Nasional

Tim Gugus Mulai Data Penerima Vaksin

KARYAWAN Budi Dental Lab & Gallery, Legenda Malaka, Batam Kota, memakai pelindung wajah dan masker melindungi diri dari penyebaran virus Covid-19 Foto diambil Rabu (18/11). Saat ini tim gugus percepatan penanganan Covid-19 Batam mulai mendata penerima vaksin. (Yusuf Hidayat/Batam Pos)

batampos.id  – Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Batam mulai melakukan pendataan penerima vaksin. Rencananya pemberian vaksin akan dimulai awal 2021 mendatang.

Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Batam, Didi Kusmarjadi mengatakan, pendataan melibatkan kader dan perangkat RT setempat.

”Targetnya masyarakat. Terutama mereka yang berisiko. Pendataan baru mulai, jadi data belum tersedia untuk saat ini,” kata dia, Kamis (19/11).

Ia menyebutkan, nanti juga akan diurutkan kebutuhan vaksin berdasarkan kelas prioritas. Sementara ini, tenaga medis masih menjadi paling prioritas diberikan vaksin.

Hal ini karena mereka berhadapan langsung dengan pasien Covid-19. Diurutan kedua adalah orang yang berisiko tinggi terpapar seperti usia 50 tahun ke atas, setelah itu akan dilihat lagi skala prioritasnya.

“Kita data dulu. Setelahnya akan diurutkan sesuai skala prioritas,” ujarnya.

Pejabat sementara Wali Kota Batam, Syamsul Bahrum mengtatakan, pembentukan tim khusus persiapan vaksinasi awal tahun depan. Ia menyebutkan, tim akan memetakan lokasi-lokasi pemberian vaksin nantinya. Standar operasional (SOP) akan disusun sebaik mungkin, agar pendistribusian vaksin bisa berjalan dengan baik.

“Kemarin saya sudah rapat bersama Pak Didi juga. Dan mereka sudah punya data bahkan ada tim juga yang disiapkan dari awal sejak pandemi ini terjadi. Hanya perlu penyempurnaan saja termasuk melibatkan lurah, camat, hingga BTKLPP,” terangnya.

Syamsul mengakui, hingga kini informasi mengenai jenis vaksin juga belum ada. Menurutnya vaksin bisa berupa cairan yang disuntikan ke tubuh atau lainnya. Untuk itu, tim nanti akan menyusun mekanisme dengan mempertimbangkan jenis vaksin yang kemungkinan akan didistribusikan 2021 mendatang.

“Untuk lokasi nanti bisa diusulkan Puskesmas, Pustu atau rumah sakit. Bila perlu kita datangi warga pakai sistem jemput bola,” imbuhnya.

Menurutnya, pelaksanaan pemberian vaksin ini bisa menggunakan mekanisme Pemilu. Hal pertama tentu harus ada dana, ada petugas pengawasan, ada petugas pelaksanaan, serta lokasi penyelenggaraan vaksin itu sendiri.

“Jadi, untuk mempermudah kerja di lapangan, vaksinasi akan menggunakan cara tersebut, dengan harapan semua penduduk Batam mendapatkan vaksin tanpa terkecuali,” jelasnya.

Tidak itu saja, keselamatan vaksinator juga harus dipersiapkan. Mereka harus dibekali alat pelindung diri (APD) berupa baju hazmat selama bertugas. Hal ini tentu juga harus dihitung kebutuhannya. “Kita tidak mau tenaga medis maupun masyarakat yang divaksin ini terpapar virus,” ucapnya.

BACA JUGA: Desember, Dokter-Tenaga Kesehatan Divaksin Covid

Menurutnya, kemampuan satu orang dokter atau vaksinator hanya 50 orang. Dengan jumlah penduduk 1,3 juta, tentu harus dihitung berapa waktu yang dibutuhkan agar vaksinasi ini berjalan dengan baik.

“Tenaga dan waktu harus dihitung. Jadi sebelum vaksin tiba. Batam itu sudah siap dan tinggal jalan saja,” tambah Syamsul.

Petugas Kelelahan, Sampel Terus Berdatangan, Stok Reagen Menipis

Sementara itu, petugas di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas 1 Batam mulai kelelahan. Sedangkan, sampel tes usap terus berdatangan untuk diuji melalui PCR.

Dalam sehari, BTKLPP Batam bisa melakukan pengujian hingga 500 sampel. Bahkan lebih, apabila terjadi lonjakan kasus. Akibatnya, petugas di BTKLPP harus pulang hingga larut malam.

“Beberapa petugas sudah kelelahan. Lalu beberapa orang mulai sakit. Hari ini saja ada dua orang sakit,” kata Kepala BTKLPP Kelas I Batam, Budi Santoso, Kamis (19/11).

Kondisi ini diperparah dengan terbatas Sumber Daya Manusia (SDM) di BTKLPP. Padahal, sampel yang datang ke BTKLPP Batam dari berbagai daerah di Kepri. Budi mengatakan Pemerintah Provinsi Kepri pernah mengirimkan tenaga bantuan sebanyak 4 orang.

“Tapi yang bertahan dua orang, dua orang lagi mengundurkan diri,” ucapnya.

Ia mengatakan, BTKLPP Batam belum bisa mengajukan tambahan petugas. Karena harus menunggu anggaran di 2021.

“Harapan kami pemerintah daerah memberikan support tenaga kerja ke kami. Karena apabila ada petugas yang sakit, irama kerja di BTKLPP akan terganggu,” ungkapnya.

Irama kerja yang terganggu, tentu menurunkan jumlah pemeriksaan sampel tes usap. Budi mengatakan, ada beberapa kasus yang membuat petugas lembur hingga larut malam.

“Misalnya ada yang mau melahirkan, atau kondisi pasien memburuk bahkan meninggal. Pemeriksaan sampel pasien-pasien ini menjadi prioritas, agar penanganannya juga cepat,” tuturnya.

Saat sampel prioritas ini masuk, jam kerja petugas menjadi lebih lama di bandingkan hari biasanya. Budi mengaku bahkan BTKLPP harus menerapkan tiga shift.

Selain tenaga kesehatan yang mulai kelelahan dan sakit, Budi juga mengatakan reagen ekstraksi juga sudah menipis. Saat ini, BTKLPP hanya memiliki 4.000 reagen ektraksi. Diprediksi hanya tahan untuk beberapa hari ke depan.

“Sedangkan untuk reagen PCR, masih cukup hingga akhir Desember,” tuturnya.

Budi mengaku sudah meminta bantuan ke pemerintah daerah untuk memenuhi stok reagen. Namun, hingga kini belum dipenuhi. “Reagen ini tak tersedia, yah kami tidak bisa melakukan uji sampel,” tuturnya.

Budi berharap, bantuan sampel reagen dapat sesuai dengan PCR yang dimiliki BTKLPP Batam. Untuk reagen PCR, BTKLPP menggunakan merek allplex, Biosansore, dan Diaplex. Sedangnan reagen ekstraksi menggunakan merek Xiamp.

“PCR yang kami miliki cocoknya dengan reagen itu. Kalau diluar itu masih bisa, tapi harus mencampurkan berbagai alat lagi. Tapi jenis yang saya sebutkan tadi, pemeriksaan sudah langsung jalan,” tututnya.

Terkait permintaan reagen ini, diamini Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Mohammad Bisri. Ia mengatakan sudah mendapatkan persetujuan dari Sekda Provinsi Kepri, agar mengutang reagen.

“Sudah ada instruksi. Jadi kami ambil dulu reagennya,” tutur Bisri.

Saat ini, anggaran penanganan Covid-19 mulai menipis. Sehingga begitu reagen habis, pemerintah daerah kerepotan untuk membeli reagen.

Bisri mengatakan, sudah meminta bantuan dari BNBP juga terkait stok reagen di Kepri. Ia berharap bantuan ini bisa segera datang.

Satbrimob Polda Kepri Kembali Lakukan Disinfektan

Di tempat terpisah, Subden Kimia, Biologi, dan Radioaktif (KBR) Gegana Satbrimob Polda Kepri semakin gencar melakukan sterilisasi ke pemukiman warga demi memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19. Sterilisasi ini berupa penyemprotan cairan disinfektan ke pemukiman yang sudah terkontaminasi dengan Covid-19.

Sterilisasi terakhir dilakukan di Perumahan Victoria, Kelurahan Tanjungriau, Kecamatan Sekupang, Kamis (19/11) siang. Di sana tim Subden KBR keliling perumahan dengan kendaraan khusus yang disediakan untuk melakukan penyemprotan.

Rumah dan pekarangan rumah warga disemprot satu per satu. Petugas yang melakukan penyemprotan menggunakan peralatan keselamatan yang lengkap sesuai dengan anjuran protokol kesehatan yang ada.

Kasubden KBR Detasemen Gegana Satbrimob Polda Kepri, AKP Z.A.C. Tamba kepada wartawan menyampaikan, sterilisasi ini juga sejalan dengan sosialisasi penerapan pola tiga M yakni menjaga jarak, mengenakan masker, dan mencuci tangan. Masyarakat yang rumah dan lingkungannya didatangi diminta untuk tetap patuhi protokol kesehatan yang ada sebagai upaya untuk menghentikan laju penyebaran wabah ini.

“Itu sudah komitmen kita dari awal agar wabah ini segera berakhir. Kita tidak saja menyemprot tapi juga mensosialisasikan penerapan protokol kesehatan di lapangan,” ujarnya.

Sterilisasi yang sudah dilakukan tim Subden KBR sudah cukup banyak mulai dari lingkungan pemukiman, perkantoran, hingga rumah ibadah. Sterilisasi ini akan terus berlanjut sampai wabah ini benar-benar berakhir.

“Selama masih ada wabah ini ya kita tetap melakukannya. Ini tugas kita bersama untuk melawan pandemi ini,” katanya. (*)

Reporter: Yulitavia, Fiska Juanda, dan Eusebius Sara
Editor : Jamil Qasim