Internasional

Terkena Covid-19, Pekerja Migran di Singapura Kabur dari Area Isolasi

Ilustrasi pelaksanaan tes Covid-19 di Singapura. Seorang pekerja migran asal India kabur dari area isolasi dan dinyatakan positif Covid-19. (F.JawaPos.com/Reuters)

batampos.id – Seorang pekerja migran yang merupakan pasien Covid-19 di Singapura kabur dari area isolasi. Alhasil dirinya didakwa dan dihukum pada Oktober lalu dengan tiga dakwaan di bawah Undang-Undang Penyakit Menular. Kini kasusnya masih terus bergulir di Pengadilan Negara.

Dilansir dari Channel News Asia, Kamis (19/11/2020), peristiwa itu terjadi saat Singapura menetapkan semi lockdown atau pemutus sirkuit (circuit breaker) pada 23 Mei. Ketika itu seorang pekerja migran yang diduga terpapar virus Korona meninggalkan tempat parkir mobil di Singapore General Hospital saat menunggu hasil tes Covid-19. Dia berjalan menuju Tiong Bahru dan naik bus umum ke Lower Delta Road.

BACA JUGA: Pelancong Asing di Singapura Kini Dapat Asuransi Perlindungan Covid-19

Dari sana, dia dikatakan naik taksi ke Terminal 1 Bandara Changi dan berbicara dengan staf bandara dan berkeliaran selama sekitar empat jam. Dia bernama Parthiban Balachandran, warga negara India berusia 25 tahun.

Berdasar lembar dakwaan di pengadilan, Rabu (18/11/2020), Parthiban, tersangka kontak kasus Covid-19, juga telah meninggalkan Asrama Jurong Penjuru 1 pada 16 Juni untuk melakukan perjalanan ke Bandara Changi dengan taksi. Asrama tersebut saat itu ditetapkan sebagai area isolasi Covid-19.

Di bandara, dia berbicara dengan staf untuk membeli tiket pesawat ke India dan tidur di sana. Dia juga dituduh melakukan perjalanan ke Tampines dan dia memasuki sebuah flat milik salah satu kerabatnya.

BACA JUGA: Ilmuwan Singapura Sebut Virus Corona Bertahan 3 Minggu di Makanan Beku

Dia keluar dari asrama selama kurang lebih 30 jam, dari sekitar pukul 5.50 pagi pada 16 Juni hingga sekitar tengah hari keesokan harinya. Jika terbukti bersalah, Parthiban terancam denda hingga SGD 10 ribu atau enam bulan penjara atau keduanya, karena melanggar Undang-Undang Penyakit Menular.(*)

Reporter : Jp Group
Editor : Dede Hadi