Home

3 Warga DIY Tuntut MK Legalkan Ganja untuk Medis

Gedung makamah Konstitusi di Jakarta. (F. voi.id)

batampos.id – Upaya melegalkan ganja khusus untuk kebutuhan medis telah sampai ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tiga warga DIY mengajukan uji materi pasal 6 ayat 1 dan pasal 8 ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Sebab, mereka memerlukan ganja untuk terapi pengobatan anak-anaknya.

Ketiganya adalah Dwi Pertiwi yang anaknya menderita pneumonia, Santi Warastuti (ibu dari anak penderita epilepsi), dan Nafiah yang memiliki anak divonis cerebral palsy. Bersama sejumlah ormas, mereka mengajukan gugatan itu ke MK.

Ketiganya menyatakan perlu obat-obatan berbahan dasar ganja sebagai terapi. Hanya, pengobatan tidak dapat dilanjutkan. Pasalnya, penggunaan ganja untuk medis di Indonesia dilarang dan memiliki konsekuensi pidana.

Erasmus Napitupulu, kuasa hukum pemohon, mengatakan bahwa dua pasal di UU Narkotika tersebut menghilangkan hak kliennya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara maksimal. Sehingga dinilai bertentangan dengan UUD 1945.

BACA JUGA: Peredaran Narkotika Tetap Marak

”Sebagaimana telah diatur pasal 28H ayat 1,” ujarnya dalam berkas gugatan kemarin (20/11).

Menurut Erasmus, UU Narkotika sebenarnya membuka peluang penggunaan narkotika untuk pelayanan kesehatan. ”Ternyata penggunaan dibatasi berdasar penjelasan pasal 6 ayat 1 dan 8 ayat 1,” lanjut dia. Imbasnya, pemanfaatan ganja untuk pengobatan atau pelayanan kesehatan tidak dapat dilakukan di Indonesia.

Padahal, saat ini setidaknya ada 40 negara yang telah melegalkan ganja untuk kepentingan pengobatan. Antara lain Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. ”Terapi terhadap penyakit tertentu yang menggunakan narkotika golongan I telah ada dan digunakan,” ungkapnya.

Lagi pula, Konvensi Tunggal tentang Narkotika 1961 tidak melarang penggunaan untuk kebutuhan medis. Bahkan, WHO pun memperbolehkan penggunaan zat turunan ganja untuk keperluan kesehatan. Atas dasar itu, pihaknya berharap MK mengizinkan penggunaan ganja untuk kepentingan kesehatan dan ilmu pengetahuan. (*)

Reporter: Jpgroup
Editor: Ryan Agung