Metropolis

643 Kasus DBD sepanjang Tahun, Batam Kota Sumbang Kasus Terbanyak

Didi Kusmarjadi (F. Dalil Harahap/Batam Pos)

batampos.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak periode Januari hingga Oktober 2020, mencapai 600 kasus dengan empat orang di antaranya meninggal dunia. Angka ini lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebanyak 564, dimana dua orang di antaranya meninggal dunia.

“Jika ditambah dengan bulan November ini, menjadi 643 kasus DBD,” ujar Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, Kamis (19/11/2020).

Catatan Dinkes, kasus DBD tertinggi sepanjang 2020 terjadi di Oktober dan Agustus yakni 88 kasus. Sementara, kasus terendah di April yakni 31 kasus DBD.

Kasus DBD di Kota Batam merata di setiap kecamatan. Namun, terdapat tiga kecamatan sebagai penyumbang pasien DBD terbanyak. Kecamatan Batam Kota menjadi daerah penyumbang DBD tertinggi yakni 66 kasus. Disusul Batuaji 49 kasus dan Sagulung dengan jumlah 36 kasus.

Adapun, kecamatan lainnya penyumbang kasus DBD ialah, Sekupang dan Nongsa dengan masing-masing 21 kasus. Seibeduk 15 kasus dan Batuampar serta Bengkong masing-masing 13 kasus DBD. Sedangkan Lubukbaja, 10 kasus DBD. “Tiga kecamatan lainnya yakni Belakangpadang, Galang dan Bulang belum ada kasus DBD,” tuturnya.

Upaya penanganan DBD terus dilakukan, salah satunya dengan rutin melakukan pengasapan atau fogging di lingkungan masyarakat.

Upaya pencegahan disamping mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan hidup sehat, juga penting dilakukan. Melalui 3M plus, menguras, mengubur dan menutup, membasmi ruang berkembangnya jentik nyamuk.

Petugas Puskesmas Botania Ketua RW 36 Perumahan Cendana melakukan pengecekan tempat yang bisa dijadikan sarang nyamuk, petugas juga memberikan imbauan kepada warga agar selalu membersihkan dan menguras barang dari genangan air, Sabtu (17/10/2020). Kegiatan ini dalam rangka mengantisipasi dan mencegah penyakit demam berdarah dangue. (F Cecep Mulyana/Batam Pos)

Di samping itu, pihaknya juga melakukan upaya pencegahan dengan mengaktifkan kembali gerakan 1 rumah 1 jumantik, penyuluhan oleh puskesmas pada masyarakat serta larvasidasi.

“Langkah terakhir untuk memutus mata rantai penukaran dengan melakukan fogging, fokus bila hasil penyelidikan epidemiologi puskesmas positif, serta koordinasi lintas sektor,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan, gejala dini DBD seperti panas badan mendadak tinggi selama 2-7 hari, nyeri di belakang bola mata, nyeri kepala, mual, dan muntah. “Sementara untuk tanda-tanda pendarahan seperti bercak merah pada lengan, mimisan, gusi berdarah, muntah darah, BAB berdarah serta syok,” pungkasnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra
Editor: Andriani Susilawati