Nasional

Muhammadiyah Tawarkan Empat Solusi Atasi Pandemi dan Masalah Negeri

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (Hendra Eka/Jawa Pos)

batampos.id – Muhammadiyah genap berusia 108 tahun. Dalam perayaan hari ulang tahunnya yang digelar secara virtual kemarin (18/11), Ormas Islam yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu menawarkan empat solusi untuk menghadapi pandemi dan masalah negeri.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, peringatan milad Muhammadiyah yang ke-108 digelar dalam suasana bangsa dan dunia masih menghadapi pandemi Covid-19. Sebagai kaum beriman, kata dia, pandemi merupakan musibah yang harus dihadapi dengan ikhtiar dan doa yang sungguh-sungguh. “Agar Allah SWT mengangkat wabah ini atas Kuasa dan Rahman-Rahim-Nya,” terang Haedar saat menyampaikan pidatonya, kemarin.

Tokoh kelahiran Bandung itu menyatakan, organisasinya melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), Aisyiyah, dan seluruh komponen gerakannya sejak awal terus berbuat maksimal dalam menghadapi sekaligus mencari solusi atas pandemi. Muhammadiyah memberi solusi dalam bidang kesehatan, sosial-ekonomi, edukasi masyarakat, dan panduan keagamaan hasil ijtihad tarjih. Kiprah Muhammadiyah pun akhirnya memperoleh apresiasi dari berbagai pihak dan masyarakat luas.

Dalam peringatan milad yang mengusung tema Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri itu, organisasi yang didirikan pada 1912 itu menawarkan empat solusi untuk menghadapi pandemi dan berbagai masalah bangsa. Pertama, pemerintah di seluruh tingkatan bersama legislatif, yudikatif, TNI, Polri, partai politik, dan lembaga lainnya dituntut tanggung jawab politik berjiwa kenegarawanan tinggi. Terutama, dalam menghadapi pandemi covid-19 dan menyelesaikan masalah-masalah negeri dengan mengedepankan sebesar-besarnya hajat hidup rakyat di atas yang lainnya.

Guru besar Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu mengatakan, Indonesia harus dijadikan negara hukum yang demokratis serta berdiri tegak di atas dasar Pancasila dan UUD 1945. Indonesia harus dibawa menuju perikehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur agama dan kebudayaan Indonesia. Di antara tanggung jawab dan agenda terberat bangsa saat ini ialah merekat persatuan nasional. “Dan memutus rantai kesenjangan sosial menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” terang dia.

Solusi kedua, seluruh warga bangsa harus memiliki kewajiban dan tanggung jawab kolektif dalam menghadapi pandemi dan memecahkan masalah negeri dengan semangat gotong royong. serta memupuk kebersamaan dan jiwa persatuan Indonesia. Masyarakat juga perlu mengembangkan kerja sama, toleransi, kepedulian, kesetiakawanan, dan saling berbagi sebagai modal sosial yang penting.

Haedar juga mengajak warga bangsa untuk menjauhi egoisme dan kepentingan sempit golongan yang merugikan kemajemukan. Jika terdapat masalah di tubuh bangsa, harus dicarikan solusi dan titik temu demi keutuhan hidup bersama. “Dalam membangun hubungan termasuk melalui media sosial hilangkan hoaks, fitnah, serta benih saling curiga, kebencian, pertikaian, dan konflik,” tuturnya.

Solusi selanjutnya, kata Haedar, umat Islam dituntut menjadi uswah hasanah, contoh yang baik disertai sikap cerdas dan bijaksana dalam menghadapi situasi keumatan dan kebangsaan yang kompleks dan sarat perbedaan. Semua komponen dan tokoh umat dapat menjaga situasi kebangsaan tetap kondusif, dan menjauhkan diri dari perselisihan dan segala tindakan kontroversi yang bisa mengganggu keutuhan ukhuwah islamiah maupun persatuan bangsa.

Umat Islam harus memperkuat nasionalisme sebagai ekspresi dan jalinan integrasi keislaman dan keindonesiaan yang utuh, serta menghindari tindakan-tindakan intoleran yang dapat merugikan hubungan keumatan dan kebangsaan yang selama ini telah terjalin dengan baik.

Solusi keempat, Haedar mengajak seluruh warga Muhammadiyah menjadi pemberi solusi yang sejalan dengan kepribadian dan khittah gerakan dalam perspektif Islam Berkemajuan. “Mari sebarluaskan risalah Islam berkemajuan dengan menghadirkan karakter keislaman yang damai, ukhuwah, moderat, luas wawasan,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo ikut menyampaikan selamat atas milad ke-108 Muhammadiyah. Dia mengapresiasi peran Muhammadiyah dalam mewarnai perjalanan bangsa sejak berdirinya organisasi tersebut. “Melalui kontribusi gerakan pencerahan Islam yang dirintis oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan,” ujar Jokowi dalam pesan yang disampaikan secara virtual itu.

Muhammadiyah, lanjut Jokowi, konsisten berikhtiar membumikan ajaran Alquran dan hadis dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Juga berorientasi kepada kemaslahatan masyarakat serta berjuang untuk kesejahteraan dan perdamaian lewat nilai-nilai Islam berkemajuan.

Secara praktis, sudah bertahun-tahun masyarakat Indonesia merasakan sentuhan Muhammadiyah di berbagai bidang pelayanan usaha. Jokowi mencontohkan cucu pertamanya, Jan Ethes Sri Narendrayang lahir di RS PKU Muhammadiyah Solo. “Ibu Iriana juga pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta,” lanjut Jokowi.

Muhammadiyah, tutur Jokowi, juga punya kontribusi besar dalam penanganan dampak pandemi Covid-19. Di antaranya, melalui keberadaan tim Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Juga lewat pelayanan di 82 RS Muhammadiyah di berbagai provinsi melalui 40 perguruan tinggi. “Saya menyampaikan terima kasih kepada para dokter, tenaga medis, tenaga kesehatan rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah yang bekerja tanpa kenal lelah siang malam,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga mengajak Muhammadiyah untuk ikut andil dalam sosialisasi vaksinasi kepada masyarakat. Sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai vaksin Covid-19. Pemerintah sedang menyiapkan programnya untuk memastikan keamanan dan efektivitas vaksin bagi masyarakat. (*/lum/byu)

Reporter : JP Group
Editor : Jamil Qasim