emotions itu nggak salah kok. Asal, kamu tahu seberapa jauh harus melakukan hal tersebut dengan tujuan-tujuan tertentu. Soalnya, semakin sering kamu menutupi emosi tersebut, akan timbul dampak negatif terutama dalam kesehatan mental.

Dilansir dari Healthline, alasan orang menyembunyikan perasaan adalah untuk menunjukkan bahwa dia tidak lemah. Pada umumnya, secara alamiah kita akan belajar bagaimana menekan emosi karena alasan utama. Tapi, beberapa dari kita bahkan nggak tahu alasan utama kita berusaha untuk menutupi emosi ketika sedang marah ataupun sedih. Sebab, secara refleks, mereka merasa khawatir jika menunjukkan emosi bisa membuat orang lain menilai buruk tentang diri kita.
Nggak heran kalau orang yang patah hati dan baru putus jarang memperlihatkan kesedihannya di depan umum. Karena mereka merasa bahwa menunjukkan rasa sedih adalah hal memalukan dan melukai social expectation kita di mata orang lain.
Keinginan untuk menghindari emosi tersebut sering kali muncul karena kurangnya percaya pada diri sendiri ataupun orang lain. Jika terus-menerus dilakukan, ternyata hal tersebut bisa menimbulkan efek signifikan pada kesehatan mental dan fisikmu loh.
Menutupi perasaan secara tidak langsung akan menghambat komunikasimu dengan orang-orang terdekat. Misalnya, ketika sedang merasa putus asa dan menanggung beban besar, nggak ada salahnya untuk membagikan apa yang sedang kamu rasakan ke orang terdekat.

Dengan melakukan masking emotions, kamu akan menutup diri dan komunikasimu dengan orang-orang tersebut berakhir dengan masalah yang tidak kunjung selesai. Berpura-pura tidak merasakan apa-apa mungkin bisa jadi cara untuk ”menipu” orang lain. Namun, faktanya emosi itu akan terus menumpuk dan pada suatu waktu akan meledak di timing yang nggak kamu sangka.

Beberapa hal yang timbul jika kamu terus-menerus menyembunyikan perasaan adalah stres. Ketika stres, secara nggak langsung tubuh kita juga akan merasakan akibatnya. Misalnya, diabetes, masalah tidur, bahkan darah tinggi jika tidak segera ditangangi. Skenario terburuk, penderitanya pun bisa mengakhiri hidup. (c13/lia)

Yuk, Berhenti dan Tangani

UNTUK berhenti, kamu emang butuh waktu untuk belajar dan memahami perasaanmu. Beberapa cara di bawah ini bisa membantumu merasa lebih nyaman dengan emosi yang sedang kamu rasakan, dan bagaimana cara yang tepat untuk menanganinya. Check this out! (c13/lia)

Melatih Kesadaran

Secara sadar, kamu perlu paham dengan kemampuan dan keadaan yang sedang kamu alami. Ketika kamu sadar akan perasaan dan emosi yang sedang kamu rasakan, artinya kamu mengakui dan menerima emosi tersebut. Misalnya, ”Kelakuan pacarku benar-benar bikin aku marah. Tapi, aku nggak mau bertengkar di depan umum. Sabar, tarik napas, setelah ini aku harus bilang ke doi kalau aku kesel banget sama dia.” Belajar untuk memahami situasi seperti hal di atas mungkin akan susah. Namun, pemahaman situasi tersebut akan mempermudah kamu untuk mencari solusi mengatasi emosi marah dan kesal tersebut.

Nggak Ada Salahnya Curhat

Nggak usah takut dianggap lemah. Sebab, kadang dengan menceritakan apa yang dirasakan ke orang lain akan membuat perasaan terasa lebih lega. Menunjukkan bahwa kamu sedang marah, sedih, atau kecewa kepada orang terdekat bakal memupuk rasa kepercayaan satu sama lain. Contohnya, ”Kemarin kok kamu nggak angkat teleponku sih? Lagi banyak tugas ya?” Mengeskspresikan kekesalan dengan rasa hormat akan membuat orang lain lebih jujur dan terbuka.

Temui Ahli jika Merasa Kesulitan

Salah satu cara untuk bisa mengekspresikan emosi adalah berbicara dengan ahli seperti terapis. Soalnya, mereka akan membantumu untuk mengidentifikasi penyebab tekanan emosi yang kamu rasakan. Setelah kamu udah merasa nyaman untuk menceritakan semuanya, terapis akan membantumu untuk mengatasi gejala mental seperti cemas, takut, atau stres karena emosi yang tersembunyi.

ZETS OF THE DAY

Dampak Buruk dari Menutupi Emosi

Reporter: Hadinata Salim
Editor: Agnes Dhamayanti

MENAHAN emosi dengan cara tersenyum sebagai salah satu cara yang umum dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk milenial. Usut demi usut masking emotion memiliki dampak buruk bagi kesehatan mental. Bagimana pendapatmu? (*)

F. Dok. Pribadi

Fitria Ayu Khairani
Universitas Ibnu Sina Batam
Instagram: @fitri.a.k

Menahan emosi bukanlah jalan keluar untuk setiap masalah, karena kita perlu mengeluarkan dan mengekspresikannya agar mengurangi beban pikiran dan mental kita. Nah, dampak buruknya pada waktu lama dapat menyebabkan efek negatif pada kesehatan fisik dan mental. (*)

 

F. Dok. Pribadi

Kelvin
Universitas Internasional Batam
Instagram: @kelvin_ykairi

Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau reaksi terhadap seseorang atau kejadian, menurut Wikipedia. Pada umumnya, seseorang mengalami emosi ketika mereka merasakan hal yang tidak diinginkan mereka sendiri. Emosi biasanya dihadapi dengan meluapkan kepada suatu hal atau ditutupi dengan senyuman palsu seseorang. Nah, hampir lebih dari 50% suka menutupi emosi mereka. Biasanya ditutupi dengan senyuman palsu atau memaksa diri untuk ketawa padahal hatinya sedang marah atau terpuruk banget. Hanya untuk menghindari masalah. Jadi, apa sih dampak buruk dari menutupi sebuah emosi itu? Ketika seseorang menumpukkan emosi mereka yang sudah mereka simpan selama berbulan-bulan. Akan membuat seseorang terus teringat dengan kejadian tidak mengenakkan kepada mereka. Sehingga suatu saat akan meledak dan menghancurkan mental seseorang.
Jadi alangkah baiknya jika kamu sedang emosi, ceritakanlah kepada teman yang kamu percaya, atau orangtua mu sendiri. Lampiaskan lah semua yang kamu hadapi pada hari itu, jangan dipendam. Jika sudah kamu lampiaskan, hidupmu akan merasa jauh lebih baik. (*)