Opini

Pembelajaran Daring, Membuat Siswa Boring?

Oleh: Febrina Yuvita Putri, S.Pd. Guru SMP Negeri 8 Batam

batampos.id – Pandemi Covid-19 merupakan musibah yang sangat memilukan penduduk dunia. Tak terkecuali negara Indonesia. Pandemi Covid-19 ini sudah menyelimuti bumi Indonesia sekitar 8 bulan terakhir hingga saat ini. Seluruh aspek kehidupan manusia terganggu, tanpa terkecuali bidang pendidikan. Banyak negara menutup sekolah maupun perguruan tinggi, termasuk Indonesia.

Pemerintah harus mengambil keputusan yang pahit yaitu menutup sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi untuk sementara waktu dan mengharuskan semua proses kegiatan belajar mengajar bagi peserta didik dilakukan di rumah (belajar dari rumah). Hal ini dilakukan guna meminimalisir kontak fisik secara massal sehingga dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Di masa pandemi Covid-19 tidak membuat kegiatan belajar mengajar terhenti. Pemerintah mengambil kebijakan pembelajaran dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh dengan media daring (dalam jaringan), baik menggunakan komputer, laptop, maupun ponsel. Sebagai seorang guru tentu ini merupakan hal yang baru.

Awalnya tidak semua guru mampu menyediakan pembelajaran secara daring (online). Ini dialami oleh salah seorang teman guru di tempat saya bertugas karena masalah usia. Biasanya guru-guru yang lahir di era milenial yang sudah akrab dengan kecanggihan teknologi akan merasa mudah dalam melaksakan pembelajaran secara daring.

Tetapi, dengan kegigihan dan semangat yang diberikan oleh rekan-rekan guru membuat kondisi ini bisa diatasi dengan baik. Media daring dirasa sangat efektif dilakukan di masa pandemi ini. Guru tinggal memberikan materi dan penugasan yang nantinya akan dikirim pada platform yang telah disepakati digunakan dalam satuan pendidikan, misalnya google classroom.

BACA JUGA : Ada Peningkatan Jumlah Sekolah yang Akan Belajar Tatap Muka

Kemudian, peserta didik tinggal mempelajari materi dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hasil dari penugasan tersebut bisa langsung dinilai pada aplikasi google classroom tersebut.

Muncul permasalahan
Awalnya pembelajaran daring yang sudah berjalan beberapa minggu pertama berjalan dengan lancar. Namun, seiring berjalannya waktu mulai muncul beberapa permasalahan. Di antaranya keluhanan soal kuota internet dan kebosanan peserta didik belajar secara online. Pihak sekolah sudah membuat jadwal belajar daring, misalnya di sekolah tempat saya bertugas, wakil kurikulum sudah mengatur jadwal belajar daring dengan dua mata pelajaran setiap harinya.

Guru akan memberikan materi dan penugasan sesuai dengan jam belajarnya. Penugasan ini juga diberikan waktu yang sangat longgar dalam pengumpulannya, yaitu dengan tenggat waktu 1 minggu. Jadi, hal ini tidak akan membebani peserta didik.

Namun, sayangnya peserta didik tidak memanfaatkan kelonggaran ini dengan baik, bahkan ada yang menyalahkan para guru dengan mengatakan tugas yang diberikan terlalu banyak. Hal ini terjadi karena peserta didik sering kali menumpuk-numpuk tugas sehingga tugas tersebut menjadi banyak terasa sangat berat.

Apalagi dengan alasan tidak mempunyai kuota internet. Hal ini seolah-olah mengambinghitamkan para guru dalam pemberian tugas online. Selain itu, tidak ada keterbukaan peserta didik dalam hal pengerjaan tugas sekolah. Beberapa peserta didik yang ditanyai tentang tugas-tugas yang tidak pernah dikerjakan selama belajar dari rumah sering berbohong kepada guru dan orangtua.

Para guru sudah beberapa kali berkonsultasi dengan orangtua yang anaknya sama sekali tidak pernah mengumpulkan tugas-tugas daringnya. Setiap ditanya orangtua jawaban mereka selalu sudah mengumpulkan, padahal tidaklah demikian. Berdasarkan permasalahan ini tentu para guru melakukan pemanggilan orangtua beserta siswa guna menyelesaikan permasalah ini.

Setelah dilakukan penelusuran terkait permasalahan ini, didapatlah jawaban bahwa peserta didik ini merasa bosan belajar daring. Selain bosan kebanyakan dari mereka tidak memahami materi yang diberikan lewat platform yang digunakan. Mereka lebih memahami pembelajaran secara langsung atau tatap muka. Hal itulah yang membuat mereka malas untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan selama belajar dari rumah.

Solusi Permasalahan

1. Peran Pendidik

Berdasarkan permasalah yang dikemukakan tadi, maka para guru harus mencoba mencari penyelesaian dari kasus di atas. Salah satu contohnya, pembelajaran daring yang diberikan kepada peserta didik selayaknya menuju kecapakan abad 21. Hal ini bisa mengurangi rasa kebosanan peserta didik dalam pembelajaran yang menurutnya biasa-biasa saja.

Salah satu tujuan pembelajaran daring ini adalah pencapaian kompetensi peserta didik yang dikenal dengan 4C, yaitu critical thingking (berpikir kritis), creativity thingking (berpikir kreatif), collaboration (bekerja sama atau berkolaborasi), dan communication (berkomunikasi).
Critical thingking (berpikir kritis) yaitu dapat mengarahkan peserta didik untuk dapat menyelesaikan masalah (problem solving), serta merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA : Strategi Efektif Pembelajaran Daring di Masa Pandemi

Berpikir kreatif dapat dimaknai peserta didik dapat menghasilkan, mengembangkan ide-ide mereka secara kreatif baik secara mandiri maupun berkelompok. Collaboration (bekerja sama atau berkolaborasi) yaitu peserta didik dapat bekerja sama dalam sebuah kelompok dalam memecahkan permasalahan yang ditemukan. Communication (berkomunikasi) dapat diartikan bahwa peserta didik dapat mengomunikasikan ide-ide dan gagasan secara efektif menggunakan media lisan, tertulis, maupun teknologi (Direktorat Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi, 2019).

Dengan keterampilan pembelajaran abad ke-21 ini diharapkan pembelajaran daring yang diberikan kepada peserta didik selayaknya menuju kecapakan abad ke-21. Harapannya jangan sampai pembelajaran daring hanya menghasilkan peserta didik seperti robot yang hanya melulu mengerjakan soal-soal latihan tanpa mampu berpikir tingkat tinggi.

Para guru juga perlu berinovasi dalam memberikan materi pembelajaran. Materi yang diberikan dengan tampilan yang biasa membuat peserta didik merasa bosan dengan pembelajaran tersebut. Sudah seharusnya guru mencoba membuat materi pembelajaran dan menyajikannya dengan tampilan yang menarik, dengan tujuan dapat menghilangkan kebosanan peserta didik.

Selain itu, guru juga bisa memberikan pembelajaran lewat video-video yang menarik. Video pembelajaran ini tentunya dibuat sendiri oleh guru dengan menampilkan materi beserta penjelasan dari guru mata pelajaran yang bersangkutan. Ini juga bisa mengobati rasa rindu peserta didik dengan guru-gurunya di sekolah.

2. Peran Orangtua

Keberhasilan pembelajaran daring tak terlepas dari adanya kerja sama antara guru, sekolah, orangtua, dan peserta didik. Sekolah perlu menaruh kepedulian kepada orangtua peserta didik yang tidak mampu membeli kuota atau memiliki ponsel dengan memfasilitasi, agar pembelajaran daring bisa berjalan dengan optimal. Selain itu, kesuksesan pembelajaran daring pada masa pandemi Covid-19 ini tergantung kedisiplinan semua pihak. Komunikasi pihak sekolah dan orangtua yang baik akan mampu memantau pembelajaran daring peserta didik dari rumah secara efektif.

Peran orangtua sangat penting sekali dalam menujang keberhasilan pembelajaran daring peserta didik. Orangtua bisa memantau kegiatan belajar peserta didik dari rumah. Orangtua juga bisa membimbing anaknya dalam kegiatan belajar daring. Hal yang paling penting lagi adalah keterbukaan peserta didik kepada orangtuanya dalam hal pengerjaan tugas-tugas online yang diberikan. Maka dari itu, orangtua perlu mendampingi dan mengawasi kegiatan belajar daring anaknya dari rumah.

3. Peran Pemerintah

Pembelajaran daring yang sudah berjalan beberapa bulan ini tentunya menjadi sorotan pemerintah. Banyak terdapat opini dari para guru dan orangtua terkait pembelajaran daring ini. Dengan banyaknya permasalahan yang mucul, tentu pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah mulai memberikan solusi dari permasalahan ini. Solusi yang dirasakan sangat membantu dalam proses pembelajaran daring yaitu adanya bantuan kuota internet untuk para dosen, guru, mahasiswa dan peserta didik. Dengan adanya bantuan kuota internet dari pemerintah ini, diharapkan dapat mengurangi permasalahan belajar daring yang dialami oleh peserta didik.

Peserta didik bisa memanfaatkan kuota internet gratis dari pemerintah ini untuk melaksanakan pembelajaran daring. Seperti di sekolah saya, peserta didik bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh para guru dengan lancar. Dengan adanya kuota internet dari pemerintah ini diharapkan tidak ada lagi alasan peserta didik tidak mengerjakan tugas karena masalah tidak mempunyai kuota internet dan dengan adanya bantuan kuota internet ini diharapkan pembelajaran daring bisa berjalan dengan lancar.

Dengan adanya berbagai permasalahan dan solusi dari pembelajaran daring ini, maka harapan kita proses pembelajaran daring dapat berjalan dengan lancar. Semoga pendemi Covid-19 ini segera berakhir. Seluruh aspek kehidupan dapat berjalan kembali sebagaimana mestinya, begitu juga dengan dunia pendidikan. Peserta didik dapat bersekolah kembali, berinteraksi dengan para guru dan teman-temannya di sekolah. Karena para peserta didik adalah generasi emas penerus bangsa dan jangan biarkan kalah oleh Covid-19. (*)