Metropolis

Wamendag Janji Benahi Regulasi, Hilangkan Kendala Ekspor di Batam

Batampos.id – PT Sat Nusapersada Tbk kembali mengekspor produk berbasis digital berupa Smart Home Water Meter (meteran air digital) ke Amerika Serikat. Ekspor produk tersebut dilepas Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Jerry Sambuaga, Selasa (17/11/2020).

Selain me­ngunjungi Sat Nusapesada, Jerry juga mengunjungi Kinema Systrans Multimedia di Nongsa Digital Park (NDP).

Direktur Operasional Sat Nusapersada, Bidin Yusuf, mengatakan, Smart Home Water Meter merupakan produk canggih besutan Sat Nusa yang bisa memudahkan penggunanya untuk memantau penggunaan air dari jauh.

”Kami ekspor 10 ribu unit ke Amerika. Ini produk canggih, tinggal lengketkan saja ke meteran analog di rumah, maka bisa kirim berita dan data langsung ke smartphone pengguna,” kata Bidin, usai acara peresmian.

Wakil Menteri Perdagangan RI, Dr Jerry Sambuaga, (tengah) didampingi Direktur Operasional PT Sat Nusapersada, Bidin Yusuf (kanan) Anggota Bidang Pengelolaan Kawasan dan Investasi Sudirman Saad melakukan kunjungan ke PT Sat Nusapersada sekaligus meresmikan pengeriman Smart Home Water Meter ke Amerika Serikat , Selasa (17/11). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Alat digital ini memantau seberapa banyak penggunaan air. Bisa juga melaporkan jika terjadi kebocoran.

”Alat ini banyak digunakan di Amerika. Kita kerja sama dengan desainer produk yang menjualnya langsung ke pelanggan. Alat ini juga sudah bisa dibeli di Amazon,” paparnya. Di website Amazon, produk digital ini bernama Flume Smart Home Water Monitor and Water Leak Detector.

Selain bisa mendeteksi kebocoran, juga membantu mengurangi biaya tagihan air, lewat pemantauan penggunaan air secara real time. Dari data real time, aplikasi dari alat ini dapat memberikan opsi hemat air. Produk ini dijual satu set lengkap dengan harga 126,64 dolar Amerika.

Kepada Wakil Menteri Perdagangan, Bidin juga menitip pesan, khususnya terkait kemudahan regulasi dan percepatan perizinan, yang dibutuhkan untuk meningkatkan kegiatan produksi dan ekspor ke luar negeri. Salah satunya terkait dengan kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Kebijakan ini berlaku untuk produksi smartphone.

Kebijakan ekonomi TKDN mewajibkan smartphone asal luar negeri menggunakan konten lokal sebanyak 35 persen dalam produknya, agar bisa berjualan di Indonesia. Konten tersebut bisa dalam bentuk kotaknya, casing-nya, buku manual, LCD, dan lainnya yang diproduksi oleh mitra lokal.

Bidin membayangkan jika TKDN diterapkan pada produksi alat elektronik lainnya seperti water meter dan laptop, maka dampaknya akan luar biasa bagi Batam.

”Jadi, yang penting bagaimana produk lain di-TKDN-kan, seperti laptop. Kita tak perlu lagi mengimpor laptop dalam jumlah banyak. Lapangan kerja juga tercipta dan industri pun berkembang yang berpengaruh pada kenaikan ekspor,” ungkapnya.

Untuk pasar Indonesia, Bidin menyebut produk meteran air ini belum bisa diterapkan. Masing-masing negara memiliki meteran air analog dengan tipe berbeda, sehingga untuk Indonesia, menciptakan meteran air digital masih butuh banyak kajian dan penyesuaian.

Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga, mengungkapkan, pemerintah pusat berorientasi pada peningkatan ekspor, sehingga akan berupaya untuk menciptakan regulasi yang mempermudah ekspor.

”Di tengah pandemi, kita bersyukur tentunya dan bangga bisa observasi kegiatan manufaktur, produksi, dan mengamati fitur di Sat Nusa,” paparnya.

Sat Nusa berkontribusi besar terhadap ekspor dari Kepri. Meski begitu, perusahaan besutan Abidin tersebut terkendala persoalan tarif logistik maupun perizinan.

”Kami akan identifikasi persoalan sekaligus melihat potensi yang ada di Batam. Kami utamakan produk-produk ekspor agar bisa menemukan jalan keluar,” terangnya.

Satu hal yang membanggakan bahwa di tengah pandemi, ekspor Indonesia mengalami surplus sebesar 13,51 miliar dolar Amerika.

”Bagaimana penguatan untuk bisa ekspansi keluar dan tentunya TKDN perlu ditingkatkan lagi. Karena selama ini kinerja sudah bagus. Untuk komponen bisa diproduksi dalam negeri, kalau bisa ke skala lebih besar itu bagus, karena yang terpenting penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Wamendag Dr Jerry Sambuaga (kanan), didampingi Dirut Kinema Systrans Multimedia, Mike Wiluan (tengah), dan Direktur Nongsa Digital Park, Naradewa (kiri), mengunjungi Nongsa Digital Park di Nongsa, Selasa (17/11/2020). Foto: Cecep Mulyana / Batam Po

Sementara, Sat Nusapersada mengekspor produknya ke luar negeri, Kinema di Nongsa Digital Park sedang mempersiapkan diri untuk syuting film baru. Direktur Utama Kinema Systrans Multimedia, Mike Wiluan, mengatakan, Kinema tengah membangun stage baru untuk syuting dua film internasional.

”Kami sedang preparasi produksi baru, untuk dua film. Saya belum bisa kasih banyak detail, yang jelas film ini untuk seluruh dunia,” katanya.

Namun, kapan proses syuting akan dimulai atau ke platform apa film ini dirlis, ia menyebut masih melihat situasi global.

Di tengah pandemi saat ini, bioskop di seluruh dunia baru buka 50 persen. Jika buka semua, maka film-film itu akan dilepas untuk bioskop. Ia juga berminat untuk merilisnya di platform streaming, yang sekarang tengah digandrungi masyarakat. (***)

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Editor : MOH TAHANG