Feature

Melihat Strategi Nelayan untuk Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

Tetap Melaut, Ikan yang Tak Terjual Dibudidaya di Keramba dan Berharap Covid-19 Berakhir

Pandemi Covid-19 yang masih mewabah sangat berdampak dengan para nelayan di Kota Batam. Mereka kesulitan menjual hasil tangkapan karena banyak restoran dan hotel yang tutup. Tak patah semangat, mereka tetap melaut dan inilah yang dilakukan dengan hasil tangkapan mereka.

batampos.id – Kelong tua reot di bawah rumah pelantar bekas bantuan rumah tidak layak huni (RTLH) jadi fokus perhatian haji Kamis, nelayan Pulau Akar, akhir pekan lalu. Dengan penuh hati-hati, pria tua ini memanjat tiang-tiang kayu yang sudah mulai lapuk. Tangannya menggenggam sebuah wadah kecil.

Begitu berdiri di atas jembatan kayu samping rumah kelongnya, dia langsung menuangkan isi dari dalam wadah tadi yang tak lain adalah ikan-ikan kecil hasil tangkapannya semalaman ke dalam keramba di bawah kelong rumahnya.

Sekilas kemudian suasana dalam kerambapun berubah riuh. Ratusan ekor ikan kerapu seukuran telapak tangan orang dewasa langsung berhamburan menyambut makanan yang dituangkan oleh haji Kamis tadi.

Ya pagi itu haji Kamis baru saja pulang melaut dengan membawa sedikit ikan-ikan hasil tangkapan yang ukurannya tak lebih dari jari tangan.

Ikan-ikan tersebut memang menjadi target pencarian haji Kamis sepanjang malam yang baru saja dilewatinya sebab, ikan-ikan besar hasil tangkapan sebelumnya membutuhkan pakan untuk bertahan di dalam keramba.

Inilah upaya haji Kamis dan kawan-kawan sekampungnya untuk tetap bertahan di tengah wabah virus Corona ini. Mereka sulit mendapatkan pasaran yang tepat untuk hasil tangkapan mereka sebab, banyak hotel dan restoran yang masih tutup atau mengurangi jumlah pembelian ikan atau udang selama pandemi ini mewabah.

Mereka tetap melaut namun jika mendapatkan tangkapan ikan besar seperti Kerapu dan sejenis mereka simpan di dalam keramba sambil menanti pembeli ataupun pasaran yang tepat. Mereka tak bisa langsung jual semua saat itu juga sebab, jumlah permintaan dari pengepul ataupun pihak hotel dan restoran menurun drastis selama Covid-19 mewabah.

“Jadi ikan-ikan kecil seperti ini juga tidak bisa kami jual semuanya, sebab harus disisihkan buat pakan ikan yang kita simpan di keramba,” kata haji Kamis.

Rutinitas seperti ini sudah berjalan sejak bulan Maret lalu dan hingga awal November ini belum berubah. Mereka masih bertahan dengan cara yang sama seraya berharap agar wabah ini segera berakhir.

Semenjak pandemi Covid-19 mewabah, kehidupan nelayan Pulau Akar pada umumnya bisa dibilang terkatung-katung. Mereka rutin melaut namun tidak bisa menghasilkan uang yang sesuai sebab pasaran untuk hasil tangkapan mereka sedang kacau balau.

Untuk bertahan mereka harus menghemat dan menjual murah separuh hasil tangkapan ke pengepul ikan yang ada di sekitarnya.
“Separuh harga turunnya. Ikan pasaran umumnya tak sampai Rp 10 ribu perkilo. Itu tadi pasaran yang sesuai lagi down. Restauran dan rumah makan banyak yang tutup. Kemana lagi mau kami jual kalau tak buang murah ke pengepul itu ” ujar haji Kamis lagi.

Apa yang dilakukan haji Kamis ini juga dilakukan 150-an kepala keluarga lain di Pulau Akar. Ikan hasil tangkapan yang bisa dibudidayakan disimpan dulu menunggu harga dan pasaran yang sesuai.

Untuk bertahan hidup mereka menjual seadanya meskipun dengan harga yang tidak sesuai.

Selain masalah pemasaran, masalah lingkungan juga jadi persoalan serius bagi nelayan pulau Akar saat ini.

Nelayan Pulau Akar membudidayakan ikan hasil tangkapannya di keramba di Pulau Akar. (f. Eusebius Sara/Batam Pos)

Maraknya aktivitas reklamasi di sekitar Jembatan II dan pulau-pulau terdekatnya mengharuskan nelayan untuk melaut ke laut dalam. Pesisir pantai dan hutan bakau yang sebelumnya surga bagi nelayan untuk mendapat ikan ataupun kepiting kini tak menjanjikan lagi.

Untuk tetap mendapatkan hasil tangkapan yang sesuai mereka harus bertaruh nyawa ke lautan dalam dengan alat tangkap yang seadanya. Perhatian pemerintah belum maksimal. Bantuan kapal ikan dari Menteri Susi sebelumnya tidak bisa digunakan sebab nelayan tak mampu melengkapi perizinan berlayar. Bantuan kapal ini hanya sebatas fisik kapal saja tanpa dibarengi perizinan berlayar.

“Kesejahteraan nelayan masih kurang diperhatikan. Kapal Ikan bantuan ibu Susi kemarin juga tak bisa digunakan. Urus izinnya puluhan juta. Ini yang harus diperhatikan lagi. Alat tangkap modern dan juga kelengkapan administrasi sangat dibutuhkan nelayan saat ini. Terus terang tak bisa lagi kami pakai alat tangkap tradisional karena laut di dekat sini tak bersahabat lagi. Reklamasi dimana-mana, hutan bakau dibabat,” ujar ketua RW 03, Pulau Akar Awang Rajab.(*)

Reporter: Eusebius Sara
Editor: Andriani Susilawati