Utama

Genre Itu Prinsip, Jauhi Toxic Relationship

Syafira Nihla Namira

batampos.id – Indonesia merupakan negara heterogen dengan jumlah penduduk yang terus bertambah angkanya setiap tahun. Tentu hal itu akan menimbulkan banyak permasalahan di Indonesia jika tidak ditangani dengan bijak. Dewasa kini, kita dapat melihat di sekeliling kita bahwa permasalahan yang timbul tak jarang pelakunya ialah para remaja yang seharusnya menjadi harapan sebagai tonggak keberhasilan bangsa.

Telah ditemukan beberapa kasus remaja yang disebabkan karena adanya gangguan psikologi, remaja yang belum bisa mengenal diri mereka, kurangnya perhatian dan kasih sayang sehingga mereka tidak dapat mengontrol diri dan melewati batasan sebagai seorang remaja untuk mencapai kepuasan dari kebahagiaan yang mereka cari.

Kita dapat mengambil contoh dari kasus perundungan, pembunuhan, penyalahgunaan narkoba dan masih banyak lagi. Mari kita sorot permasalahan yang sedang marak terjadi di Indonesia khususnya ruang lingkup remaja yakni Toxic Relationship (hubungan yang tidak sehat).

Toxic Relationship dapat terjadi pada hubungan pacaran, pertemanan, dan keluarga. Permasalahan ini menimbulkan impact negatif, tak hanya bagi korban namun juga bagi pelakunya. Jika permasalahan ini terus menerus dibiarkan, kedua belah pihak terjebak dalam hubungan yang tidak sehat dan tidak menemukan solusinya, maka akan menimbulkan efek dan tekanan yang bersifat kontinuitas.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa pemerintah selalu berupaya untuk memberi bimbingan termasuk melakukan upaya-upaya preventif melalui BKKBN. BKKBN telah menghadirkan berbagai program salah satunya yaitu GenRe (Generasi berencana) sebagai wadah untuk berbagi, bersosialisasi, dan mengedukasikan tentang remaja berencana agar menjadi siap, mampu, dan tanggap untuk menghadapi masa depan dengan matang.

Kita dapat mengaitkan permasalahan Toxic Relationship dengan Generasi Berencana (GenRe) yang merupakan sebuah program dinaungi oleh BKKBN , baik itu dari sisi keluarga, lingkup pertemanan maupun individu itu sendiri.

Beberapa waktu yang lalu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah melakukan re-branding sebagai upaya untuk mengembangkan dan memajukan program-program BKKBN, dan sebagai tanda bahwa BKKBN selalu hadir untuk masyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa program-program yang telah dicanangkan pemerintah tidak akan berjalan apabila masyarakat tidak ikut andil di dalamnya.

Namun, masyarakat masih kurang berkontribusi untuk merealisasikannya, dan masyarakat kurang bersinergi dengan pemerintah untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Toxic Relationship merupakan bentuk hubungan yang terjalin secara tidak sehat, ditandai dengan adanya kekerasan, rasa kecurigaan antar pihak, rasa ketidaknyamanan, dan tindakan-tindakan menyimpang lainnya, yakni ketika hubungan sudah tidak lagi menghubungkan justru menghancurkan.

Toxic Relationship yang sering ditemukan dapat berupa kekerasan. Lalu, seperti apakah bentuk kekerasan dalam Toxic Relationship?

  1. Kekerasan fisik (Menendang,menampar, menyubit, dan lainnya)
  2. Kekerasan verbal dan emosional ( Ancaman, ejekan, penghinaan)
  3. Kekerasan Seksual (menekan,memaksa yang sifatnya seksual)
  4. Kekerasan Finansial (Pasangan dimanfaatkan materinya)
  5. Kekerasan Digital (Menggunakan sosial media untuk melakukan kekerasan)

Bentuk-bentuk tersebut dapat menimbulkan dampak yang sangat fatal, tidak hanya bagi korban tetapi juga pelaku dari tindakan tersebut. Mengapa demikian? Korban akan merasakan sakit pada fisik maupun psikisnya sedangkan pelaku akan merasa ketakutan hingga mengakibatkan depresi. Tidak hanya itu, pelaku juga dapat terjerat kasus hukum apabila jenis kekerasannya sudah melanggar hukum yang berlaku.

Berita yang sedang hangat diperbincangkan oleh khalayak yakni pengakuan dari seorang artis berinisial KR di sebuah Chanel Youtube, ia menceritakan pengalaman-pengalamannya menjalani Toxic Relationship. Keisha mengakui bahwa ia merasa terbawa oleh kasih sayang pasangannya sehingga ia tidak pernah peduli dengan kekerasan yang dilakukan oleh pacarnya. Hingga suatu waktu ia tersadar, bahwa hubungan tersebut bukanlah hubungan yang sehat dan pantas untuk dilanjutkan.

Keisha pun mengakhirinya dan tidak terjebak lagi oleh hubungan tersebut. Pengalaman yang telah dirasakan oleh publik figur tersebut dapat menjadi pembelajaran. Hubungan yang sebenarnya dilandasi oleh rasa kasih sayang dan perhatian yang tulus tidak mungkin mengarah pada tindakan yang merugikan sebelah pihak dan menguntungkan pihak lainnya.

Hubungan yang sehat tentu tidak diiringi oleh kekerasan dan tekanan. Remaja yang terjebak pada Toxic Relationship apabila dibiarkan dan belum bisa menyadari dampak-dampak dari hubungan tersebut maka hidupnya tentu akan terganggu dan tidak ada perencanaan yang baik untuk kedepannya.

Bayangkan bila hubungan tidak sehat ini diteruskan hingga jenjang pernikahan dan membentuk keluarga, maka akan menimbulkan kekerasan yang berlanjut. Orang tua yang seharusnya menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan memegang peran utama dalam membangun keluarga justru menjadi akar masalah bagi generasi berikutnya. Kasus yang sering kita temukan ialah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ini juga merupakan bentuk dari toxic relationship. Tentu seluruh anggota keluarga akan menjadi korban dari hubungan ini.

Miris jika kita melihat para generasi muda menjadi remaja yang tidak memiliki tujuan, tidak bisa menentukan arah masa depan mereka, membawa hidup seperti kapal tanpa nahkoda, raga yang tak berjiwa, akibat degradasi moral dan perkembangan zaman yang tidak mampu mereka saring sisi positif dan negatifnya. Lantas, bagaimanakah sebenarnya peran BKKBN sebagai wadah bagi masyarakat khususnya remaja untuk mempersiapkan masa depan?

Mari kita kaitkan esensi re-branding Logo BKKBN yang telah diresmikan tahun 2019 dalam mengatasi problematika Toxic Relationship di Kalangan Remaja Indonesia. Dari keempat komponen logo baru BKKBN yakni Love, merangkul, kupu-kupu, dan tak terbatas dapat kita ambil maknanya bahwa BKKBN dapat diyakini oleh masyarakat, mampu untuk memfasilitasi, merangkul dan mengarahkan remaja untuk mempersiapkan perencanaan keluarga dan kependudukan di masa depan.

BKKBN membuktikan mampu melaksanakan program-programnya untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan. Komponen Tak Terbatas dari logo BKKBN menjadi motivasi bahwa jika jatuh harus bangkit lagi, perencanaan keluarga dan kependudukan. Peran keluarga dalam problematika Toxic Relationship sangatlah penting. Menurut ilmu sosiologi, Keluarga merupakan kelompok primer dalam interaksi sosial.

Keluarga adalah sekelompok orang yang menjadi tempat pertama remaja untuk berinteraksi sebelum terjun ke dunia masyarakat luas. Jika keluarga sudah direncanakan dengan persiapan yang matang oleh para anggota keluarga, maka keluarga tersebut tentulah siap untuk menghadapi problematika yang terjadi di dunia luar.

Remaja dalam masa transisi tentunya ingin diberi perhatian yang lebih, dipedulikan dan diberikan kasih sayang maka tujuan-tujuan yang diinginkannya haruslah dimulai dari keluarga. Hal ini tentunya termasuk dalam substansi GenRe yang pertama yakni kependudukan dan pembangunan keluarga.

Re-branding logo BKKBN ini merupakan langkah bagi pemerintah untuk menyadarkan Masyarakat akan pentingnya perencanaan kependudukan dan pembangunan keluarga. Selain itu, haal ini menjadi terobosan baru bagi BKKBN untuk berkomunikasi dengan masyarakat terutama generasi muda. Tidak hanya dengan melakukan rebranding, namun BKKBN juga sudah sejak lama membentuk Pusat Informasi dan Konseling Remaja/ Mahasiswa yang secara bertahap tersebar di seluruh daerah di Indonesia sebagai wadah untuk berkomunikasi, berbagi cerita dengan teman sebaya. Rebranding menjadi bukti bahwa BKKBN juga siap mewadahi Generasi Milenial dan Zilenial. BKKBN bukan hanya tentang “dua anak cukup” tetapi juga memiliki cakupan yang luas.

Sebagai generasi muda penerus bangsa, tanggung jawab kemajuan dan keberhasilan negara terletak di pundak kita. Remaja yang unggul ialah remaja yang mampu merencanakan kependudukan serta pembangunan keluarga kelak. Remaja yang mampu bersaing seiring berkembangnya zaman ialah remaja yang juga memiliki keterampilan serta mengenal potensi minat dan bakatnya.

emaja sedang dalam proses pencarian jati diri, bila ia menemukannya maka sebaiknya dikembangkan, karena setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Hendaknya sebagai seorang remaja, kita mampu menjadi pelopor dimulai dari diri sendiri lalu menyebar ke masyarakat, menjadi wadah bagi teman sebaya dan bukan menjadi wabah bagi masyarakat. Hidup akan lebih indah apabipa kita mampu menyebar manfaat kepada orang lain.

Manusia tidak ada yang sempurna, namun kelebihan sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa sudah sepatutnya dipergunakan untuk kebaikan. Remaja Indonesia yang berencana dan berakhlak mulia tentu akan menjadi pemenang bagi dirinya sendiri untuk menghadapi kerasnya kehidupan.
Saatnya yang muda yang berencana!
Berencana itu keren! ***

Oleh: Syafira Nihla Namira
(Duta Generasi Berencana Kepulauan Riau 2020)

Penulis merupakan siswi SMA N 1 Tanjungpinang kelas XII MIPA yang akan mewakili Kepri di ADU JAK GenRe Indonesia 2020. Penulis juga pernah menjabat sebagai Duta Pemuda Pelajar Kepri 2019 dan Duta Lingkungan Hidup Tanjungpinang 2019.