Nasional

Adik Ipar eks Sekertaris MA Dijanjikan Rp 10 Miliar oleh Hiendra

Mantan Sekretaris MA Nurhadi (Muhamad Ali/Jawa Pos)

batampos.id – Adik ipar mantan Sekertaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, Rahmat Santoso mengakui, dirinya dijanjikan Rp 10 miliar oleh Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto. Janji tersebut agar Rahmat yang berprofesi sebagai advokat membantu Hiendra untuk mengurus perkara melawan PT KBN pada upaya hukum Peninjauan Kembali (PK).

“Saya diminta jadi PH (penasihat hukum) lakukan PK. Kira-kira Rp 10 miliar (untuk bayar fee ) itu Rp 5 miliar dulu, setelah sukses Rp 5 miliar lagi,” kata Rahmat saat bersaksi untuk Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (18/11).

Adik kandung dari istri Nurhadi, Tin Zuraida itu menjelaskan awalnya Hiendra mendatangi kantornya, Rahmat And Partner di Surabaya. Hiendra pun menjelaskan perkara antara PT MIT dengan PT KBN.

“Ketika itu dia menceritakan apa yang terjadi. Terus saya minta berkas pada pengacaranya Onggan (terdahulu). Saya sempat ke kantornya di Jakarta,” ucap Rahmat.

Rahmat juga mengaku, kedatangan Hiendra ke kantornya untuk memberikan cek terkait janji Rp 10 miliar tersebut. Fia mengaku, cek yang diberikan baru setengah dari yang dijanjikan, yakni senilai Rp 5 miliar.

“Diberikan cek oleh Hiendra datang kekantor saya setelah saya mendapatkan berkas, dia mengatakan cek ini dapat dicairkan setelah mendaftarkan kuasa dan lain sebagaimanya,” ucap Rahmat

Lantas Jaksa menelisik berapa nilai cek yang diberikan Hiendra kepada Rahmat
“Rp 5 miliar. Iya (fee yang disepakati di awal),” sambung Rahmat.

Setelah mendapat cek senilai Rp 5 miliar dari Hiendra, lantas Rahmat mendaftarkan PK atas PT MIT melawan PT KBN. Kemudian dia ingin mencairkan cek tersebut, namun cek tersebut tidak bisa dicairkan.

“Jadi, saya sudah dicabut secara lisan (kuasanya). Perkara itu mau menang mau kalah jungkir balik lah. Saya nggak ada urusan. Nggak ada kaitannya. Cuma nama saya melekat,” cetus Rahmat

“Kedua. Dia (Hiendra) mau narik cek nggak bisa karena saya belum dibayar,” lanjut Rahmat.

Dalam persidangan, Rahmat mengaku hanya dibayar Rp 300 juta oleh Hiendra.
Namun belakangan, dia mengaku kaget ternyata yang akhirnya mengurus PK Hiendra keponakannya, Rezky Herbiyono.

“Saya tau setelah setelah disidik oleh KPK. Ternyata saudara saya Rizki. (Rezky herbiyono) saya sampai enggak mengerti sama sekali,” pungkas Rahmat.

Dalam perkara ini, mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono didakwa menerima gratifikasi sejumlah Rp37.287.000.000 dari sejumlah pihak yang berperkara di lingkungan Pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, hingga peninjauan kembali.

Selain itu, Nurhadi dan menantunya juga turut didakwa menerima suap Rp 45.726.955.00 dari Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto. Uang suap tersebut diberikan agar memuluskan pengurusan perkara antara PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN) terkait dengan gugatan perjanjian sewa menyewa depo kontainer.

Atas perbuatannya, Nurhadi dan Rezky didakwa melanggar Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP dan Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat  (1) KUHP. (*)

Sumber: JP Group
Editor: Jamil Qasim